Perangi Pandemi COVID-19, Mahasiswa UMY Terjun Jadi Relawan

Maret 30, 2020 oleh : BHP UMY

Tenaga kesehatan merupakan garda terdepan dalam penangan pandemi COVID-19 yang sedang terjadi sekarang ini. Namun, kurangnya tenaga kesehatan di Indonesia masih menjadi hambatan. Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerjasama dengan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) menggalang dukungan sukarela dari para mahasiswa untuk gotong-royong membantu jalannya penanganan pandemi COVID-19 ini melalui program relawan.

Sebanyak 15.000 mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan dari berbagai universitas mengikuti program relawan ini, termasuk diantaranya mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dari empat program studi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, total mahasiswa yang mengikuti program relawan ini adalah 24 orang. Diantaranya adalah Kevin Danudoro dari prodi Pendidikan Dokter angkatan 2017, M. Romzi Nabil Agustam dari prodi Pendidikan Dokter Gigi angkatan 2019, dan Arif Aynul Hakim Adil dari prodi Farmasi angkatan 2017. Ketiganya dihubungi tim Biro Humas UMY pada Senin (30/3) menjelaskan mengenai pelatihan dan tugas yang dilaksanakan mereka sebagai relawan.

Pada program relawan ini, ada beberapa bidang yang dapat dipilih peserta yaitu Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), tracking, screening, dan penanganan pasien. Namun, para relawan mahasiswa kesehatan sesuai dengan kompetensinya diarahkan untuk memilih bidang Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE). Kevin Danudoro menjelaskan dalam melaksanakan kegiatannya, ia dan relawan mahasiswa melakukan peran dalam pemasifan edukasi dan informasi secara online. “Seperti yang sudah dianjurkan pemerintah untuk melakukan work from home maka kami melakukan KIE ini secara online, jadi kami para mahasiswa kemungkinan tidak akan diterjunkan langsung ke rumah sakit yang membutuhkan karena hal tersebut belum menjadi kompetensi kami,” ungkapnya.

Hingga saat ini, para mahasiswa yang mendaftar menjadi relawan masih menjalani pelatihan yang diberikan oleh Ditjen Dikti, Kementerian Kesehatan, World Health Organization (WHO), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, dan narasumber lainnya. “Sejauh ini kami sudah mendapat 3 kali pelatihan dengan berbagai macam materi. Untuk lama pelatihannya sendiri, kami belum tahu akan sampai kapan dilaksanakan, sebelum akhirnya kami diterjunkan sebagai relawan,” tambah Arif Aynul Hakim.

Dalam mengikuti program relawan ini, M. Romzi mengungkapkan motivasinya. “Saya ingin bisa bermanfaat bagi orang lain karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi sekitarnya, apalagi saat ini Indonesia sedang mengalami krisis global yang seharusnya kita hadapi bersama. Dan saya sebagai mahasiswa ingin ikut andil dalam menghadapi krisis ini”.

Selaras dengan yang disampaikan Romzi, Arif dan Kevin juga mengaku bahwa keikutsertaan mereka dalam program relawan ini adalah ingin berkontribusi bagi lingkungannya dan juga menerapkan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan selama berkuliah di rumpun ilmu kesehatan. Orang tua dari ketiga mahasiswa tersebut pun memberikan lampu hijau bagi mereka dalam mengikuti kegiatan relawan dengan syarat bisa bertanggung jawab atas apa yang dipilih dan bisa menjaga diri sendiri. (ays)