Pendidikan Fondasi Utama dalam Membangun Organisasi Massa Islam di Indonesia

September 19, 2019 oleh : BHP UMY

Organisasi Massa (Ormas) Islam di Indonesia memiliki karakteristik unik yang berbeda dengan negara-negara lain. Organisasi Islam di Indonesia memiliki ciri khas dengan etnis tertentu, letak geografis dan keterkaitan dengan politik. Bahkan, ormas Islam di Indonesia memiliki peran cukup besar dalam pembangunan negara. Hal tersebut disampaikan oleh Kevin W. Fogg, PhD peneliti dari University of Oxford Inggris saat menjadi narasumber Stadium Generale bertajuk “Education as the Cornerstone of Mass Islamic Movements in Indonesia: History, Comparisons, and Consequences”. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam UMY pada hari senin (16/9) di Ruang Sidang Direktur Pascasarjana Gedung Kasman Singodimedjo UMY.

Menurut Kevin, ada empat faktor yang menjadi penyebab uniknya karakteristik Ormas Islam di Indonesia. Pertama, Ormas Islam di Indonesia secara keorganisasian memiliki bentuk serta cakupan yang besar sekaligus sifat gerakan yang komprehensif dan influential. Hal tersebut bisa dilihat khususnya dari dua ormas besar utama seperti Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama melalui amal usaha di bidang pendidikan hingga kesehatan. “Muhammadiyah menurut saya lebih komprehensif dari ormas Islam Indonesia yang lainnya. Bagaimana Muhammadiyah dengan amal usahanya mampu membiayai berbagai gerakan sosial yang dibutuhkan oleh masyarakat, from birth till burial,” tegasnya.

Faktor kedua adalah bentuk yang modern. Dalam konteks ini, Kevin menegaskan bahwa ‘modern’ yang dimaksudkan adalah ditinjau dari bentuk keorganisasian. Seperti halnya Muhammadiyah yang terdiri dari Pimpinan Pusat hingga Ranting, juga kepemimpinan yang berbasis pemilihan atau formal electoral process. Walaupun, ada beberapa organisasi Islam di Indonesia yang masih dianggap tradisionalis dalam hal pemilihan pemimpin karena masih berbasis keturunan atau trah seperti Jamiatul Khairat, NU, dan Nahdhatul Wathan. “200 tahun yang lalu, organisasi mana yang mempunyai posisi formal struktural seperti yang ada di Indonesia saat ini? Organisasi Gulen di Turki, mereka modern karena mereka punya media, punya lembaga pendidikan dan lain-lain. Tapi kepemimpinan masih dipegang oleh satu tokoh atau kepemimpinan kharismatik. Muhammadiyah kita tahu sudah memakai kepemimpinan yang rasional dan menurut saya ini sangat modern,” jelasnya.

Ketiga, dalam aspek eksternal, Organisasi Islam di Indonesia cenderung terpisah dari pemerintah. Walaupun, mereka tetap mengikuti hukum pemerintah, namun mereka mendapatkan kebebasan dalam melakukan aktivitasnya. Berbeda dengan ormas Islam di negara lain yang diatur sangat ketat oleh pemerintah sehingga tidak memiliki kebebasan mengutarakan gagasan-gagasannya. “Contohnya, di Malaysia, Brunei, Kuwait, Oman, Iran, Qatar dan Saudi. Keterkaitan mereka dengan pemerintah sangat kuat salah satunya dalam hal funding. Inilah salah satu yang membuat mereka tidak bebas. Dari pembangunan masjid hingga pendidikan disponsori oleh pemerintah,” tutur Kevin.

Faktor terakhir adalah, bahwa Organisasi Islam Indonesia pun cenderung tidak melakukan perlawanan terhadap pemerintah ataupun sebaliknya. Menurutnya, organisasi Islam Indonesia mampu mendukung ideologi negara dan juga melakukan berbagai kolaborasi dengan pemerintah dalam hal pembangunan negara.