Muhammadiyah dan Sepakbola : Sejarah dan Masa Kini

Maret 2, 2020 oleh : BHP UMY

IBTimes.id – Lapangan Asri yang terletak di bilangan Wirobrajan, Kota Yogyakarta adalah lapangan yang legendaris. Lapangan ini dibangun oleh Ir. Soeratin Sosrosoegondo, yang kemudian hari dikenal sebagai ketua umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pertama. Di lapangan ini pula, umat Islam melakukan sholat ied setiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, sehingga Asri sering diasosiasikan dengan akronim Arena Sholat Riyaya.

Di lapangan ini, klub sepakbola Hizbul Wathan (yang selanjutnya disebut dengan PS HW) berlatih dan bermarkas. Klub ini di Yogyakarta menjadi klub internal Persatuan Sepakbola Indonesia Mataram (PSIM). Pada perkembangannya, PS HW berlaga di Liga 3 dengan menggunakan nama PS HMY UMY, setelah bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

***
Sejarah sepakbola Indonesia dan Muhammadiyah memang beririsan sejak sepakbola berkembang di masa kolonial. Bendahara pertama PSSI adalah Abdul Hamid, seorang tokoh dan pengurus pusat Muhammadiyah. Bersama Soeratin dan perwakilan perserikatan dari berbagai kota, mereka mendirikan PSSI di tahun 1930. Dari sini kita bisa memahami mengapa Soeratin menjadi arsitek pembangunan lapangan Asri.

Jejak Muhammadiyah juga bisa dilacak di Solo. Muhammadiyah memiliki simbiosis yang erat dengan Persatuan Sepakbola Indonesia Surakarta (Persis) Solo. Muhammad Ilham Syifai dalam artikelnya berjudul Simbiosis Persis Solo dengan Harakah Muhammadiyah, yang termuat dalam buku Merawat Sepakbola Indonesia(2019), menulis bahwa Kiprah Muhammadiyah kepada Persis terlihat ketika klub kebanggaan warga Solo ini belum memiliki kantor.

Sebelum tahun 1954, Balai Persis belum berdiri. Muhammadiyah menyediakan sepetak ruang di Balai Muhammadiyah Solo sebagai kantor Persis. Muhammad Ilham Syifai menyebut bahwa nama kantor sekretariat yang digunakan Persis, identik dengan nama gedung milik Muhammadiyah, yaitu “Balai”.

***
Kiprah Muhammadiyah melalui amal usahanya kembali terjadi pada era Liga Indonesia. Tahun 2000, Arema Malang mengalami kesulitan untuk berlaga di babak delapan besar. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberi bantuan kepada klub kebanggaan warga Malang ini. Arema Malang pun bisa berlaga dengan bantuan keuangan UMM.

Saat kompetisi sepakbola kembali digulirkan pasca konflik berkepanjangan yang mendera PSSI, PSIM Yogyakarta yang mengalami kesulitan finansial untuk berlaga di Liga 2 di tahun 2017 mendapat bantuan dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Kepala Biro Finansial dan Aset UAD, Afan Kurniawan menyebutkan bahwa kiprah UAD membantu PSIM melalui skema sponsorship dilatarbelakangi alasan bahwa kampus UAD terletak di dekat Mandala Krida yang menjadi kandang PSIM, dan yang terutama adalah mengembangkan sepakbola profesional Indonesia. Sebelum menjadi sponsor PSIM, UAD telah mengelola klub Liga 3 bernama UAD FC.

***
Di Sleman, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) membantu PSS Sleman dengan memberikan kerjasama penyediaan fasilitas, terutama fisioterapi bagi para pemain PSS di tahun 2019. Kampus yang dikelola ‘Aisyiyah dikenal memiliki fasilitas fisioterapi yang berkualitas. Tim nasional sepakbola Indonesia dan beberapa pemain Liga 1 pernah menjalani terapi di UNISA, salah satunya adalah David Da Silva, penyerang Persebaya Surabaya.

Kiprah UNISA bagi kompetisi sepakbola amatir yang dikelola Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Sleman adalah dengan menjadi tim medis selama kompetisi berlangsung. Ini menjadikan kompetisi sepakbola di Sleman menjadi lebih hidup, karena tersedianya fasilitas medis yang mencukupi. Tidak mengherankan, tim PSS U-17 yang menjadi wakil DIY dalam Piala Suratin berhasil menjadi juara 3 nasional.

Wahyudi Kurniawan, wakil ketua umum Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Daerah Istimewa Yogyakarta mengapresiasi langkah kampus Muhammadiyah mendukung sepakbola. “Kerjasama kampus-kampus Muhammadiyah dalam tata kelola sepakbola Indonesia dari Liga 1 sampai Liga 3 menjadi role modelbagi pengembangan sepakbola dan kampus,” jelasnya. Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik UMY menambahkan bahwa amal usaha Muhammadiyah yang lain, seperti rumah sakit, bisa ikut berperan mengembangkan sepakbola Indonesia dengan skema sponsorship, kerjasama maupun bahkan kepemilikan.

***
Bisa dibayangkan jika rumah sakit Muhammadiyah menjadi sponsor dengan menyediakan fasilitas kesehatan, terutama ambulans dan tenaga medis, maka klub-klub di berbagai kota tidak lagi mengalami kesulitan. Sebaliknya rumah sakit Muhammadiyah menjadi kian harum namanya di daerah masing-masing.

Bayangkan pula jika kampus-kampus Muhammadiyah menyediakan beasiswa bagi para pemain akademi sepakbola yang ada di klub Liga 1, bahkan jika perlu dibuatkan kelas khusus olahraga. Para pemain akademi tetap bisa menjalani pendidikan formalnya, dan nama kampus akan selalu dikenang oleh klub beserta para penggemarnya. Lapangan sepakbola yang ada di kampus bisa ditingkatkan kualitasnya, sehingga bisa menjadi lapangan latihan klub. Kampus bisa menjadi sponsor melalui skema ini.

Peran serta aktivitis Muhammadiyah dalam sepakbola, sebagai pengurus PSSI, pemilik/pengurus klub, pemilik/pengelola sekolah sepakbola dan sebagainya bisa menjadi model skema lain dari pengembangan kiprah Muhammadiyah di masa mendatang.

Di Sidoarjo, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menjadi sponsor bagi Persebaya U 19 dengan menyediakan beasiswa bagi para pemain. Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) menjadi sponsor Persebaya. Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur bahkan mengambil langkah membeli Semeru FC dan menjadikannya sebagai PS HW Jawa Timur.

Liga Hizbul Wathan yang digulirkan menyambut Muktamar Muhammadiyah tahun 2020 bisa menjadi jembatan emas bagi klub-klub yang dimiliki Muhammadiyah yang ikut serta di dalamnya untuk berkembang menjadi klub Liga 3, menapak jejak UAD FC dan PS HW UMY.

 

 

Sumber – https://ibtimes.id/muhammadiyah-dan-sepakbola-sejarah-dan-masa-kini/