Menyemai Pendidikan Karakter Melalui Literasi

April 30, 2019 oleh : BHP UMY

Literasi bisa menjadi media pengembangan pendidikan karakter, sebagaimana yang dilakukan oleh dua dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (IK UMY), Dr. Filosa Gita Sukmono dan Dr. Fajar Junaedi. Keduanya melakukan kegiatan literasi dengan memfasilitatori para guru sekolah dasar di Banguntapan, Bantul, Yogyakarta untuk menulis buku yang berisi pengalaman para guru menerapkan pendidikan karakter. Buku yang berjudul ‘Menyemai Pendidikan Karakter, Merawat Sekolah Inklusif’ di-launching pada hari Minggu kemarin (28/4) bertempat di SD Muhammadiyah Karangturi, Bantul.

“Para guru secara langsung menerapkan pendidikan karakter. Banyak pengalaman dari para guru yang menarik untuk dibagikan sebagai best practices pendidikan karakter,” jelas Filosa tentang latar belakang kegiatan literasi yang mereka lakukan. Filosa menambahkan bahwa kegiatan literasi penulisan ilmiah bagi guru ini berlangsung dalam beberapa tahap, yaitu workshop penulisan, penyuntingan buku, penerbitan buku dan launching buku yang berlangsung satu setengah bulan.

Sebanyak tiga puluh lima guru sekolah dasar terlibat dalam penulisan buku yang memiliki ketebalan hampir 200 halaman ini. “Guru yang mengikuti program ini sebanyak tiga puluh lima orang, dari SD Muhammadiyah Karangturi dan sekolah lain di sekitarnya. Program ini adalah program pengabdian masyarakat unggulan yang difasilitasi oleh LP3M UMY, dimana kami bekerja sama dengan SD Muhammadiyah Karangturi sebagai mitra,” tambah Filosa. Filosa juga menerangkan bahwa program ini merupakan wujud caturdarma UMY, terutama di ranah pengabdian dan kemuhammadiyahan.

Yang menarik, buku Menyemai Pendidikan Karakter, Merawat Sekolah Inklusif mendapat kata pengantar dari Mendikbud, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, dan Rektor UMY, Dr. Ir. Gunawan Budianto, MP. Kepala SD Muhammadiyah Karangturi, Indrawasih SE, S.Pd menyatakan bahwa program literasi ini sangat bermanfaat bagi para guru. “Pengalaman menulis buku tentu saja sangat berharga bagi guru, terutama dalam pengembangan pendidikan karakter dan juga sekolah inklusif,“ ujar Indrawasih. (CDL)