Media Dakwah Kreatif Untuk Menangkan Perhatian Masyarakat

Oktober 15, 2020, oleh: Humas UMY

Media dakwah kreatif di Indonesia berkembang seiring dengan kemajuan teknologi, yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat saat ini. Itulah dasar bagi para komunikator untuk mengembangkan dakwah melalui media yang disajikan dengan kemasan menarik agar memudahkan penyampaiannya ke masyarakat. Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengadakan sesi yang dinamakan sebagai Studium Generale, yang mengusung tema tentang Memetakan Landscape Media Dakwah Kreatif di Indonesia, dan ditujukan untuk mahasiswa baru tahun ajaran 2020-2021 sebagai calon komunikator dakwah di masa depan. Acara ini berlangsung secara online dan disiarkan melalui media Zoom serta Youtube Official KPI UMY, Kamis (15/10).

Prof. Andi Faisal Bakti, M.A., Ph.D, Guru Besar Komunikasi Islam sekaligus Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Kelembagaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengatakan di era sekarang dimana teknologi bergerak sangat cepat telah mempengaruhi generasi muda yang semakin lincah dalam menggunakan sosial media sebagai media komunikasi. Tapi menurutnya masih belum banyak yang memahami bagaimana berdakwah terutama bagi mereka yang menggunakan media sosial sebagai media dakwah. “Kreativitas media dakwah masih belum memadai. Landscape dakwah juga masih minim,” tuturnya.

Lalu apa alasan mengapa media dakwah kreatif penting di Indonesia, Prof. Andi menjelaskan bahwa sebagai mahasiswa KPI atau calon komunikator harus memahami dulu esensi media yang ingin mereka pergunakan. “Tentu saja ada banyak media dengan esensinya masing-masing. Ada media sebagai channel pemberi pesan, media sebagai trend culture tentang bagaimana manusia mengembangkan kreativitas, dan yang paling utama harus ditanam dalam benak adik-adik semua adalah media merupakan penentu keberhasilan komunikasi. Yang menentukan sebuah media berhasil diterima oleh masyarakat adalah kreativitas yang diolah oleh kreator, sehingga hal itu menarik dan dapat diterima dengan mudah,” sambungnya.

Dahulu, orang ketika akan berdakwah hanya terpatok pada media konvensional saja seperti Mimbar Masjid, lalu berkembang ke Televisi hingga melalui media Radio. Namun kini variasinya sudah banyak sekali, media sosial yang dianggap paling mudah dijangkau menjadi salah satu alat yang digunakan oleh pendakwah di era modern. Ketika berbicara media sosial, kini muncul banyak influencer yang datang dari kalangan artis/selebritas, atau bahkan anak-anak muda sekalipun dengan ide kreatifnya memberikan sajian menarik yang khusus membicarakan perihal agama baik itu melalui Vlog, Podcast dan juga TalkShow yang biasa kita lihat di Youtube.

Menurut Prof. Andi kemudian bahwa pendakwah bisa disebut juga sebagai influencer, yang tugasnya mengajak orang untuk berbuat kebaikan sesuai perintah Allah. “Harus kreatif dan menarik, tujuannya mengajak orang tapi tidak memaksa. Hanya sekedar menyampaikan kebaikan tidak untuk membuat orang berubah seketika pada keyakinannya tapi memberikan pengetahuan tentang indahnya Islam. Maka dari itu para da’i harus memiliki kemampuan membuat konten kreatif (editing, layouting, designing). Para da’i dapat bekerjasama dengan para praktisi media. Para da’i dapat bekerjasama dengan publik figur dari kalangan selebritis. Para da’i bekerjasama dengan influencer juga.”

Senada dengan pandangan Prof. Andi itu, Oki Setiana Dewi yang notabene berprofesi sebagai selebriti dan aktris yang sudah malang melintang di dunia pertelevisian Indonesia, dan merupakan salah satu tokoh perempuan yang getol berdakwah di depan kamera dalam kurun beberapa tahun terakhir, menceritakan pengalamannya selama berdakwah di depan layar kaca. Ia mengatakan selama ini saat bekerjasama dengan Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Khalid Basalamah dan beberapa ustadz lainnya, mereka menugaskan konten kreator untuk menyampaikan dakwahnya.

Oki juga menceritakan bagaimana salah satu program dakwah di Trans TV ‘Islam itu Indah’ dapat bertahan sampai 10 tahun terakhir. “Itu karena kreativitas yang dilakukan oleh tim mereka. Penyampaian dakwah di sana tidak hanya melalui monolog pendakwah dengan membahas satu tema sampai selesai, ada dialog tanya jawab dengan inovasi menjawab pertanyaan melalui media sosial. Tim kreatif sengaja melibatkan ustadz untuk berinteraksi langsung dengan jamaah melalui media sosial, pendekatan yang berdampak baik bagi kelangsungan acara tersebut. Jadi penonton dari cara itu tidak hanya berfokus pada media televisi saja namun dipecah di media sosial atau email juga. Namun inovasi itu tidak berhenti disitu saja, ada kemudian membuat segmen sirah yang bertujuan mengambil perhatian dan simpati penonton lewat cerita yang menyentuh.”

Maka dari itu fleksibilitas dakwah harus terus dilakukan dengan seiringnya perkembangan zaman. “Masyarakat tidak lagi dapat menangkap pesan dakwah hanya dari pendekatan konvensional saja, namun beralih dengan melalui media pengajian eksklusif dan sosial media,” tutup kakak kandung Youtuber Ria Ricis tersebut. (Hbb)