Mahasiswa UMY Berikan Inovasi Pencacah Serabut Kelapa Di Margosari

Juli 3, 2019 oleh : BHP UMY

Selama ini desain mesin pencacah serabut kelapa yang diproduksi oleh Margosari Mesin di Pengasih, Kulonprogo masih bersifat manual dan menggunakan mesin berbahan bakar bensin. Akan tetapi penggunaan mesin pencacah serabut kelapa itu belum ramah lingkungan karena menimbulkan polusi udara yang mengeluarkan hasil pembakaran berupa CO2 dan NOX dan polusi suara. Mesin yang berukuran terlalu besar pun menjadi kekurangan dari segi kenyamanan dan efisiensi penggunaan mesin tersebut.

Untuk menanggapi permasalahan itu, lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang terdiri dari Handoko Priono (D3 Teknik Mesin), Aditya Riska Nugroho (D3 Teknik Mesin), Dimas Setyawan (D3 Teknik Mesin), Muhammad Yusri Ilyas (D3 Teknik Mesin), Laili Maulidiyah (Agroteknologi), bersama dosen pembimbingnya Rinasa Agistya Anugrah, S.Pd., M.Eng melakukan kerjasama bersama mitra bengkel Margosari Mesin melalui kegiatan Program Kegiatan Mahasiswa bidang Penerapan Teknologi (PKM-T) yang berjudul PESPA: Inovasi Pencacah Serabut Kelapa dengan Motor Listrik Bebas Polusi Sebagai Solusi Pembuatan Produk Rumah Tangga dan Pupuk Pertanian. Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan inovasi pada mesin yang diproduksi Margosari Mesin demi meningkatkan kenyamanan dan efisiensi.

Kegunaan Margosari Mesin pencacah serabut kelapa itu adalah untuk membelah serabut kelapa menjadi dua bagian sehingga menghasilkan coco fiber dan cocopeat. Ketua PKM-T, Handoko Priono menjelaskan bahwa alat pencacah serabut kelapa sangat dibutuhkan bagi produsen yang memproduksi produk rumah tangga maupun pupuk pertanian, mengingat selama ini serabut kelapa hanya menjadi limbah dan kurang dimanfaatkan. “Serabut kelapa hanya menjadi limbah dan kurang dimanfaatkan oleh kebanyakan orang, padahal memiliki manfaat besar yang terkandung di dalam bagian dari pohon kelapa itu seperti halnya dijadikan sebagai pupuk,” ujar Handoko.

Dengan adanya alat PESPA, efisiensi pengunaan alat menjadi semakin besar dan mampu mengurangi beban biaya sehingga menjadi lebih murah. “Ada perbandingan besar yang mencolok antara penggunaan PESPA sebagai alat pencacah serabut kelapa dengan penggerak motor bensin. Untuk mesin yang digunakan Margosari menghasilkan pengeluaran sebanyak Rp. 2.864.160 per bulan, sementara PESPA hanya Rp. 154.669 per bulan dari segi perawatan,” imbuh ketua kelompok PKM-T itu.

Tentunya dengan memberikan inovasi pada alat yang diproduksi di bengkel Margosari mesin ini dapat memberikan profit yang lebih besar. Seperti untuk mengembangkan usaha, potensi hak paten dan potensi pengabdian masyarakat. “Kegiatan PKM-T ini diharapkan dapat memberikan solusi dari masalah yang dialami bengkel Margosari Mesin, sehingga pelanggan merasa nyaman dan senang dengan hasilnya,” tutup Handoko. (Hbb)