Latih Kesabaran Islami, Turunkan Kenakalan Remaja

Maret 26, 2019 oleh : BHP UMY

Era seperti saat ini, memang sudah tidak asing lagi dengan fenomena kenakalan pada remaja yang semakin banyak terjadi di kalangan remaja sebagai pelajar, sehingga diperlukan upaya mengatasi dan melakukan pencegahan. Diperlukan penanganan yang efektif untuk mengarahkan perilaku remaja ke arah yang positif, salah satunya adalah dengan latihan kesabaran yang Islami. Begitu kira-kira ulasan yang disampaikan oleh Risydah Fadilah dalam ujian terbuka sidang promosi doktor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang dilaksanakan pada Senin (25/03) bertempat di Gedung Pascasarjana lantai 1 UMY.

Kata kunci dalam kehidupan yang perlu diterapkan adalah tentang kesabaran dan pola asuh yang dibentuk. Dalam pemaparannya, Risydah menjelaskan dengan berangkat dari latar belakang masalah yang membahas mengenai pendidikan dan kesabaran yang dialami. “Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh-kembangkan potensi sumber daya manusia dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Hal tersebut juga sudah tertera dalam Undang-undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Bab 1 Pasal 1. Melihat jumlah remaja di Indonesia yang sangat banyak, semestinya memberi harapan bahwa pengetahuan, pandangan, cara berpikir, serta sikap remaja tersebut akan menjadi kebanggaan bagi orang tua,” paparnya.

Disertasi yang diajukan berjudul ‘Latihan Kesabaran yang Islami Untuk Menurunkan Kenakalan Remaja Ditinjau dari Pola Asuh SMPIT X Deli Serdang’. “Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya dan salah satu dari keinginan orang tua tersebut misalnya adalah pencapaian akademik yang baik seperti nilai yang bagus dan peringkat kelas yang tinggi melalui beberapa aturan dan disiplin dalam belajar. Namun pada kenyataannya, harapan seperti ini dapat memberikan tekanan dan beban berlebih pada anak dan terlebih bagaimana harapan ini diberikan melalui pengasuhan yang dilakukan,” tambah Risydah.

Risydah mengatakan jika penelitian yang dilakukan mengambil objek penelitian di salah satu Sekolah Menengah Pertama di Deli Serdang Medan. “Saya melakukan pengamatan di SMP Islam Terpadu dimana sekolah tersebut memiliki kekhususan kurikulum Departemen Agama dan juga Depdiknas sehingga penerapan latihan kesabaran yang menggunakan nilai-nilai agama Islam, nantinya akan lebih mudah terlaksana. SMP Islam terpadu adalah sekolah yang berupaya mengembangkan intelektual dan kepribadian anak dengan tetap menjadikan pesan Islam sebagai inspirator, sehingga anak memiliki akal cerdas, akhlak yang mulia, akidah yang benar dan aktivitas yang baik,” lanjutnya.

Selain itu, Risydah menyampaikan bahwa ada beberapa konsep sabar yang dijadikan skala pengukuran dalam penelitiannya. “Dimensi dan indikator dari beberapa konsep sabar yang saya maksud adalah mengenai keteguhan, yang mempunyai indikator keyakinan tentang apa yang sebaiknya dilakukan dan juga keberanian untuk mengambil resiko. Kedua adalah tabah, tekun, pengendalian diri, kegigihan, dan menerima kenyataan pahit yang memiliki indikator ikhlas dan bersyukur, serta sikap tenang yang tidak terburu-buru,” tandasnya. (CDL)