Kurangi Ketergantungan Pada Pestisida Kimia, Tim KKN 022 UMY Kenalkan Perawatan Tanaman Dengan Penggunaan PGPR di Dusun Koripan

Februari 3, 2020 oleh : BHP UMY

Banyaknya petani di Dusun Koripan yang bergantung pada pupuk atau pestisida kimia dalam perawatan tanaman seperti tanaman padi, tanaman hortikultura, dan tanaman keras, melatarbelakangi tim mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) Tematik Kelompok 022 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang berjumlah 9 mahasiswa menggagas program untuk menghilangkan ketergantungan pada pupuk di Padukuhan Koripan, Desa Poncosari, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Program ini hadir untuk mengenalkan metode perawatan yang aman bagi tanaman dan lingkungan yakni dengan penggunaan PGPR (PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA) kepada Kelompok Tani Ngundi Mulyo Dusun Koripan yang dilaksanakan pada Kamis (23/01).

Penanggung jawab kegiatan sosialisasi dan pelatihan PGPR, Muhammad Fauzi Andriyanto mengatakan pentingnya penggunaan PGPR khususnya untuk memperbaiki tanah yang terlalu sering menggunakan pupuk dan pestisida berbahan kimia. “PGPR merupakan agensi hayati yang dapat digunakan untuk memicu pertumbuhan tanaman, mencegah dan mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT), serta memperbaiki tanah yang terlalu sering menggunakan pupuk atau pestisida buatan pabrik,” ungkap Fauzi.

Program ini terdiri atas serangkaian tahapan. Tahapan pertama dimulai dengan melaksanakan sosialisasi mengenai PGPR. Kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan pelatihan pembuatan alat PGPR. Lalu diakhiri dengan pendampingan (monitoring) dalam hal penggunaan PGPR itu sendiri. Terkhusus pada tahapan pendampingan, pelaksanaan dilakukan pada minggu ke 4. Hal ini dikarenakan alat PGPR sendiri harus melalui proses fermentasi selama 14 hari agar mencapai standar yang sudah ditentukan. Dari sosialisasi dan pelatihan pada Kamis (23/01/2020), para warga Dusun Koripan yang tergabung dalam Kelompok Tani Ngudi Mulyo terlihat tertarik dan antusias untuk segera menggunakan PGPR tersebut sebab telah dipaparkan banyak temuan hasil tanaman yang lebih cepat tumbuh dan terlindung dari serangan hama.

Bahan utama yang dibutuhkan untuk menciptakan PGPR berasal dari akar bambu dan ditambah rebung bambu. Bakteri yang terdapat di kedua bahan tersebut akan diperbanyak dan dimurnikan di sebuah galon yang di dalamnya terdapat beberapa bahan pendukung antara lain; air matang, air leri (air cucian beras), kapur sirih, terasi, dan gula yang telah di haluskan serta alat aerator. Proses yang dibutuhkan ialah 14 hari kerja agar dapat dikatakan berhasil dan memperoleh kualitas terbaik. Indikator keberhasilan PGPR akan terlihat dari perubahan warna dan aroma yang menyerupai Minuman Tuak. Terkait penggunaanya pada tanaman pun relatif mudah dilakukan, hanya dengan cara menyiramkan cairan PGPR tersebut sesuai takaran ke tanaman padi, tanaman hortikultura, maupun tanaman keras yang sudah ditentukan. Pengaplikasian PGPR tersebut dianjurkan pada waktu pagi hari sebelum pukul 09.00 dan pada sore hari setelah pukul 15.00.

“Sepertinya PGPR menarik untuk dicoba dan diterapkan secara masif di Dusun Koripan, terlebih lagi presentasi hasil tanaman yang menggunakan PGPR memiliki kualitas yang baik. Diharapkan hama tanaman yang sekarang ini masih melanda sekitaran daerah Srandakan bukanlah menjadi suatu masalah bagi kami dalam bekerja,” tutur perwakilan Kelompok Tani Ngundi Mulyo, Khomi.

Dengan adanya program yang telah dilaksanakan oleh TIM KKN 022 UMY, pengenalan perawatan tanaman melalui PGPR, diharapkan dapat mengurangi penggunaan pupuk atau pestisida kimia. Terlebih lagi, bahan yang dibutuhkan untuk menciptakan PGPR tersebut terhitung murah meriah dan mudah didapatkan di sekitar rumah. Dengan demikian, tujuan akhir dari pengenalan PGPR kepada Kelompok Tani Ngudi Mulyo Dusun Koripan adalah mengubah pemikiran (mindset) yang dulunya bergantung pada pestisida kimia berubah ke arah metode perawatan alami dengan menggunakan agensi hayati yaitu dengan penggunaan PGPR. (hbb)