KKN Kader Muhammadiyah, Solusi Alternatif Lesunya Pimpinan Ranting dan Cabang Muhammadiyah-Aisyiyah

Desember 28, 2019 oleh : BHP UMY

Sebagai salah satu organisasi besar di Indonesia, Muhammadiyah telah memiliki anggota yang tersebar di berbagai pelosok tanah air. Ditambah lagi dengan berbagai organisasi otonom yang berada di bawahnya. Salah satunya adalah Aisyiyah yang juga memiliki puluhan ribu anggota di berbagai wilayah Tanah Air. Untuk itu program yang dilakukan oleh Pimpinan mulai dari Ranting harus tepat agar pertumbuhan Muhammadiyah terus masif.

Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P, IPM. mengatakan bahwa banyak Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) yang tidak aktif bahkan kehilangan anggotanya. Masalah ini seharusnya mendapat perhatian yang serius bagi seluruh kader dan lembaga Muhammadiyah.

“Ini memang menjadi keprihatinan kita bersama, ada beberapa teman kita yang mengatakan bahwa Muhammadiyah hidup menjelang muktamar. Artinya menjelang mukatamar akan bermunculan plang-plang Ranting dan Cabang Muhammadiyah dimana-mana yang baru. Tapi setelah itu hilang entah kemana,” katanya saat sambutan pada Sharing session UMY dalam pemberdayaan/pengembangan cabang dan ranting Muhammadiyah-Aisyiyah oleh Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UMY, Sabtu (20/12) di Gedung Ar. A UMY.

Gunawan pun melanjutkan bahwa perlu adanya inovasi dalam pengelolaan yang dilakukan antara Pimpinan Ranting atau Cabang Muhammadiyah dengan berbagai Perguruan Tinggi Muahammadiyah (PTM) di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa perlu diadakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama beberapa waktu untuk mengabdi kepada Pimpinan Muhammadiyah. Tidak aktifnya Pimpinan Muhammadiyah menyebabkan banyak amal usaha dan aset Muhammadiyah terbengkalai dan kemudian tutup.

“Sudah lama sebetulnya kita mencoba, bisa atau enggak ada KKN Persyarikatan yang dilakukan oleh adik-adik aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) untuk terjun ke Pimpinan Muhammadiyah. Nantinya mereka akan ditugaskan ke ranting, cabang atau amal usahanya. Dari survey yang dilakukan, kami mendapati terdapat sekolah yang mati dan gurunya banyak merangkap karena kekurangan anggota,” lanjut Gunawan.

Sekertaris Pimpinan Pusat Aisyiyah, Dr. Tri Hastuti Nur R., S.Sos, M.Si, juga menambahkan bahwa permasalahan yang dihadapi dengan Muhammadiyah juga sama, kurang aktifnya pergerakan pimpinan tingkat ranting kurang aktif. Untuk itu ia merasa perlu bantuan dari kader-kader Muhammadiyah yang tengah berkuliah di PTM.

“Kita mempunyai fasilitas berupa website yang tinggal dipakai. Tetapi tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh anggota Aisyiyah karena keterbatasan kemampuan. Oleh karena itu butuh sekali kemampuan dari yang lebih muda untuk mengarahkan,” ujarnya.

Saat ini Muhammadiyah memiliki 3221 Pimpinan Cabang pada tingkat kecamatan dan 8107 Pimpinan Ranting pada tingkat desa. Sementara Aisyiyah 2940 Pimpinan Cabang dan 8322 Pimpinan Ranting diseluruh Indonesia. Dengan adanya kontribusi dari aktivis Muhammadiyah yang ada di PTM secara berkelanjutan akan memberikan angin segar bagi pimpinan Muhammadiyah setempat. (ak)