KKN Internasional Learning Express UMY Kembangkan Potensi Wisata dan Produk Makanan di Kulonprogo

September 19, 2019 oleh : BHP UMY

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Learning Express (Lex) yang diikuti 67 peserta yang terdiri mahasiswa dari Singapore Polytechnic, Kanazawa Institute of Technology Jepang, dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta akan segera berakhir pada hari Jum’at (20/9). KKN Internasional Lex yang berlangsung di Dusun Beteng, Kelurahan Jatimulyo,Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo, DIY telah berhasil mengembangkan potensi wisata dan produk makanan.

Hilman Latief, MA., Ph.D, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan AIK mengapresiasi produk-produk dan solusi yang ditawarkan oleh mahasiswa-mahasiswa yang telah melaksanakan program pengabdian KKN Lex di Kulonprogo dengan melihat presentasi mahasiswa di gallery walk yang ditampilkan. ”Kami memberikan apresiasi kepada para mahasiswa yang telah memberikan dedikasi kepada masyarakat selama proses pengabdian di Dusun Beteng, Kulonprogo. Dengan mengeluarkan beberapa ide, atau menghasilkan produk inovasi baru, usaha para mahasiswa untuk belajar di desa dan memecahkan permasalahan dengan menawarkan solusi yang ada di desa tersebut,” ujar Hilman.

Hilman menambahkan bahwa program KKN Internasional ini perlu dilanjutkan melihat banyak mahasiswa yang sangat antusias ketika sedang melakukan kegiatan pengabdian dengan melihat ide dan gagasan yang dipaparkan di gallery walk. Gallery walk ini merupakan pameran program solusi kemasayarakatan berupa mind-mapping dan hasil karya mahasiswa selama melakukan kegiatan kemasyarakatan di Dusun Beteng, Kulonprogo. Hasil yang ditampilkan berupa strategi yang ditawarkan dilihat dari kondisi masyarakat, misalnya melihat permasalahan produksi sari buah salak yang dinilai sangat lamban dan berbahaya, kurangnya manajemen waktu, dan pendapatan yang tidak tetap. Oleh karena itu solusi yang ditawarkan dengan membuat alat penyaring yang lebih aman dan efisien dan dapat membantu meningkatkan bisnis melalui edukasi strategi pemasaran. Tidak hanya produksi sari buah salak, mahasiswa juga memberikan solusi terkait strategi pemasaran wisata dan produk jamur krispi.

Zulhaiman Zikri, mahasiswa Singapore Polytechnic menyampaikan bahwa adanya program KKN Internasional tidak sekedar program pengabdian kemasyarakatan namun juga belajar terkait budaya yang belum pernah dirasakan sebelumnya. ”Saya merasa senang dan berterima kasih dengan adanya program KKN ini saya bisa memberikan sesuatu kepada masyarakat, selain itu juga saya senang dengan masyarakat di sana yang ramah dan saya diajarkan budaya yang ada di sana,” tutupnya. (Sofia)