Isu Lingkungan Jadi Akar Masalah Terjadinya Bencana Alam di Indonesia

Februari 1, 2020 oleh : BHP UMY

Sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di daerah rawan bencana, dan berdasarkan kalkulasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hampir di seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi terdampak cuaca ekstrem. Yang artinya bahwa seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 285 juta jiwa membutuhkan edukasi terkait penanggulangan bencana dan bagaimana strategi yang tepat untuk mengatasinya. Hal itulah yang sekiranya menjadi konsentrasi BNPB ketika menyampaikan materi ‘Strategi Nasional Penanggulangan Bencana di Indonesia’ pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di Gedung AR. Fachruddin B Lantai 5 Kampus Terpadu UMY, Jumat (31/1).

Kasubdit Mitigasi Bencana BNPB, Muhamad Robi Amri memaparkan bahwa Indonesia menjadi negara kedua yang paling sering terkena bencana pada kategori gempa bumi setelah China. Hal ini membuat angka korban jiwa dari yang meninggal sampai tidak diketemukan cukup besar. “Statistik yang tercatat oleh BNPB bahwa cukup banyak korban jiwa baik yang meninggal dan hilang terhitung dari tahun 2009-2018 yakni sebesar 11 ribu jiwa. Sehingga dibutuhkan sebuah antisipasi dan penanganan serius, bagaimana agar angka korban tersebut bisa berkurang, dengan pengetahuan penanggulangan bencana yang baik,” ungkapnya.

Namun secara umum, kejadian bencana yang kerap kali terjadi atau menjadi poin utama di Indonesia sebenarnya adalah bencana Hidrometeorologi atau dengan kata lain kejadian bencana yang meliputi banjir, angin puting beliung, tanah longsor dan cuaca ekstrem. Akar masalah dari terjadinya bencana Hidrometeorologi itu adalah isu lingkungan, yang sejatinya dibuat sendiri oleh tangan-tangan manusia tidak bertanggung jawab. Seperti penebangan pohon yang masif di hutan Indonesia, pencemaran sungai, hingga Indonesia menjadi negara pencemar sampah plastik di laut terbesar kedua di dunia.

“Menurut beberapa ahli akar masalah dari bencana Hidrometeorologi adalah isu lingkungan. Bisa dilihat laju deforestasi (kegiatan penebangan pohon di hutan) sebanyak 1,5 juta hektare per tahun di Indonesia. Kemudian 2.145 DAS (Daerah Aliran Sungai) rusak, dan sungai-sungai di Indonesia statusnya tercemar akibat limbah-limbah domestik. Ini merupakan isu memprihatinkan, banyak kejadian-kejadian bencana yang terjadi belakangan ini akibat dari hal tersebut tanpa kita sadari dapat memberikan dampak jangka panjang. Sehingga lingkungan menjadi konsentrasi BNPB saat ini, yang jika tidak diperhatikan akan memberikan dampak berbahaya bagi generasi-generasi berikutnya.” imbuh Robi.

Sementara itu, pendekatan-pendekatan yang coba dilakukan oleh BNPB yang disampaikan oleh Robi terkait dengan penanggulangan bencana untuk lima tahun ke depan, adalah dengan meningkatkan tata kelola resiko bencana yang ada, kolaborasi pentahelix atau dengan melibatkan semua pihak. Karena bencana bukan tanggung jawab bersama melainkan bencana adalah urusan kita bersama, sertamemperhatikan laju perkembangan teknologi dengan adaptasi industri 4.0 yang baik. “Resiko bencana akan tetap ada selama kita beraktifitas, tapi dengan kesiapan dan monitoring, kita semua berharap bisa mengurangi resiko itu. Ke depan BNPB memiliki rencana dengan dukungan pemerintah pusat dan daerah untuk mewujudkan pariwisata aman bencana, keluarga tangguh bencana, dan hari kesiapsiagaan sebagai langkah antisipasi menganggulangi bencana. Dengan harapan masyarakat memahami betul kondisi lingkungan mereka sendiri,” tutupnya. (Hbb)