Berwirausaha Harus Pandai Mencari Momentum Dan Memiliki Determinasi Tinggi

Agustus 24, 2019 oleh : BHP UMY

Perkembangan zaman yang serba teknologi telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan, terutama soal ekonomi. Hingga era sekarang disebut sebagai era disrupsi yang mengharuskan individu memiliki inovasi baru agar tak tertinggal. Hal itu berlaku bagi pelaku usaha muda untuk pandai mencari momentum dan memiliki determinasi tinggi. Dalam menanggapi hal tersebut, Pemuda Muhammadiyah DIY mengadakan seminar nasional kewirausahaan bertemakan tentang dua hal “Kelas Inkubasi: Memulai Ide, Mengembangkan Inovasi, Telaten Menjalani” serta “Outlook Bisnis UMKM dan Geliat Perdagangan Pasca Pemilu 2019”.

Melalui kelas inkubasi diharapkan dapat menambah pengetahuan dan kemampuan wirausaha muda. Kemampuan wirausaha merupakan modal dasar bagi seseorang yang ingin bergerak di bidang usaha tertentu. Permasalahannya saat ini data pengangguran pemuda masih cukup tinggi, apabila tidak memperoleh perhatian yang serius mengakibatkan masalah sosial yang cukup tinggi pula. Beberapa masalah sosial yang diakibatkan oleh tingginya pengangguran diantaranya penyalahgunaan narkoba, kriminalitas, pergaulan bebas, premanisme, trafficing, dan lain sebagainya. Kondisi tersebut akan mengganggu pembangunan di segala bidang dan stabilitas nasional.

CEO Media Group News Muhammad Mirdal Akib yang menjadi pembicara dalam seminar nasional yang bertempat di Gedung AR Fakhrudin B Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (23/8), mengajak pemuda untuk berani berwirausaha dengan pandai mencari momentum dan memiliki determinasi tinggi. “Saat ini eranya adalah disrupsi atau perusakan, jadi mau tidak mau harus kreatif dan berkolaborasi dengan teknologi. Apalagi untuk yang ingin berwirausaha, harus bisa mencari momentum yang tepat dan memiliki determinasi tinggi istilahnya dalam agama Islam Istiqomah,” ujarnya.

Sementara itu, Agus Salim meminta untuk wirausahawan harus berpindah ke bisnis start-up demi menghadapi revolusi industry 4.0. “Sebagai wirausahawan harus mau berpindah, bukan pindah kantornya tapi pindah strategi dan pola bisnisnya. Contohnya dulu orang berbisnis berpikiran untuk memperbanyak aset, sekarang kebalikannya orang berbisnis tidak punya aset dengan mengeksplorasi publik atau memanfaatkan semaksimal mungkin seperti halnya dulu ojek atau taksi konvensional, sekarang bisnis ojek online tanpa armada. Jadi kita harus mempersiapkan secara matang,” tukasnya.

Sudah saatnya dilakukan perubahan paradigma berpikir di kalangan mahasiswa, dan pemuda yaitu dari pola pikir sempit mencari kerja setelah lulus kuliah menjadi pencipta lapangan kerja yang berbasis pada penciptaan usaha kecil dan menengah. Sehingga bangsa Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Oleh karena itu kami Pemuda Muhammadiyah bermaksud menumbuhkan jiwa Enterpreneur khususnya bagi Angkatan Muda Muhammadiyah dengan mengadakan workshop nasional dengan harapan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada yaitu untuk kemandirian perekonomian bangsa indonesia,” tutup Abey Mukti, Ketua Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah DIY. (Hbb)