Bahas Faktor Resiko Penurunan Harga Saham, IPACC UMY Hadirkan Dosen Tamu Dari Taiwan

Desember 4, 2019 oleh : BHP UMY

Bursa saham terkadang naik dan turun, namun bisa saja beruntung akan terus berada di atas jika memang dapat mengelolanya dengan baik. Pada kesempatan kali ini, International Program of Accounting (IPACC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mendatangkan dosen tamu dari National Central University (Taiwan) Hongming Huang, B.B.A., M.B.A., Ph.D untuk membahas risiko dalam kejatuhan harga saham.

Hongming memberikan contoh sebuah perusahaan akan berjuang keras untuk menutupi semua berita, hanya untuk menyelamatkan harga saham mereka. “Manajer perusahan akan menyembunyikan berita buruk untuk waktu yang lama demi menghindari efek buruk pada kompensasi, konsekuensi penurunan harga saham. Ketika akumulasi berita buruk akhirnya terungkap ke pasar, itu akan menyebabkan penurunan negatif yang besar pada kejatuhan harga saham (Stock Price Crash Risk),” ujarnya kepada mahasiswa IPACC UMY yang hadir di Ruang Amphiteater Lantai 4 Gedung Pascasarjana Kampus Terpadu UMY.

Stock Price Crash Risk sangat penting untuk dikendalikan dalam mengelola saham. Karena menurut Hongming terdapat risiko tinggi yang menyebabkan pengembalian tinggi kepada investor ketika harga saham tidak sesuai ekspektasi yang diharapkan. “Investor menuntut pengembalian yang diharapkan lebih tinggi pada saham mereka ketika terjadinya kemiringan harga saham, hal itu wajar dan dianggap sebagai hadiah dalam menerima risiko ini,” lanjut dosen National Central University Taiwan itu.

Kepanikan pada penurunan harga saham memang acap kali terjadi khususnya bagi investor yang takut kehilangan saham mereka, dalam hal ini Hongming menyebutkan bahwa peran pemimpin perusahaan dibutuhkan dan begitu krusial untuk menangani risiko terjadinya penurunan harga saham dan kehilangan investor. “Kepercayaan diri managemen yang berlebihan, usia CEO, kemampuan CEO sangat berpengaruh terhadap jatuhnya harga saham di masa depan. Dengan karakteristik itu, kabar buruk terkait saham dapat CEO tutupi dalam waktu yang lama, namun tentu saja itu membuat resiko tinggi kejatuhan saham di masa mendatang.”

Namun demikian, ketika kita bertindak sebagai investor bagaimana caranya untuk menghindari stock price crash risk di kemudian hari seperti yang ditanyakan oleh salah satu peserta, Hongming memiliki solusinya. “Sebagai seorang investor, sejak awal Anda harus memahami seluk beluk saham yang akan Anda investasikan. Mulai dari data historical saham tersebut apakah lebih banyak naik atau turunnya. Saya berharap Anda semua yang hadir dapat memiliki pemahaman yang baik terkait Stock Price Crash Risk, dan jika tertarik untuk menuliskan skripsi tentang hal ini dapat menghubungi saya lebih lanjut,” tutup Hongming. (Hbb)