Alumni Ilmu Komunikasi UMY Sajikan Kisah Anak Widji Thukul Melalui Film Dokumenter “Nyanyian Akar Rumput”

Januari 16, 2020 oleh : BHP UMY

Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi isu yang sangat penting untuk diperhatikan khususnya bagi pemerintah Indonesia agar segera menuntaskan kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada masa lalu ataupun hingga saat ini. Dilansir dari Komnas HAM bahwa sepanjang bulan Januari-April 2019 tercatat 525 kasus-kasus pelanggaran HAM, terlebih pada penyelesaian kasus-kasus masa lalu salah satunya kasus penculikan aktivis 1997-1998, sesuai hasil survei menyatakan bahwa 43,4 persen kasus belum tuntas. Selain itu masih banyak kasus masa lalu yang belum terselesaikan seperti kasus hilangnya Widji Thukul yang akhirnya menjadikan Alumni Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (IK UMY), Yuda Kurniawan tergerak untuk membuat film dokumenter musik “Nyanyian Akar Rumput” dengan menggunakan sudut pandang Fajar Merah, anak Widji Thukul dan keluarganya, yang mulai tayang di bioskop pada hari ini, Kamis, 16 Januari 2020.

Yuda Kurniawan, Sutradara film dokumenter “Nyanyian Akar Rumput” menjelaskan inspirasi dalam pembuatan film tersebut berawal dari pengetahuan tentang Widji Thukul serta karya puisinya sejak SMP dan ternyata Widji Thukul dinyatakan hilang setelah dua tahun pasca reformasi. ”Awal saya membuat film ini terinspirasi dari puisi-puisi karya Widji Thukul yang saya ketahui sejak SMP dan karya-karyanya itu dikoleksi oleh paman saya ketika kuliah di Yogyakarta. Sepulang kuliah, paman saya selalu membawa selebaran fotocopy puisi karya Widji Thukul, dari sana kemudian saya kenal karya beliau, walaupun belum terlalu mengerti tentang pribadi beliau. Kemudian setelah masuk era reformasi saya baru mengetahui kalau ternyata Widji Thukul, penyair yang pernah saya baca karya puisinya itu, ikut dihilangkan oleh Orde Baru. Dari kasus itulah kemudian sembari belajar di Yogyakarta, saya sempat terbesit untuk membuat film dokumenter tentang Widji Thukul,” ujar Yuda saat diwawancarai melalui telepon pada hari Selasa (14/1).

Kemudian, Yuda menceritakan awal bertemu dengan Fajar Merah dan kemudian memulai produksi film dokumenter tersebut. ”Pertengahan tahun 2013 saya dikenalkan dengan Fajar Merah dari sahabat saya Lexy Rambadeta yang juga sutradara film dokumentar dengan karya yang terkenal “Mass Grave” (2000). Dari situ saya baru mengetahui bahwa Fajar Merah itu ternyata anak dari Widji Thukul. Dan dia (Fajar Merah) memiliki band bernama “Merah Bercerita” dengan salah satu single lagunya yang berjudul “Pemadam Tembok” yang merupakan salah satu lagu dari gubahan puisi karya Widji Thukul. Kemudian, saya ke Solo untuk mencari tahu sosok Fajar Merah lebih dalam dan ngobrol dengan beliau serta keluarganya untuk membuat film ini,” jelas alumnus Ilmu Komunikasi UMY lulusan tahun 2006 ini lagi.

Film ini, menurut Yuda juga sebagai pengingat janji Presiden Joko Widodo yang sempat dikatakannya, terutama saat kampanye presiden tahun 2014 untuk dapat menuntaskan kasus Widji Thukul. “Dalam film ini, ketika kita berbicara dengan Widji Thukul, tidak terlepas dari pelanggaran HAM di Indonesia, dengan adanya penghilangan paksa, karena itu yang menjadi isu/kasus yang belum selesai hingga saat ini. Bahkan pemerintah era Jokowi yang dulu dielu-elukan oleh keluarga ini juga tidak bisa mnyelesaikan kasus tersebut. Oleh karena itu, hal tersebut yang menjadikan konsentrasi cerita dari film ini serta menceritakan posisi Fajar Merah sebagai anak Widji Thukul,” paparnya.

Selanjutnya Yuda menyampaikan pesan yang ingin sampaikan melalui film dokumenter musik ini. ”Pesan yang ingin saya sampaikan melalui film ini adalah bagaimana pemerintah harus bisa menyelesaikan kasus ini secepatnya. Bahkan Presiden Jokowi dulu sempat berjanji akan menyelesaikan kasus hilangnya Widji Thukul, namun sampai sekarang pun tetap tidak bisa terselesaikan. Saya ingin anak-anak milenial khususnya anak-anak muda itu tahu siapa sosok Widji Thukul dan bagaimana kiprah anaknya. Fajar Merah ini berusaha untuk menggelorakan puisi-puisi bapaknya melalui musik yang dia buat, jadi memang ini sebuah film dokumenter musik untuk anak-anak muda,” jelasnya.

“Harapan untuk para aktivis saat ini, khususnya bagi anak muda, dan mahasiswa, mereka harus bisa lebih kritis untuk melihat apa yang ada di sekitar mereka, baik isu sosial, ekonomi maupun politik. Dan juga lebih kritis terhadap pemerintah, khususnya bagaimana mendorong pemerintah untuk menyelesaikan kasus ini karena mereka harus tahu, mereka harus punya empati terhadap korban-korban pelanggaran HAM, khususnya pada keluarga ini,” tutup Yuda alumni UKM Kine Club UMY ini lagi.

Film dokumenter Nyanyian Akar Rumput ini juga merupakan Pemenang Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2018. Film ini dibuat dalam kurun waktu empat tahun sejak tahun 2014 hingga 2018. Film ini juga berhasil memenangi anugerah film lainnya baik di tingkat nasional maupun internasional. (sofia)