WSN Dapat Digunakan Untuk Disaster Management

September 16, 2015 oleh : BHP UMY

Tentu kita sudah tak asing lagi mendengar kata wireless, saat ini perkembangan wireless begitu pesat, apalagi di zaman sekarang yang hampir semua kegiatan melibatkan teknologi. Perkembangan wireless bukan terjadi baru-baru ini namun, wireless ini sudah ada sejak 15 tahun yang lalu. Jika sebelumnya wireless hanya digunakan sebagai pelengkap dalam hal teknologi yang berbasis komputer, saat ini kegunaan wireless atau kini lebih popular dengan Wireless Sensor Network (WSN) ini bukan hanya sebagai perangkat pelengkap tapi perangkat utama. “Hal yang paling umum digunakan saat ini misalnya seperti WSN ini digunakan untuk mendeteksi aktifitas gunung berapi, tentu saja ini dapat dibagi dari berbagai aspek. Misalnya aktifitas lava, aktifitas gempa bumi, dan aktifitas dalam perut bumi. Jadi ketika ada hal-hal yang mencurigakan data atau transferan data dari wireless ini dapat digunakan sebagai sebuah peringatan, “ terang Widyasmoro, S.T., M.Sc selaku dosen Teknik Elektro saat memberikan seminar tentang Wireless Sensor Network dihadapan 50 mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan University Malaysia Pahang (UMP) pada hari Rabu (16/9) di Stadium General Fakultas Teknik UMY.

Melihat contoh di atas, jelasnya, secara tidak langsung wireless ini dapat digunakan sebagai disaster management. Biasanya penggunaan wireless ini dikombinasikan dengan teknologi lain, misalnya dengan internet dan aplikasi. Kegunaan wireless ini tidak berdiri sendiri namun ada perangkat-perangkat pendukung untuk penggunaannya. “Misalnya jika kita mengukur volume tanah dengan air, tentunya kita membutuhkan beberapa perangkat, antara lain wireless, internet, dan komputer. Komputer ini digunakan untuk melihat data volume tanah yang data tersebut didapat dari transferan data dari wireless yang di pasang di area tersebut, “ jelasnya.

Adapun komponen dari WSN, yaitu CPU, Sensor, Radio, Actuatopil, dan Storage. Kelima komponen tersebut yang diperlukan oleh WSN. “Namun ada 3 komponen paling utama dari kelimanya yaitu CPU, Sensor, dan Radio. Perangkat lain dalam WSN adalah Mote, Mote ini adalah sebuah perangkat keras. Mote pun memiliki 3 komponen utama, antara lain Transceiver 400 MHz, Microcontroller, dan TinyOS. Dalam WSN ini memiliki beberapa komponen, hal ini guna mengaktifkan WSN yang akan digunakan, “ paparnya.

Wireless pun juga mengalami revolusi atau perubahan dalam bentuk, fungsi, dan kegunaannya. Secara prosesnya tidak berbeda jauh dengan sejarah komputer. “Hampir sama dengan sejarah komputer, jika dulu komputer itu berbentuk sangat besar dengan kekuatan yang terbatas, saat ini komputer lebih kecil bahkan kemampuannya sudah sangat luar biasa. Sama halnya dengan wireless, dulu wireless juga berukuran sangat besar, bahkan kekuatan volumenya hanya 200 inch. Saat ini semakin berkembangnya dunia teknologi, bentuk wireless sudah sangat kecil bahkan memiliki kemampuan lebih dari 200 inch,“ tuturnya.

Dalam segi kegunaan selain digunakan untuk melihat aktifitas gunung berapi, WSN ini sudah mulai digunakan untuk pengawasan lingkungan seperti, mengontrol suhu, kelembapan, dan air. Sedangkan untuk pengawasan industri, belakangan ini digunakan untuk intelegent building, smart home, dan bridge monitoring. “Misalnya dalam hal bridge monitoring, di mana jembatan tersebut diberi WSN untuk mendeteksi jika ada yang bermasalah dalam jembatan tersebut misalnya jika ada keretakan di jembatan tersebut jadi bisa ditanggulangi. Hal lain yang saat ini sedang berkembang adalah penggunaan sensor tubuh, di mana ketika tubuh merasa tidak sehat maka akan terbaca oleh data yang terhubung dengan computer dengan bantuan internet,“ tutupnya.