Wawancara Eksklusif Balon Rektor UMY – Dr. Ir. GUNAWAN BUDIYANTO, M.P.

Oktober 18, 2016 oleh : BHP UMY

wr1umy Dosen Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian ini lahir di Yogyakarta pada 20 November 1960. Pada tahun 1985, beliau telah menyelesaikan studi S1 di Universitas Gadjah Mada, tahun 1997 menyelesaikan studi Master di universitas yang sama, sedangkan program Doktor telah diselesaikan di Universitas Padjajaran pada tahun 2010. Dengan jabatan struktural saat ini, beliau menjabat sebagai Wakil Rektor I bidang akademik periode 2013- 2017, serta mengampu mata kuliah klimatologi dan ilmu tanah bagi mahasiswa S1 UMY. Selain itu, juga dipercaya untuk mengampu mata kuliah metopen bagi mahasiswa program magister ilmu pemerintahan UMY sejak 2013, dan etika bisnis bagi mahasiswa program magister manajemen UGM sejak 2012. Beberapa jabatan yang pernah diamanahkan kepadanya yaitu sebagai Pembantu Rektor tahun 2002-2006, Direktur Pascasarjana tahun 2010-2012. 

Apa visi misi bapak jika diberi kesempatan menjadi rektor UMY?
Visi saya itu sebetulnya ingin segera melakukan percepatan terhadap pencapaian visi UMY sendiri. Visi UMY adalah menjadi universitas yang unggul dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan berlandaskan nilai-nilai Islam demi kemaslahatan umat. Dengan hal ini saya ingin mempercepat agar UMY bisa didiskripsikan sebagai unggul dan islami, melalui proses aktivitas perkuliahan, manajerial, untuk mewujudkan lulusan yang betul-betul ada keseimbangan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan Islam. Itu adalah visi yang saya sampaikan. Jika ditanya apa visinya, saya ingin mempercepat melakukan akselerasi agar visi UMY segera bisa terwujud, karena itu penting. UMY merupakan salah satu perguruan tinggi Islam yang banyak diharapkan oleh masyarakat.

Nah, terkait misi yang ingin saya lakukan adalah saya ingin ada sebuah proses interaksi, seperti banyaknya matakuliah yang perlu diintegrasikan nilai-nilai keislaman kedalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini pendidikan harus mencetak tiga hal. Pertama adalah pewarisan dan penguasaan ilmu, yang kedua adalah penguasaan skill atau keahlian, dan yang ketiga adalah menciptakan perilaku. Jika perilakunya ini betul-betul perilaku Islam, ya kita harus mau melakukan kombinasi proses pengajaran yang menginteraksikan antara ilmu pengetahuan – teknologi, dan nilai-nilai keislaman. Tiga hal tersebut seolah-olah berjalan sendiri-sendiri, dan ini harus dikombinasikan. Apabila ketiganya bisa dikombinasikan, maka visi UMY betul-betul akan unggul dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berlandaskan Islam. Yang kedua, misi saya adalah terutama meningkatkan etos kerja dosen. Peningkatan tersebut dalam rangka untuk mempercepat proses pencapaian misi, misalnya dengan studi lanjut agar mempercepat. Kita berharap 30 persen dosen kita ini di tahun 2018 itu sudah mencapai level doktor. Dengan ini diharapkan dosen yang sudah mencapai 600 orang itu kita terus punya target, diantaranya 200 orang itu harus bergelar doktor baik dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun dalam bidang-bidang agama Islam. Sehingga mereka ini akan bisa menjadi team work untuk bisa melakukan proses integrasi antara ilmu pengetahuan dan teknologi dan Islam. Itu yang terpenting, dan itu yang akan saya kerjakan jika saya diberi kesempatan untuk memimpin UMY ini. Saya tidak suka bilang rektor, tapi saya lebih suka kalau saya diberi kesempatan untuk memimpin. Artinya memimpin itu adalah saya memimpin proses kerjasama dari semua pihak. Jadi tolong dicamkan bahwa UMY maju ini bukan hanya rektor saja, tapi adalah kerjasama dari seluruh orang-orang yang memiliki potensi yang berbeda-beda menjadi sebuah kekuatan team work, team kerja untuk memajukan UMY.

Apa program 100 hari atau 1 tahun pertama apabila diamanahkan menjadi rektor?
Satu tahun kedepan itu saya akan segera melakukan akselerasi untuk melakukan peningkatan kualitas akademik dosen, karena maju dan tidaknya perguruan tinggi itu ada di sini. Apa gunanya kita memiliki mahasiswa banyak, tapi tidak didukung oleh team pengajar yang handal. Jadi saya berharap setahun kedepan itu yang bergelar doktor sudah mencapai 170 an. Nah ini modal pertama, sedangkan sekarang baru 103 dosen yang bergelar doktor. Kalau akhir tahun dapat memenuhi target 170 dosen bergelar doktor, maka ini bisa menjadi modal awal kita untuk mengembangkan semuanya. Nah saya yakin dengan lulusan doktor dalam negeri maupun luar negeri, nanti kita akan melihat bahwa atmosfer akademik dengan payung Islam akan bisa kita wujudkan.

Yang kedua yaitu bisa disebut dengan atmosfer Internasional. Saat ini ada kecenderungan untuk mengirim studi S3 ke luar negeri. Dengan demikian kita juga berharap setahun ke depan ini saya mencoba untuk kembali mengokohkan posisi UMY ini pada kancah-kancah aktivitas level Internasional.

Apa strategi untuk UMY jika terpilih menjadi rektor?
Saya melihat ada beberapa hal penting yang harus menjadi motor. Di UMY ini karena sebagian besar pejabatnya adalah dosen, artinya mereka juga akan diganggu oleh jam mengajar. Makanya strategi pertama yang saya ingin lakukan adalah saya ingin membentuk sebuah think tank. Think tank itu adalah sekelompok grup yang kita beri tugas bagaimana grup ini memiliki kemampuan untuk memotret kondisi UMY saat ini, kemudian membandingkannya dengan perguruan tinggi di luar negeri yang lebih baik, dan melakukan analisis-analisis dan rencana- rencana kerja supaya kita bisa punya benchmark dengan perguruan tinggi di luar negeri, tanpa meninggalkan nilai-nilai keIslaman. Bagi saya think tank itu penting.

Jika ternyata jabatan rektor diamanahkan ke orang lain, apa yang akan bapak lakukan?
Oh ndak papa, biasa..

Amanah itu satu hal yang penting untuk kita dukung bersama. Siapapun yang dipilih saya melihat ini bukan perebutan seperti di partai politik, bukan perebutan seperti di parlemen. Kita maju untuk calon pemimpin di UMY ini, kepentingannya bukan kepentingan partai politik, bukan kepentingan golongan, tapi ini kepentingan UMY. Saya waktu menjadi ketua team AIPT tahun 2012, saya bukan pengurus universitas, tapi saya kerja keras bagaimana kemudian teman-teman ini bisa bekerjasama, dan kita lihat hasilnya yaitu UMY terakreditasi A. Waktu itu saya tidak menjabat apa-apa, saya hanya ada di pascasarjana. Tapi saya membantu pak rektor, wakil-wakil rektor untuk membantu mewujudkan AIPT A. No problem kalau saya harus pilih-pilih seperti itu, saya dulu pasti nggak mau. Jadi ini kita bukan bicara orang per orang. Pemilihan pemimpin UMY ini, bukan bicara orang per orang, kelompok per kelompok, namun kita bicara UMY kedepan. Jadi siapapun yang diberi amanah, ayo kita jalan bareng.