UMY Rintis Halalan Thayyiban Center

September 11, 2017 oleh : BHP UMY

Mendengar kalimat halal dan haram maka pandangan masyarakat umum akan mengarah kepada makanan dan juga agama Islam. Karena perihal halal dan haram sangat identik di dalam Islam yang merupakan perintah dari Allah SWT. Bagi umat Islam masalah halal atau tidaknya suatu komponen merupakan sebuah hal yang krusial. Sebab halal atau tidaknya sesuatu akan berimbas pada keberkahan hidup seorang Muslim.

Menanggapi hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tergerak untuk merintis Halalan Thayiban Center (HTC). Wacana untuk membangun HTC tersebut sebenarnya terus muncul dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dan terus menerus didiskusikan tentang keberadaannya. Pada bulan September 2017 inilah akhirnya HTC tersebut berhasil diwujudkan, tepatnya pada Sabtu (9/9) bertempat di kampus terpadu UMY Gedung Twin Building E7 Lantai 5 diadakan acara Launching Halalan Thayiban Center. Selain itu, diadakan pula Public Lecture dengan tema “The Role and Responsibilty of Dakwah Muhammadiyah in Promoting Halal”. Prof. DR. Ir. H. Trijoko Wisnu Murti, DEA. Direktur LPPOM MUI Yogyakarta dan Prof. Dr. Winai Dahlan Direktur Halal Science Center Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand menjadi pembicara dalam kuliah umum tersebut.

Dr. Iman Permana, M.Kes,PhD selaku Head of Halalan Thayyiban Center UMY dalam sambutannya mengatakan bahwa saat ini masih ada fenomena ayam tiren dimana ayam yang mati kemarin tapi masih diperjual belikan dan dikonsumsi. Halalan Thayyiban Center ini merupakan salah satu langkah nyata dari UMY sebagai pusat akademis agar bisa ikut membantu mengedukasi masyarakat.

Selain itu juga Iman mengatakan bahwa halal bukan hanya untuk umat islam. “Halal bukanlah sesuatu yang hanya ditujukan untuk umat beriman namun untuk semuanya. Serta semoga dengan adanya HTC ini bukan hanya mencari bukti ilmiah namun juga nantinya bisa disosialisasikan kepada masyarakat,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Hilman Latief, M.A., Ph.D, Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan, Alumni dan AIK UMY. Dalam sambutannya Hilman mengatakan bahwa ini merupakan sebuah kemajuan tersendiri karena halal sudah menjadi kepentingan orang banyak. Berbagai negara sudah terus mengembangkan wacana tentang halal termasuk yang paling maju adalah di Thailand. “Saya kira ini merupakan sebuah kesempatan bagi UMY, termasuk bagi pusat studi yang baru, bagaimana kita bisa memperluas kerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi yang pernah berkolaborasi. Saya berharap HTC ini bisa besar tidak hanya sebagai dakwah Muhammadiyah tapi juga dalam konteks edukasi sebagai sebuah lembaga riset,” ujarnya.

Hilman juga menyampaikan tentang isu yang mulai beredar mengenai kantin mahasiswa apakah halal mulai dari pemotongan dan proses pengolahannya. “Kemarin juga terdapat isu bagaimana dengan kantin kita. Apakah cara masaknya, penyimpanannya sudah sesuai dengan standar halal thayyiban atau belum. Sehingga apabila ini bisa berjalan dengan baik, maka bisa menjadi sebuah kelebihan tersendiri,” tambahnya.

Sementara itu, Prof. DR. Ir. H. Trijoko Wisnu Murti, DEA menyampaikan bahwa muslim ketika beribadah harus dalam keadaan suci atau tidak terkontaminasi najis. Maka permasalahan halal menjadi sangat penting dan perlu untuk menjadi Halalan Thayyiban Life Style. “Jadi ketika shalat sebagai salah satu ibadah yang paling penting dari umat Islam harus dilakukan dengan keadaan suci. Kemudian di dalam kalimat perintah Allah menunjukan bahwa makanlah makanan yang halal terlebih dahulu baru setelah itu beramal sholeh. Namun bukan berarti halal hanya untuk umat Islam tapi halal adalah untuk semua orang,” terangnya.

Senada dengan itu Prof. DR. Winai Dahlan juga mengatakan bahwa banyak negara-negara yang notabene warganya bukan mayoritas Islam justru mencari produk-produk makanan ataupun hal lainnya yang bersifat halal. “Jepang sudah sering memesan produk-produk halal dan mereka mengatakan bahwa produk halal merupakan produk yang baik. Maka dari itu saya katakan bahwa halal its not just for Muslim but for all,” tegasnya. (zaki)