UMY PTS Terbaik Dalam Gelaran PIMNAS 27 Undip

Agustus 29, 2014 oleh : BHP UMY

Tim PKM-M “Difabel House” peraih dua medali emas dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-27 di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, setibanya di Kampus Terpadu UMY, Jum’at (29/8).

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang masuk dalam peringkat 10 besar gelaran Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, yang diselenggarakan sejak 25 hingga 29 Agustus 2014. Pada malam puncak penutupan dan pengumuman pemenang tadi malam, Kamis (28/8), UMY berhasil meraih posisi ke-6 setelah UGM, ITS Surabaya, Unibraw Malang, IPB dan Unair. UMY juga berhasil mengalahkan Universitas Negeri Malang, Undip, Politeknik Negeri Perkapalan Surabaya, dan UNY.

Dr. Rizal Yaya, salah satu pembimbing tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-M) mengatakan bahwa UMY tercatat sebagai pemenang dengan dua medali emas dan satu medali perunggu. “Dua medali emas ini didapatkan dari dua kategori penilaian, yakni poster dan presentasi untuk PKM-M. Sementara untuk medali perunggunya pada kategori poster untuk PKM Karsa Cipta (PKM-KC),” ungkapnya.

Rizal juga memaparkan, dua medali emas yang diperoleh tersebut berasal dari satu tim yang sama, yakni tim PKM-M “Difabel House”. Sementara untuk medali perunggunya diraih oleh tim PKM-KC “Stetoskop Wireles”. “Dalam PIMNAS tersebut ada 20 kelas. Setiap kelas ada 20 tim PKM, dan pada masing-masing kelas itu disediakan dua medali emas, dua medali perak, dan dua medali perunggu untuk tim PKM terbaik untuk masing-masing kategori presentasi dan poster. Nah tim PKM-M “Difabel House” memenangkan emas untuk kategori poster dan presentasi. Jadi satu tim ini berhasil meraih dua emas, dan sepertinya juga menjadi satu-satunya tim PKM yang mendapatkan dua medali emas dalam kelas itu,” paparnya.

Sementara itu, Weni Septi Susanti selaku ketua tim PKM-M “Difabel House” menjelaskan bahwa “Difabel House” tersebut merupakan kegiatan pengabdian yang dilakukan bagi anak-anak berkebutuhan khusus (difabel). Pengabdian yang mereka lakukan tersebut dalam bentuk pelatihan kesenian, yakni seni lukis dan seni tulis. “Ada 25 peserta yang ikut dalam pelatihan ini, dan dari 25 peserta itu dibagi perkelas, sesuai dengan bakat yang mereka miliki. Untuk kelas seni lukis ada peserta tuna rungu dan tuna wicara, sedangkan untuk kelas seni tulis pesertanya adalah anak-anak yang tuna rungu dan tuna netra,” jelasnya.

Weni juga mengungkapkan bahwa 25 peserta tersebut berasal dari semua Sekolah Luar Biasa (SLB) di Yogyakarta yang telah mereka seleksi. Seleksi itu dilakukan juga untuk mengetahui bakat mereka. Selain itu, menurut Weni, pelatihan yang dilakukan oleh timnya tersebut ternyata menarik minat dan antusias para peserta. “Respon mereka sangat senang dengan adanya pelatihan ini. Mereka juga berharap agar pelatihannya tidak berhenti di sini saja. Karena selama pelatihan dari Maret hingga Juli kemarin, mereka sudah bisa menghasilkan karya berupa lukisan di atas kertas, lukisan di helm, di kanvas, serta buku antologi cerpen dan puisi. Hasil karya mereka ini juga sudah kami pamerkan pada 12 sampai 13 Juli kemarin di Tamansiswa,” ungkap mahasiswi angkatan 2012 Fakultas Ekonomi UMY ini lagi.

Di sisi lain, Weni juga mengaku senang dan tidak menyangka jika hasil karya dan kerja tim PKMnya bisa menghasilkan dua medali emas. Ia juga mengaku bangga bisa membawa nama baik UMY menjadi satu-satunya PTS yang masuk dalam 10 besar PIMNAS ke-27. “Kami berharap, semoga ini bukan akhir, tapi menjadi awal dari prestasi kami. Dan kami harap tahun depan UMY bisa juara lagi, dan bisa jadi juara umum,” imbuhnya.

Adapun tindak lanjut dari pelatihan tersebut, Weni bersama timnya yakni Egi Pranajaya, Ida Solekah, Reni Apriani, dan Sabila Yusrina akan meneruskan pelatihan dan memfasilitasi peserta dengan cara membuka Online Shop dan Diffable Corner. “Kami berencana akan membuat Diffable Corner di Taman Pintar. Hal ini agar para diffable punya tempat khusus untuk bisa berkarya dan kami sudah mengirimkan proposal pengajuan pada Taman Pintar. Selain itu, kami juga akan membuka Online Shop untuk menjual hasil karya kesenian dari para peserta “Diffable House” ini,” pungkasnya.

Sharing is caring!