UMY Kembali Laksanakan KKN Internasional

September 9, 2014 oleh : BHP UMY

Untuk memberikan pengalaman internasional kepada mahasiswanya maka Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali melaksanakan program Learning Express KKN International Singapore Polytechnic. Program KKN Internasional keempat ini, selain menggandeng Singapore Polytechnic (SP) dan UPN Veteran Yogyakarta, UMY mengikutsertakan Kanazawa Institute of Technology (KIT) Jepang untuk bergabung bersama melaksanakan progam ini selama dua minggu sejak 7 September 201 hingga 20 September 2014 di desa Timbulharjo.

Program KKN Internasional ini merupakan sebuah sarana pembelajaran bagi mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat. “Kegiatannya bertujuan untuk membentuk mahasiswa untuk menjadi pemimpin, selain itu program ini juga dapat melatih mahasiswa untuk bisa selalu berkomitmen dalam menjalankan tugas apapun, “ jelas Hilman Latief, S. Ag., M.A., Ph.D dalam sambutannya saat meresmikan KKN Internasional pada hari ini (8/9) di Ruang Mini Theater, Gedung D lantai 4 Kampus Terpadu Univesitas Muhammadiyah Yogyakarta

Sebanyak 32 orang mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa UMY, UPN, SP dan KIT akan diturunkan di Dusun Sanggrahan dan Dusun Gepek, Desa Timbulharjo, Bantul untuk membantu industri kerupuk beras dan industri bambu milik masyarakat sekitar. Di desa ini, seluruh mahasiswa peserta KKN Internasional akan membantu masyarakat desa untuk meningkatkan hasil industri mereka sehingga bisa lebih berkembang. Karena mahasiswa dituntut untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di desa tersebut serta menemukan ide-ide untuk menyelesaikannya. Harapannya mahasiswa untuk bisa kritis dalam menghadapi masalah dan memiliki jiwa kepemimpinan.

“Mahasiswa juga dituntut untuk bisa menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar. Sebab setiap desa memiliki budaya yang berbeda-beda, dan kita harus bisa menghormati budaya tersebut, “ tegas Hilman Latief, S. Ag., M.A., Ph.D.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Toni Karyadi selaku Ketua Pelaksana Learning Express Singapore Polytechnic, bahwa program ini mengkritisi masalah yang ada di desa dan mencari solusinya sehingga desa tersebut dapat berkembang sebagaimana mestinya. “Seperti yang pernah dilakukan mahasiswa KKN Internasional pada tahun lalu yang merancang sebuah alat untuk pembuatan briket dari sisa bambu dan pembuatan alat untuk memeras sari dari ketela untuk membantu industri masyarakat desa, “ papar Toni.

Hilman berharap program ini berjalan setiap tahunnya karena selain bermanfaat untuk meningkatkan kerjasama kampus di dunia internasional, juga dapat meningkatkan atmosfir mahasiswa untuk bersaing di dunia internasional sehingga mahasiswa bisa melatih diri mereka untuk bisa menjadi pemimpin di Asia. (Annisa)