UMY Akan Mulai Beri Bekal Mahasiswa Untuk Student Exchange

Juni 27, 2015 oleh : BHP UMY

Tagline Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) “Muda Mendunia” menjadi sangat populer. Apalagi tagline ini juga didukung dengan mahasiswa-mahasiswanya yang terus berkiprah di Internasional baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Tahun ini UMY kembali mengirimkan 67 mahasiswanya untuk melakukan student exchange dan beradaptasi di luar negeri. Tentu bukan hal yang mudah untuk melakukan student exchange tersebut, karena banyak hal yang perlu dipersiapkan ditambah lagi jumlah mahasiswa yang semakin banyak. “Karena itu, kami perlu memberikan bekal terkait dengan informasi tentang kehidupan di sana. Ini menjadi sangat penting sebab beda negara beda budaya, apalagi terkait dengan makanan halal yang pasti sangat sulit didapatkan di negara lain. Tentu sebagai orang muslim sangat penting untuk makan-makanan yang halal, “ terang Indira Prabasari, Ph.D saat di wawancarai di Biro Kerja Sama UMY pada Sabtu (27/6). Pembekalan ini juga akan dilakukan hingga Senin (29/6).

Indira menjelaskan bahwa, student exchange ini merupakan program study lanjutan bagi mahasiswa UMY untuk bisa mengeksplorkan dirinya di negara lain. Untuk mempersiapkan keberangkatan mereka, para 67 mahasiswa yang student exchange akan diberi bekal pengetahuan, seperti cara beradaptasi di lingkungan yang baru dan bagaimana kesiapan mereka untuk bisa kembali ke negaranya dengan membanggakan. Untuk negara-negara yang dituju antara lain Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Hong Kong, Taiwan, Australia, dan Spanyol. 67 Mahasiswa ini akan diberikan bekal terkait dengan kehidupan di sana. Untuk pembekalan dilaksanakan pada Sabtu sore pukul 14.30 di R. Sidang Pasca Sarjana Lt.4 UMY. Pembekalan ini nantinya juga akan diisi oleh beberapa dosen atau alumni yang pernah study lanjut di negara-negara tersebut. “Misalnya ibu Twediana Budi Hapsari, S.Sos., M.Si yang akan menceritakan pengalamannya selama belajar di Australia. Tujuan dari pembekalan ini adalah untuk memberikan informasi terkait dengan apa yang diperbolehkan dana apa saja yang tidak diperbolehkan dibawa selama berjalannya study di masing-masing negara tersebut, “ jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, agar mahasiswa tersebut dapat memperoleh informasi yang cukup sebelum tiba di negara tersebut. “Informasi ini bukan hanya terkait dengan makanan yang halal, namun juga kebiasaan atau budaya di sana. Ini juga menjadi sangat penting karena, kebudayaan dari masing-masing negera berbeda-beda apalagi kita ini pendatang. Jadi ada beberapa hal peraturan atau norma-norma yang perlu diikuti atau dipatuhi. Misalnya terkait dengan barang yang akan dibawa, di Australia misalnya ada peraturan tidak diperbolehkan membawa produk daging baik itu abon atau dendeng, jika tidak dipatuhi maka akan bermasalah dengan costumernya. Padahal mahasiswa membawa makanan tersebut agar tidak kesusahan untuk memperoleh makanan halal, namun jika itu sudah peraturan tetap harus dipatuhi,“ lanjutnya.

Untuk mempermudah para peserta yang akan berangkat, nantinya para peserta akan didampingi atau di pandu oleh beberapa mahasiswa yang pernah student exchange disana. “Masing –masing pemandu akan memberikan pengetahuan tentang “Menjadi Pribadi Yang Mampu Beradaptasi di Luar Negri” antara lain Spanyol dengan Idham Badruzaman, Korea dengan Yuliani Iriana Sitompul, Tiongkok dengan Fahrizal Ramadhan, Malaysia dengan Gesta Fauzia Nurbiansyah, Tahiland dengan Reza Rezeki, Filipina dengan Merrisa Dwi Joanita, dan Australia dengan Ahmad Jawwad. Selain pembekalan secara umum, setelah ini peserta juga akan dibimbing secara informal oleh pemandunya masing-masing sebelum berangkat ke negara tujuannya,“ ujarnya.

Indira mengatakan bahwa program dari masing-masing negara ini berbeda-beda, masa studinya pun berbeda-beda. Untuk pemberangkatannya tentu tidak sekaligus, jadi masing-masing negara punya kualifikasi untuk menerima student exchange di kampusnya. Selain itu jadwal penerimaan ini juga dilandasi dengan beberapa penandatnganan Mou antara UMY dengan Universitas di luar. “Mou ini juga terkait dengan pembiayaan yang disediakan. Jadi, intinya student exchange ini tidak di biaya 100% namun, ada beberapa yang sudah ditanggung misalnya penanggungan akomodasi dan program kegiatan selama study di universitas tersebut, “ jelasnya.

Untuk program belajar setiap universitas memiliki program masing-masing dan punya durasi waktu masing-masing. “Untuk program keberangkatan ini akan berlangsung dari bulan juli sampai akhir tahun 2015. Keberangkatan terdekat, tujuannya ke Sun Moon University dengan masa studinya 6 minggu dan berangkat pada 5 Juli 2015 sampai 20 Agustus 2015. Sedangkan untuk universitas lainnya akan berangkat pada bulan Agustus dengan tanggal yang sudah ditetapkan,“ tutupnya.

Sharing is caring!