Tingkatkan Nasionalisme Mahasiswa Film Hope, Cermin Harapan untuk Indonesia

Januari 17, 2011 oleh : BHP UMY

Tingkatkan nasionalisme mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kine Klub Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerja sama dengan Bogalakon Picture mengadakan screening film Hope karya Andibachtiar Yusuf. Screening film diikuti mahasiswa dan siswa-siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Yogyakarta.

Menurut Koordinator Screening Film, Sri Hastuti film Hope terdiri dari tiga bagian film dan berdurasi 72 menit.. Bagian pertama, dengan judul The Majorities.. To Die For .. Bagian ini diawali tentang partai politik (parpol) di Indonesia, dimana rakyatnya ada yang apatis, tidak peduli dan cuek dengan hal itu disebabkan salah satunya karena bingung mau memilih yang mana, jadinya golput pada waktu pemilu.”jelasnya, Jum’at (14/1) di Kampus Terpadu UMY.

Pada bagian pertama tersebut dalam penuturannya, selain ada warga yang tidak peduli tetapi ada juga yang loyal. “Diceritakan di film ini sampai berani mati demi membela parpol yang diikuti. Hal ini dapat dilihat pada waktu akhir bagian ini, ketika salah satu pendukung ditanya “Sampai kapan mengikuti partai ini” kemudian tokoh tersebut menjawab “Sampai mati!”. Selain itu digambarkan juga komentar-komentar masyarakat terkait pembangunan yang sudah dilakukan pemerintah”urainya.

Bagian kedua tentang The Minorities, yang menggambarkan warga keturunan Cina yang memainkan Barongsai. “Dimana selama 32 tahun mereka tidak bisa memainkan barongsai, setelah diijinkan untuk memainkan barngsai mereka habis-habisan mengharumkan nama Indonesia dengan menjuarai kompetisi barongsai sedunia,”tegasnya.

Kemudian pada bagian ketiga berjudul The Nation, pada bagian ini menampilkan Pandji Pragiwaksono, seorang rapper yang mempopulerkan Indonesia Unite dan Otong, vokalis grup band KOIL. “Mereka berdua mengungkapkan pendapatnya tentang Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Seperti Pandji misalnya dalam film tersebut dia mengatakan bahwa Indonesia hanya akan begini-begini saja (tidak berubah-red) jika masyarakatnya terutama generasi muda hanya bisa protes tanpa berupaya untuk menciptakan perubahan.”tegasnya.

Sementara itu menurut salah satu peserta screening film, Dian Karyati Pamungkas, film tersebut mengingatkan generasi muda khususnya mahasiswa untuk tetap berupaya dan berusaha untuk menciptakan perubahan bukan hanya menuntut perubahan.

“Dengan melihat film tersebut mengingatkan kita bahwa menuntut bukan satu-satunya jalan untuk memperoleh perubahan. Karena lebih baik menciptakan perubahan itu sendiri daripada menuntut. Misalnya dengan hal-hal yang bisa kita lakukan, mungkin menulis, menyanyi menyuarakan perubahan dengan harapan banyak orang terinspirasi dan kemudian ikut menciptakan perubahan itu sendiri,”tegas mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY tersebut.