Tingkatkan Level Kesadaran Untuk Berperan Dalam Kemajuan Indonesia

Desember 26, 2018 oleh : BHP UMY

Mahasiswa merupakan salah satu pilar penting dalam mewujudkan perubahan dan kemajuan bangsa, tapi terkadang hal itu terhalang oleh tingkat kesadaran mereka sendiri yang masih dirasa kurang. Sikap acuh atau apatis menjadi lawan yang seakan dibiarkan begitu saja, tanpa adanya tindakan konkret untuk memeranginya demi menciptakan keselarasan ilmu yang telah diraih untuk diamalkan. Untuk menyikapi persoalan tersebut BEM Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengadakan acara bertajuk Rekonstruksi Peran Pemuda Untuk Mewujudkan Indonesia Berkemajuan, Seminar Nasional tersebut digelar di Gedung Amphitheater E6 Lantai 5 UMY, Sabtu (22/12).

Langkah pertama untuk menuju tingkat kesadaran itu adalah mengenal diri sendiri, dengan kata lain seorang mahasiswa harus memiliki cita-cita yang jelas. Untuk apa mereka mengikuti materi perkuliahan setiap hari, sehingga mereka bisa mengenal dirinya dan tau apa yang harus mereka lakukan ke depannya. Hal tersebut seperti yang dikatakan oleh Fahruddin Faiz selaku salah satu pembicara dalam acara seminar nasional BEM FAI UMY.

“Langkah pertamanya adalah mengenali diri sendiri. Gali dirimu sedalam-dalamnya hingga kamu mengerti bahwa Allah sangat luar biasa dalam menciptakan sesuatu, dengan begitu kamu juga akan mengenali Tuhan mu juga. Setelah kamu sudah kenal, kembangkan dirimu sesuai pengenalanmu, karena tidak ada manusia yang tidak istimewa. Jangan minder, kalian punya potensi dan kemampuan untuk bisa bermanfaat. Tapi kalian harus melawan penyakit malas, kalahkan dirimu biar tidak malas,” kata dosen Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga itu.

Kemudian Fahruddin juga menyinggung soal kesadaran profetik, dimana misi dari kesadaran itu tidak hanya untuk menjalankan ide saja. “Kesadaran profetik tidak hanya soal menjalankan ide saja. Seperti contoh Nabi Muhammad SAW ketika Isra Mi’raj dari sidratul muntaha hingga langit ketujuh untuk bertemu Allah, Rasulullah tidak berhenti sampai di situ saja. Mungkin bagi kita umatnya ketika sudah mencapai tujuan akan terlena dan senang-senang, tapi bagi nabi ketika sudah menuju puncaknya beliau balik lagi untuk membereskan apa yang terjadi di bumi yakni menyelamatkan umatnya. Jadi itulah makna kesadaran profetik, punya ide lalu laksanakan sampai mencapai tujuan dan kemudian ulangi lagi untuk mencari kemanfaatan yang lain,” paparnya.

Acara seminar nasional ini dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa FAI UMY, dan menghadirkan juga dua pembicara lainnya yakni Ahmad Najib Wiyadi pengusaha 13 perusahaan besar dan Ridwan Khalid seorang aktivis dakwah kreatif media sosial. Untuk menjadi sukses dalam memberikan manfaat pada kemajuan dan perubahan di Indonesia atau bahkan pengusaha yang memiliki banyak perusahaan, Ilmu yang paling dibutuhkan menurut Khalid adalah ilmu komunikasi.

“90 persen dari permasalahan yang terjadi di dunia sekarang ini adalah miss komunikasi. Setinggi apapun tingkat pendidikan Anda, setinggi apapun tingkat kecerdasan Anda, jika Anda tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk menjelaskan apa yang ada dipikiran Anda maka yang ada di pikiran Anda tidak akan membuahkan apapun. Seperti contoh ketika kalian punya ide bisnis tapi tidak berani mengungkapkan, tapi kalian sampaikan ide bisnis itu ke teman kalian yang pintar berkomunikasi, lalu yang sukses adalah teman Anda yang bisa menjelaskan ide tersebut, bukan Anda. Jadi berani bersuara menjadi kuncinya untuk melakukan perubahan,” tutup Khalid. (Habibi)