Tiga Mahasiswa Teknik Sipil UMY Presentasikan Paper di International Conference Thailand

November 7, 2013 oleh : BHP UMY

teknik umyTiga mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil terpilih sebagai presenter pada 2nd Asean Academic Society International Conference (AASIC) 2013 di Thailand, pada Senin-Selasa (4-5/11). Ketiga mahasiswa tersebut  merupakan mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2011 yang terdiri dari  Tria Wulandari Octaviana, Muhammad Arif Banjaransari, dan Dwi Agrina berhasil mempresentasikan paper hasil penelitian pada bidang sains teknik yang  diteliti bersama dosen pembimbingnya.

Ditemui sebelum keberangkatannya, pada Sabtu (2/11), ketiganya berkata bahwa paper yang akan dipresentasikan pada AASIC itu ada tiga. Masing-masing dari mereka membawakan hasil penelitian yang berbeda. Tria membawakan hasil penelitian tentang campuran semen dan limbah karbit yang digunakan sebagai stabilisasi tanah, Arif mempresentasikan hasil penelitian tentang analisis karakteristik arus sungai dalam menanggulangi erosi tepian sungai, sementara Dwi dengan hasil penelitiannya tentang aliran material lahar di sekitar Gunung Merapi.
Tria yang melakukan penelitian tersebut bersama dosen pembimbingnya, Dr.Agus Setyo Muntohar, S.T., M.Sc., menjelaskan bahwa penelitian itu ditujukan untuk pengembangan di bidang teknik perkerasan tanah, khususnya dalam hal pembangunan. Karena menurutnya, jika akan membangun suatu gedung atau rumah, maka yang harus diperkuat itu adalah struktur bawahnya (pondasi). “Umumnya yang digunakan sebagai penstabil tanah untuk membuat pondasi itu hanya dengan campuran semen saja. Sebenarnya dengan semen saja itu sudah bagus, tapi karena semen itu juga banyak mengadung bahan kimia, jadi kami mencari campuran lain yang bisa digunakan sebagai penstabil tanah. Dan kami menemukannya dari limbah karbit tersebut,” jelasnya.
Menurutnya, jika semen dan limbah karbit tersebut dicampur sebagai bahan penstabil tanah dalam proses pembuatan pondasi, maka hasilnya akan menjadi lebih baik dan lebih kuat. Sementara itu, keuntungan lain dari segi pembiayaan juga bisa lebih meringankan. “Kalau hanya menggunakan salah satu saja, misalkan seperti dengan campuran semen saja atau limbah karbit saja, itu sudah bisa. Tapi lebih bagus dan lebih baik lagi kalau dicampur dengan semen dan limbah karbit. Selain itu, karena kami menggunakan limbah karbit yang biasanya jarang dimanfaatkan, jadi dengan digunakannya limbah karbit ini juga bisa mengatasi masalah keuangan dalam pembangunan konstruksi. Mudahnya lebih meminimalisir biaya konstruksi, dan limbahnya tidak mencemarkan lingkungan,” papar Tria yang melakukan studi kasusnya di Kasihan-Bantul.
Kemudian Arif yang mempresentasikan hasil penelitiannya menjelaskan bahwa hasil dari penelitian tentang analisis karakteristik arus sungai dalam menanggulangi erosi tepian sungai itu, masih dalam bentuk wacana. Dan wacana itu nantinya diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dan solusi bagi pemerintah yang daerahnya terkena erosi.
Menurut Arif, studi kasus pada penelitiannya tersebut dilakukan di sungai Sesayap, Kalimantan Timur. Dan menurutnya, ada dua cara yang bisa ditawarkan untuk menanggulangi erosi tepian sungai tersebut. “Dari penelitian yang kami lakukan, kami dapat memberikan dua cara yang bisa dilakukan, yaitu dengan menggali atau mengeruk sungainya, dan cara kedua dengan diberi tambahan pengkerasan pada tepian sungai. Pengkerasan ini bisa dilakukan dengan membuat talut pada tebing sungai. Jadi, dengan dua cara ini erosi tepian sungai bisa ditanggulangi,” ujarnya.
Sementara itu, hasil dari penelitian yang dilakukan Dwi Agrina menjelaskan bahwa sungai-sungai di sekitar Gunung Merapi mengalami perubahan Morpologi (bentuk sungai). Hal ini karena sungai-sungai tersebut teraliri material-material berukuran besar yang terbawa setelah erupsi Merapi. “Sungai-sungai di sekitar Gunung Merapi itu sudah berbatu-batu, dan aliran sungainya juga berubah. Jadi, dari hasil penelitian ini diharapkan pemerintah bisa menanggulanginya, dan masyarakat setempat juga bisa lebih waspada,” katanya.
Dwi juga menambahkan, dengan keikutsertaan mereka bertiga sebagai presenter pada AASIC itu diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas dan kemajuan teknologi. “Kami harap, dari hasil-hasil penelitian yang akan kami presentasikan nanti bisa diambil manfaatnya oleh orang banyak, dan bisa menjadi sumbangan bagi kemajuan teknologi. Selain itu juga, acara ini menjadi momen bagi kami untuk lebih memacu diri agar jadi lebih baik lagi,” ujarnya.