Terdapat 918 lokasi rawan longsor, Indonesia miliki tingkat risiko tinggi terhadap bencana tanah longsor

Desember 4, 2010 oleh : BHP UMY

Indonesia dengan karakteristik wilayah yang terdiri atas dataran tinggi dan rendah, curah hujan yang relatif tinggi, dan berada pada rangkaian ring of fire sangat rentan terhadap kejadian tanah longsor. Setidaknya terdapat 918 lokasi rawan longsor di Indonesia. Oleh karenanya, wilayah Indonesia memiliki tingkat risiko yang tinggi terhadap bencana tanah longsor.

Demikian disampaikan Dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr.Eng. Agus Setyo Muntohar, S.T., MEng. Sc., saat memaparkan buku hasil karyanya yang berjudul “Tanah Longsor: Analisis – Prediksi – Mitigasi”, di Kampus Terpadu, Kamis (2/12). Pada hari yang sama, buku tersebut rencananya juga dibedah oleh pakar geoteknik UGM, Prof. Dr. Ir. Kabul Basah Suryolelono, Dip.HE., DEA.

Menurutnya, rangkaian ring of fire atau rangkaian kegunungapian ini menyebabkan zona tersebut sangat aktif terhadap aktivitas gunung api, dimana kondisi batuan atau tanah menjadi sangat dinamis sehingga pelapukan sangat kerap terjadi. Hal itu kemudian menyebabkan batuan atau lereng rentan. “Kerugian yang ditanggung akibat bencana tanah longsor sekitar Rp 800 miliar, sedangkan jiwa yang terancam sekitar 1 juta setiap tahunnya,” papar Agus.

Untuk itu Agus mengungkapkan, salah satu usaha untuk mengurangi risiko bencana adalah dengan meningkatkan kapasitas. “Peningkatan kapasitas dapat dilakukan dengan menambah pengetahuan masyarakat tentang tanah longsor, salah satunya dengan buku,” ungkapnya.

Selain itu, Ia mengatakan jika dalam matakuliah di Program Strata-1 Teknik Sipil, bahasan Tanah Longsor merupakan bagian kecil dari pokok bahasan Analisis Stabilitas Lereng dalam matakuliah Mekanika Tanah, atau menjadi matakuliah pilihan. “Sehingga bagi mahasiswa, materi yang diberikan tersebut masih sangat terbatas untuk bekal terjun di jasa konstruksi. Pada kebanyakan praktek, teknik mitigasi tanah longsor lebih banyak dilakukan daripada pencegahan dini bahaya tanah longsor,” terang Agus.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan secara konseptual kejadian tanah longsor dapat ditinjau dari beberapa disiplin ilmu seperti geografi, geologi, ilmu tanah, geodesi, dan sebagainya. Sehingga, kajian tanah longsor memerlukan kajian multidisiplin. Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau ke luar lereng. Proses terjadinya tanah longsor muncul ketika air yang meresap ke dalam tanah menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperansebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan ke luar lereng.

Agus menambahkan, Prediksi kejadian longsor dapat dilakukan berdasarkan rekaman hujan dan kejadian longsor. Data-data hujan yang memicu terjadinya tanah longsor dari berbagai jenis hujan dipisahkan dengan data hujan yang tidak memicu terjadinya tanah longsor. Hubungan hujan ini dapat ditentukan dengan menggunakan tiga pendekatan yaitu pemodelan empiric (empirical based model), pemodelan proses fisik (physical-process model) dan pemodelan statistik (statistic-based model).

Sementara itu, untuk lereng yang relatif stabil atau berada pada kondisi batas maka data dan informasi dari pekerjaan instrumentasi tersebut dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk melakukan pekerjaan pencegahan (mitigation).

“Pekerjaan mitigasi tanah longsor dilakukan sebagai upaya untuk menghentikan atau mengurangi pergerakan longsoran sehingga dapat mengurangi dampak kerusakan. Sedangkan pada lereng yang telah mengalami longsor, maka lereng harus dikembalikan lagi ke kondisi stabil melalui pekerjaan pemulihan (remedial measures). Namun, dalam prakteknya kedua pekerjaan tersebut saling melengkapi, pekerjaan pencegahan dapat juga memulihkan kondisi lereng menjadi lebih stabil,” tandas Agus.