Terapi Relaksasi Otot Progresif Bantu Turunkan Tekanan Darah Tinggi

Maret 5, 2018 oleh : BHP UMY

Sebagai bentuk nyata pelaksanaan salah satu catur dharma yang dijalankan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Program Studi Magister Keperawatan UMY kembali mengadakan pengabdian masyarakat. Pengabdian masyarakat yang dilakukan tersebut berupa penyuluhan terhadap lansia yang memiliki tekanan darah tinggi, di dusun Kalirandu, Bangunjiwo, Kasihan Bantul DI Yogyakarta Minggu (4/3).

Menurut Dr. Titih Huriah,M.Kep.,Sp.Kom Dosen Magister Keperawatan Pascasarjana UMY, di dukuh Kalirandu tersebut terdapat 150 lansia dari 11 RT yang ada. 30 diantara lansia tersebut mengalami tekanan darah tinggi ataupun hipertensi. Hal tersebut terjadi disebabkan karena pola hidup yang masih belum menjadi perhatian dari masyarakat, khususnya untuk para lansia.

Dr. Titih menambahkan dengan salah satu terapi rutin yaitu Terapi Relaksasi Otot Progresif dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Selain itu terapi ini juga dapat mengurangi nyeri kecemasan. Namun, hal tersebut juga perlu untuk diiringi dengan pola makan yang sehat. “Terlalu banyak mengkonsumsi gorengan, kacang-kacangan, gula, garam juga dapat mempengaruhi kondisi kesehatan,” tuturnya.

Dr. Titih juga menghimbau kepada masyarakat untuk memperbanyak konsumsi air putih setiap harinya. “Saya sarankan sebelum tidur sudah disediakan air putih yang cukup banyak. Separuh diminum ketika sebelum tidur separuh diminum ketika bangun tidur,” jelasnya.

Bagi para penggemar minuman teh manis, menurut Dr. Titih juga perlu diperhatikan konsumsi gula yang ada di dalamnya. Khususnya untuk para lansia yang hobi meminum teh atau lainnya dengan menggunakan tambahan gula. Penggunaan gula yang dianjurkan paling adalah di bawah tiga sendok makan.

“Selain itu waktu meminum teh juga penting untuk diperhatikan. Waktu yang tepat untuk mengkonsumsi teh adalah ketika sebelum makan. Ketika teh dikonsumsi setelah makan maka akan meningkatkan resiko anemia atau kekurangan darah. Penderita Anemia terlihat dari 5L yaitu Letih, Lesu, Lemah, Lelah dan Lalai. Secara fisik juga bisa terlihat dari bagian dalam kelopak mata yang berwarna pucat,” paparnya.

Dr. Titih berharap dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat betapa pentingnya menjaga pola hidup yang sehat karena berpengaruh terhadap kondisi fisik terutama untuk masyarakat lansia. “Sehingga masyarakat menjadi terlatih untuk mandiri dalam menjaga kesehatan,” terangnya.

Mary Erwandari selaku kepala Posyandu di dukuh tersebut juga mengatakan sangat terbantu dengan hadirnya mahasiswa dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. “Karena didatangkan ahli, sehingga masyarakat menjadi lebih percaya. Maka dari itu saya berharap kegiatan ini terus berlanjut di kemudian hari,” tuturnya.