Tembakau Bisa Membunuh Tiap Enam Detik

Desember 5, 2012 oleh : BHP UMY

Menurut penelitian epidemiologi tembakau didunia, menunjukkan tembakau dapat membunuh satu orang setiap enam detik dan lebih dari lima juta orang tiap tahunnya. Jika hal ini berlanjut, diperkirakan terjadi delapan juta kematian di tahun 2030. Angka kematian terbesar terjadi di Negara berkembang termasuk Indonesia.

Hal tersebut dijelaskan oleh Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof.Dr.Ali Ghufron Mukti,Msc. Ph.D dalam Keynote Speech  pada Konferensi “Addresing Tobacco Problems in Developing Countries” Rabu (05/12) di Ruang Sidang Ar. Fakhrudin A Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta(UMY). Konferensi ini merupakan hasil kerjasama antara Muhammadiyah Tobacco Control Center(MTCC) UMY bekerja sama dengan The Johns Hopkins School of Public Health (JHSPH). Konferensi diselenggarakan pada Rabu-Kamis (05-06/12) di Kampus Terpadu UMY.

Ghufron menjelaskan bahwa penyakit tidak menular (PTM) merupakan ancaman pertumbuhan dan pembangunan ekonomi bangsa. “PTM dan salah satu faktor risiko umumnya yaitu konsumsi rokok merupakan penyebab kesakitan dan kematian terbesar yang akan memperberat beban pembangunan dan ekonomi dunia. Data WHO Global Report on Non Communicable Disease 2010, menyebutkan presentase kematian akibat PTM didunia sebesar 63%. Dimana kematian dan kesakitan PTM terjadi pada 66% penduduk ekonomi menengah kebawah,” jelasnya.

Selain itu Ghufron juga memaparkan bahwa saat ini Indonesia mengalami peningkatan jumlah konsumsi rokok. “Menurut Global Youth Tobacco Survey, terjadi peningkatan perokok remaja 2 kali lipat selama kurun waktu tiga tahun terakhir yaitu tahun 2006 sampai 2009. Berdasarkan data survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2001 dan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2012, pada kelompok usia 10-14 terjadi peningkatan perokok hamper dua kali lipat, dari 9,5% (SUSENAS 2001) menjadi 17,5 % (RISKESDAS),”paparnya.

Disisi lain Ghufronn mengungkapkan bahwa memang harus ada pengendalian dampak merokok tersebut. “ Dengan adanya konferensi ini, saya berharap upaya pengendalian ini dilaksanakan bersama oleh Pemerintah, Peneliti,Lembaga Swadaya Masyarakat dan NGO lainnya dalam membangun persamaan pemahaman, membangun kemitraan, dan mempromosikan pentingnya penelitian dalam upaya pengendalian knsumsi rokok.,” ungkapnya.

Dian Azmawati,S.IP. MA selaku ketua panitia acara menuturkan melalui program ini diharapkan akan muncul strategic plan mengenai Tobacco Control khususnya di Indonesia. “Kami harapkan, dari acara ini dapat membuahkan kebijakan baru mengenai masalah pengendalian tembakau di Indonesia. Dan diharapkan juga masyarakat dapat mengetahui dan mengenal kegiatan pengendalian tembakau yang selama ini dilakukan,” tuturnya.