Teman Sebaya Pengaruh Dominan Agresivitas Remaja

_MG_1526Interaksi antar teman sebaya menjadi pengaruh dominan dalam perilaku agresivitas remaja. Hal ini karena, masa remaja memang masanya senang hidup berkelompok dengan remaja yang memiliki usia sebaya (peer groups). Adanya teman sebaya ini juga memiliki peranan yang sangat penting pada diri remaja, khususnya dalam hal menunjukkan identitas diri.

Demikian hasil penelitian disertasi Khamim Zarkasih Putro, saat disampaikan dalam sidang promosi doktor terbuka di ruang sidang utama gedung AR. Fakhruddin A lantai 5, Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (30/4). Disertasi Khamim ini diujikan dihadapan enam penguji, yang diketuai oleh Dr. Gunawan Budiyanto, M.P, sekretaris Dr. M. Nurul Yamin, dan anggota Prof. Dr. Siswanto Masruri, M.A., Dr. Sidik Jatmika, M.Si., Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc. M.Ag., Prof. Drs. Sarbiran, Ph.D., M.Ed., Drs. Subandi, M.A., Ph.D., serta Dr. Muhammad Anis, M.A.

Dalam penelitiannya yang berjudul “Agresivitas Pelajar di Kota Yogyakarta (Studi Kasus Di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta)”, promovendus Khamim menyampaikan bahwa dari pergaulan antar teman sebaya itulah, yang kemudian memunculkan genk-genk dalam kehidupan pelajar. “Genk-genk itu muncul karena adanya pergaulan yang intens antar teman sebaya. Karenanya terkadang timbul tawuran antar pelajar, yang sebenarnya hal itu hanya untuk menunjukkan eksistensi diri mereka,” ujarnya.

Promovendus yang juga mengajar di prodi Ilmu Komunikasi UMY ini juga menjelaskan alasan pemilihan subjek penelitian yakni agresivitas remaja karena banyak masalah tawuran, pemerkosaan, pencurian, dan pemalakan, yang juga terjadi pada remaja. “Untuk itulah, saya mengambil subjek penelitian ini untuk mengetahui tingkat agresivitas pelajar, khususnya di Yogyakarta. Kemudian untuk menyelesaikan persoalan agresivitas yang terjadi dan menemukan solusi yang tepat,” jelas Khamim.

Kedepannya, menurut Dosen UIN Sunan Kalijaga ini lagi, untuk menetralisir perilaku agresif pelajar, maka dibutuhkan pula peran serta orang tua, sekolah dan lingkungan pelajar. Sistem pembelajaran yang diciptakan dengan kondusif dan sehat, serta tidak banyak waktu kosong yang kemudian membuat mereka melakukan hal-hal yang sia-sia.

“Sekolah juga hendaknya diupayakan memfasilitasi siswanya agar dapat selektif dalam memilih teman. Kemudian, orang tua, sebagai sekolah pertama anak, hendaknya juga bisa menerapkan pola asuh yang dapat memberikan contoh baik, sehingga dapat menjadi teladan bagi anak, serta dapat mencegah perilaku agresif anak,” papar Khamim.

Sementara itu, Prof. Dr. Sarbiran, Ph.D., M.Ed. menambahkan bahwa tidak selamanya perilaku agresif itu dimaknai dengan konotasi negatif. Sebab ada pula perilaku agresif yang positif, seperti mendorong siswa untuk lebih berprestasi dan percaya diri menggunakan kemampuannya secara maksimal. “Jadi, kalau dalam mengajar, usahakan pula untuk tetap menonjolkan agresivitas positif tersebut,” pungkasnya.

Adapun hasil sidang promosi doktor kali ini, menyatakan Khamim sebagai doktor lulusan Pascasarjana UMY ke-8 dengan predikat sangat memuaskan.

© 2013 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta | Created by Biro Sistem Informasi UMY | About the site