Teliti Tata Kelola Pemerintahan : Achmad Nurmandi Resmi Jadi Guru Besar UMY

Agustus 25, 2017 oleh : BHP UMY

Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc. resmi dikukuhkan menjadi Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Peresmian tersebut dilakukan pada Rapat Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar UMY di Ruang Sidang Gedung Ar. Fachrudin B lt.5 pada Jumat (8/25). Prof. Dr. Achmad Nurmandi adalah Guru Besar UMY dalam bidang Ilmu pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Dalam penelitian untuk mendapatkan gelar Profesor tersebut, Achmad Nurmandi mengangkat judul, “Tata Kelola Pemerintahan Yang Tidak Terorganisasi Dan Terfragmentasi, Bagaimana Perspektif Tindakan Kolektif Muhammadiyah Tentang Pemerintahan Yang Amanah”. Dalam penelitian tersebut, Prof. Achmad Nurmandi menyampaikan masalah yang berkaitan dengan tata kelola pemerintahan secara umum yang terjadi di semua negara. “Isu terkini tentang kapasitas organisasi pemerintah di dunia adalah bagaimana menyelesaikan masalah yang rumit, dimana persoalan tersebut melibatkan banyak aktor dan multi-sektoral,” ujar Nurmandi.

Masalah-masalah tersebut terkait dengan lingkungan, pengangguran, keamanan, kejahatan, tunawisma, kesehatan, kemiskinan, dan perbatasan, yang seringkali menjadi headline pemberitaan karena memang sulit untuk diselesaikan. “Bahkan seringkali permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah sampai melampaui batasan administrasi, baik wilayah maupun organisasi, serta prosedur adminstratif yang rigit lantaran meliba- tkan aktor multi-level, multi-aktor, dan multi-sektor,” jelas Nurmandi.

Kembali ditambahkan, untuk mengatasi hal tersebut harus ada tindakan kolektif satu arah tujuan. Nurmandi mencontohkan dengan praktik Muhammadiyah dalam berpolitik. Menurutnya, ketika anggota Muhammadiyah saling bertentangan satu sama lain mengenai arahan yang harus diambil oleh organisasi, ada logika institusional yang tetap dipegang, yakni lebih memprioritaskan fungsi religius serta sosial pada setiap arahan yang diambil. “Hal itulah yang kemudian membuat Muhammadiyah tidak terlibat secara aktif dalam pemilihan. Praktik baik Muhammadiyah yang lebih memprioritaskan fungsi religius dan sosial inilah yang seharusnya bisa diterjemahkan pada aktivitas pemerintahan sehari-hari,” papar Nurmandi.

Praktik baik Muhammadiyah tersebut, menurut Nurmandi juga bisa diterapkan oleh pemerintah agar terwujud pemerintahan yang amanah. Sebab pemerintahan yang amanah berdasarkan teori yang ditemukan oleh Nurmandi dalam penelitiannya, adalah pemerintahan yang terdiri dari Kepercayaan Publik, Kepemimpinan yang Amanah dan Tindakan Kolektif (Amanah Governance = F (Trust + Leadership + Collective Action)). Misalkan untuk pemilihan pemimpin dalam Ideologi Manhaj Muhammadiyah itu didasarkan pada masyarakat bukan kehendak pribadi. Anggota mengusulkan kandidat pemimpinnya berdasarkan reputasi terpercaya kandidat, kepercayaan orang lain terhadap kandidat tersebut, dan anggota mengetahui bahwa kandidat tersebut bisa dipercaya.

“Dan kepemimpinan yang amanah itu adalah pemimpin yang bisa menunaikan amanahnya, tidak boleh menghianati amanah kepemimpinannya, mampu menegakkan keadilan, hukum dan kebenaran, serta bekerjasama dalam kebaikan dan ketakwaan dan tidak bekerjasama (konspirasi) dalam melakukan dosa dan permusuhan. Selain adanya kepemimpinan publik yang amanah juga dibutuhkan tindakan kolektif yang melibatkan sejumlah pihak, seperti perguruan tinggi, lembaga konsultan profesional, maupun elemen masyarakat lainnya. Akan tetapi, tindakan kolektif ini juga harus diberikan kepada orang yang amanah, agar bisa berjalan dengan baik. Maka dari penelitian yang saya lakukan ini, yang paling sentral adalah menjunjung tinggi transparansi, kejujuran dan memiliki rasa hormat satu sama lain. Sehingga penelitian ini merupakan bentuk kontribusi dan pemikiran untuk pemerintah Indonesia, ” tutup Nurmandi.

Prof. Dr. Achmad Nurmandi sendiri merupakan Guru Besar tetap keenam yang dimiliki oleh UMY, selain Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag, Prof. Dr. H. Tulus Warsito, M.Si, Prof. Dr. Bambang Cipto, MA, Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono, dan Prof. Dr. Agus Setyo Muntohar, S.T., M.Eng.Sc., Ph.D. Selain itu, UMY juga memiliki 7 Guru Besar bernomor induk dosen khusus (NIDK) yakni Prof. Dr. Siswoyo Haryono, MM,Mpd, Prof. Dr. Hj. Ismijati Jenie, S.H.,C.N, Prof. dr. Siti Nurdjanah, M.Kes, Sp.PD.,K.GEH, Prof. dr. Purnomo Suryantoro, DTMH, Sp.A(K), Ph.D, FRCP, Prof. Dr. dr. Mochammad Sya’bani, M.Med.,Sc.,Sp.PD.KGH, Prof. Dr. dr. H. Soewito, Sp.THT (K), dan Prof. dr. Sri Kadarsih, M.Sc., AIFM, Ph.D. (sumali)