Teliti Pendidikan Keluarga Muslim Minoritas Di Yogyakarta Yusron Masduki Dapatkan Gelar Doktor

Oktober 28, 2017 oleh : BHP UMY

Pendidikan harus dilaksanakan oleh orang tua kepada anaknya, dalam kondisi lingkungan seperti apapun. Hal tersebut juga berlaku bagi keluarga muslim, baik yang berada di tempat mayoritas maupun minoritas muslim. Sebab peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya dapat membimbing dan membina keberagamaan anak, sehingga mereka bisa hidup sebagai manusia dewasa baik sebagai pribadi, anggota keluarga, maupun anggota masyarakat, dan yang terpenting tetap taat terhadap aturan dan nilai-nilai agama Islam.

Hal itulah yang disampaikan oleh Yusron Masduki saat mempertahankan disertasinya dalam Sidang Promosi Doktor Psikologi Pendidikan Islam, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (28/10). Disertasi yang berjudul “ Pendidikan Keluarga Muslim Minoritas Di Yogyakarta (Studi Kasus di Desa Banjarasri Kalibawang Kulon Progo)” tersebut dipertahankan di depan tim penguji yang diketuai oleh Sri Atmaja P, Rosyidi, S.T., MSc.Eng., Ph.D.,PE, sekertaris sidang Dr. Abd. Madjid., M.Ag, dengan anggota penguji Prof. Dr. Alef Theria Wasim, M.A , Dr. M. Nurul Yamin, M.Si, Prof. Dr. Anik Gufron, M.Pd, Dr. Nawari Ismail, M.A , Dr. Taman Hamami, M.A, dan Dr. Muhammad Anis, M.A.

Dalam disertasinya Promovendus Yusron Masduki yang merupakan salah satu dosen Fakultas Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Palembang tersebut mengatakan bahwa, terdapat sebuah hal yang begitu menarik di desa Banjarasri, Kalibawang, Kulon Progo. Data menunjukan pada tahun 2016 peta keagamaan di Banjarasri yang sebelumnya mayoritas muslim berubah menjadi minoritas muslim hingga tersisa 32 persen saja. Hal yang menjadi menarik adalah adanya relasi yang sangat baik antara keluarga non muslim yang mayoritas dengan keluarga muslim yang minoritas.

Bahkan Yusron mengatakan saat melakukan penelitian ditemukan sebuah fakta bahwa relasi dalam komunitas keluarga Muslim dan Non Muslim di Banjarasri, telah terjalin dengan baik sejak lama. Hal itu terlihat dari kegiatan kebudayaan bersama berupa shalawatan dari kedua komunitas. “Kegiatan pertunjukan kebudayaan yang berbentuk shalawatan tersebut dipentaskan empat bulan sekali di Balai Desa dan Burderan Banjarasri,” jelasnya.

Yusron juga menemukan hubungan tersebut bisa terjalin oleh beberapa faktor seperti masih saudara dekat, tetangga dekat satu kampung, satu keturunan, satu desa, atau satu etnis, yang semuanya lebih menonjolkan sisi lain daripada sisi agamanya. “Selain itu, kesadaran dalam berkomunikasi warga Banjarasri juga merupakan faktor yang cukup penting yang menyebabkan kesatuan masyarakat dapat dipertahankan,” ujarnya.

Sementara untuk pola pendidikan keluarga muslim minoritas Banjarasri sendiri menurut Yusron dilaksanakan dala berbagai bentuk kegiatan. “Seperti pengajian atau majelis ta’lim, majelis ta’lim Ranting Muhammadiyah-Aisyiyah, majelis ta’lim khusus Mu’allaf, yang dilakukan dalam rangka membangun dan membina keluarga serta masyarakat melalui kegiatan Qaryah Tayyibah di Banjarasri,” imbuhnya lagi.

Prof. Dr.Alef Theria Wasim, M.A sebagai promotor mengatakan bahwa disertasi ini merupakan sebuah penelitian yang cukup menarik bila dikaji lebih mendalam dan bisa memberikan sumbangan keilmuan bagi pengembangan keilmuan Psikologi Pendidikan Islam.

Sharing is caring!