Teliti Padi Kualias Tinggi, UMY Jalin Kerjasama dengan Alwyni International Capital

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengadakan penandatanganan kerjasama dengan sebuah perusahaan Arab SaudiAlwyni International Capital (AIC) dalam mengembangkan pada basmati di Yogyakarta. Penandatangan kerjasama yang diadakan Rabu (28/12) di Ruang Sidang Komisi Gedung AR Fahruddin A Kampus Terpadu UMY ini dihadiri Rektor UMY, Dasron Hamid, M.Sc., Presiden Direktur AIC Farouk Abdullah Alwyni, Wakil Bupati Gunungkidul Immawan wahyudi, dan perwakilan Islamic Development Bank.

Ketua tim peneliti, Ir. Agus Nugroho Setiawan, MP. menjelaskan, padi Basmati adalah varietas padi unggulan yang dikonsumsi oleh masyarakat Timur Tengah. Di sana, besar Basmati menjadi makanan pokok kedua setelah gandum.Permintaan terhadap beras basmati sangat tinggi lantaran dikenal memiliki arona yang wangi dan halus. Beras Basmati memiliki kualitas dan harga pasar yang jauh lebih tinggi dari beras yang biasa dikonsumsi di Indonesia.

Selama ini, beras Basmati di Timur Tengah tersebut sebagian besar hanya diperoleh dari India dan Pakistan. Beras ini memang sudah lama tumbuh dan diproduksi di kedua negara tersebut. “Jumlah permintaan beras basmati tersebut terus meningkat, jadi negara-negara Timur Tengah berusaha mencari produsen baru varietas ini agar tidak tergantung pada kedua negara tersebut. Sehingga adanya pemenuhan kebutuhan”, terang Agus.

Menurut Agus, penelitian yang dilakukan timnya ini sebenarnya sudah dilakukan sejak akhir 2010 lalu. Padi Basmati ditanam di beberapa tempat di Gunung Kidul, Bantul dan Sleman. Dalam jangka waktu itu Agus dan kawan-kawan berupaya mencari formula yang tepat untuk selanjutnya mengembangkannya lebih lanjut bersama AIC. Benih padi Basmati diperoleh tim dari Bahan Penelitian Padi (Balipta) Sukamandi, Bantaeng Sulsel, dan Nusa Tenggara. “Selanjutnya hasil panen yang sudah ada akan diuji kelayakannya. Apakah hasilnya sesuai harapan atau tidak”

Salah satu permasalahan yang diteliti tim menurut Agus adalah mengenai asal baru harum yang didapatkan pada produksi padi Basmati. Bau harum tersebut diduga muncul jika padi Basmati di tanam di daerah dataran tinggi, sekitar 500 m di atas permukaan laut. “Hasil lain yang telah didapatkan misalnya bahaw padi Basmati dapat ditanam dalam keadaan tergenang maupun kering, baik secara organik maupun anorganik”

Selain itu menurut Agus, padi basmati berumur sekitar 105-110 hari namun tidak tahan terhadap hama wereng. Bulirnya sangat disukai tikus dan burung yang mengindikasikan rasanya enak. Untuk selanjutnya, agus dan kawan-kawan berencana melakukan penelitian dengan menguji kulatias beras meliputi kanduungan gizi dan organoleptik, kelengasan dan pemupukan, serta pengendalian hama.

Pada akhirnya Agus mengharapkan. Jika hasil studi kelayakan beras Basmati, merupakan sebuah peluang besar bagi UMY dan pemerintah DIY untuk mengembangkannya. Padi Basmati akan membuka peluang bagi DIY untuk mengembangkan padi ini sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat dan daerah. “Sebuah peluang jika Indonesia bisa memperoleh pendapatan melalui ekspor beras basmati ke Timur Tengah. Ini kesempatan besar” tandasnya.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengadakan penandatanganan kerjasama dengan sebuah perusahaan Arab SaudiAlwyni International Capital (AIC) dalam mengembangkan pada basmati di Yogyakarta. Penandatangan kerjasama yang diadakan Rabu (28/12) di Ruang Sidang Komisi Gedung AR Fahruddin A Kampus Terpadu UMY ini dihadiri Rektor UMY, Dasron Hamid, M.Sc., Presiden Direktur AIC Farouk Abdullah Alwyni, Wakil Bupati Gunungkidul Immawan wahyudi, dan perwakilan Islamic Development Bank.

Ketua tim peneliti, Ir. Agus Nugroho Setiawan, MP. menjelaskan, padi Basmati adalah varietas padi unggulan yang dikonsumsi oleh masyarakat Timur Tengah. Di sana, besar Basmati menjadi makanan pokok kedua setelah gandum.Permintaan terhadap beras basmati sangat tinggi lantaran dikenal memiliki arona yang wangi dan halus. Beras Basmati memiliki kualitas dan harga pasar yang jauh lebih tinggi dari beras yang biasa dikonsumsi di Indonesia.

Selama ini, beras Basmati di Timur Tengah tersebut sebagian besar hanya diperoleh dari India dan Pakistan. Beras ini memang sudah lama tumbuh dan diproduksi di kedua negara tersebut. “Jumlah permintaan beras basmati tersebut terus meningkat, jadi negara-negara Timur Tengah berusaha mencari produsen baru varietas ini agar tidak tergantung pada kedua negara tersebut. Sehingga adanya pemenuhan kebutuhan”, terang Agus.

Menurut Agus, penelitian yang dilakukan timnya ini sebenarnya sudah dilakukan sejak akhir 2010 lalu. Padi Basmati ditanam di beberapa tempat di Gunung Kidul, Bantul dan Sleman. Dalam jangka waktu itu Agus dan kawan-kawan berupaya mencari formula yang tepat untuk selanjutnya mengembangkannya lebih lanjut bersama AIC. Benih padi Basmati diperoleh tim dari Bahan Penelitian Padi (Balipta) Sukamandi, Bantaeng Sulsel, dan Nusa Tenggara. “Selanjutnya hasil panen yang sudah ada akan diuji kelayakannya. Apakah hasilnya sesuai harapan atau tidak”

Salah satu permasalahan yang diteliti tim menurut Agus adalah mengenai asal baru harum yang didapatkan pada produksi padi Basmati. Bau harum tersebut diduga muncul jika padi Basmati di tanam di daerah dataran tinggi, sekitar 500 m di atas permukaan laut. “Hasil lain yang telah didapatkan misalnya bahaw padi Basmati dapat ditanam dalam keadaan tergenang maupun kering, baik secara organik maupun anorganik”

Selain itu menurut Agus, padi basmati berumur sekitar 105-110 hari namun tidak tahan terhadap hama wereng. Bulirnya sangat disukai tikus dan burung yang mengindikasikan rasanya enak. Untuk selanjutnya, agus dan kawan-kawan berencana melakukan penelitian dengan menguji kulatias beras meliputi kanduungan gizi dan organoleptik, kelengasan dan pemupukan, serta pengendalian hama.

Pada akhirnya Agus mengharapkan. Jika hasil studi kelayakan beras Basmati, merupakan sebuah peluang besar bagi UMY dan pemerintah DIY untuk mengembangkannya. Padi Basmati akan membuka peluang bagi DIY untuk mengembangkan padi ini sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat dan daerah. “Sebuah peluang jika Indonesia bisa memperoleh pendapatan melalui ekspor beras basmati ke Timur Tengah. Ini kesempatan besar” tandasnya.(fariz)

© 2013 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta | Created by Biro Sistem Informasi UMY | About the site