Tazkiyatun Nafs Sebagai Penguat Kepribadian Seorang Guru

September 18, 2018 oleh : BHP UMY

Seorang guru seharusnya memiliki kompetensi kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa. Serta dapat menjadi teladan bagi peserta didik dan tentunya mempunyai akhlak yang mulia. Tetapi, pada kenyataannya terdapat beberapa guru yang memiliki kompetensi kepribadian rendah dan masih jauh dari yang semestinya dimiliki oleh seorang pendidik. Untuk itu, metode Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) menjadi solusi untuk penguatan kepribadian dan jiwa semua orang, terlebih lagi bagi mereka yang berprofesi sebagai guru.

Pada sidang doktor terbuka pada Selasa (18/9) di Ruang Sidang Gedung Pacasarjana kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Abdul Ghofar menjelaskan bahwa seorang guru yang tidak memiliki pribadi yang mantab akan melakukan tindakan yang buruk terhadap anak asuh yang diampunya. “Nafs memiliki fungsi untuk menggerakkan serta mendorong diri manusia untuk melakukan berbagai hal, baik itu kebaikan maupun tindakan buruk. Terdapat beberapa kasus tidak terpuji yang dilakukan oleh oknum guru terhadap muridnya, seperti kekerasan dan pelecehan seksual. Hal ini terjadi karena oknum guru tersebut tidak memiliki jiwa yang bersih dan kepribadian yang teguh,” ujar Ghofar.

Dalam disertasi yang berjudul Tazkiyatun Mafs Sebagai Nasis Penguat Kompetensi Kepribadian Guru, Ghofar menarik kesimpulan bahwa kepribadian muncul dari keinginan dalam diri seseorang, dari keinginan tersebut menjadi tingkah laku seseorang. Kemudian, dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini juga mengatakan bahwa perbuatan baik atau buruk digerakkan oleh nafs. Hal ini terjadi karena nafs atau jiwa menjadi pusat komando segala kegiatan manusia, sekaligus sebagai motor penggerak yang menggerakkan segala macam tingkah laku manusia.

Selanjutnya Ghafar memberikan solusi bagaimana melakukan tazkiyatun nafs, pertama adalah mengoreksi diri. Kedua ialah taubat, melakukan intropeksi terhadap diri, mengevaluasi segala kesalahan serta memohon ampun dan tidak melakukannya kembali. Ketiga, melakukan amal saleh setiap waktu. Keempat ialah berkumpul dengan orang – orang saleh, dan yang terakhir selalu menimba ilmu yang bermanfaat dan senantiasa berdoa kepada Allah S.W.T.

Dengan berhasilnya Abdul Ghofar meraih gelar doktor, maka ia menjadi doktor ke–50 dari program Psikologi Pendidikan Islam dan menjadi lulusan doktor ke–64 dari program pascasarjana UMY. (ak)