Tasawuf Tidak Tergerus Oleh Zaman

Juli 15, 2013 oleh : BHP UMY

Islam Indonesia telah lama mewarisi tradisi tasawauf (Sufisme) yang begitu kaya sejak Islam pertama kali menyebar di Indonesia pada akhir abad 12. Para penyebar Islam di tanah air tersebut bahkan diketahui sebagai para guru sufi yang datang dari satu tempat ke tampat lain untuk memperkenalkan Islam tasawauf. Kesemua itu dilakukan untuk memperkenalkan Islam tasawuf yang inklusif dan akomodatif sehingga Islam lebih mudah diterima masyarakat lokal.

Demikian disampaikan Prof. Dr. H. Azyumardi Azra dalam Acara Pengajian Ramadhan 1434 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang mengammbil tema “Etika Muhammadiyah: Spiritualitas Ihsan yang Berkemajuan Perspektif Teologis” di ruang sidang Gedung Ar Fahrudin A Kampus terpadu UMY, Kamis lalu (11/7).

Tasawuf, lanjut Azyumardi, masih bertahan sampai saat ini namun banyak mispersepsi dikalangan muslimin yang menganggap tasawuf sebagai penyebab keterbelakangan dunia Islam. “Tasawuf tetap bertahan sampai hari ini. Tetapi, pada saat yang sama, juga bertahan mispersepsi tentang tasawuf. Masih banyak kalangan Muslim yang masih menganggap tasawuf sebagai penyebab keterbelakangan Dunia Islam karena menurut mereka, tasawuf hanya menyebabkan pasivisme.” Jelasnya.

Padahal, kata Azyumardi, tasawuf di Nusantara sejak abad 17 dan seterusnya sangat aktivis, dimana para tokoh Sufi katif dalam kehidupan keagamaan. “Banyak gerakan perlawanan terhadap kolonial Belanda sejak abad ke 17 dipimpin para pimpinan tasawuf dan tarekat.” Tambahnya.

Iya meyakini gelombang modernisasi dan globalisasi yang kian kencang saat ini tidak justru membuat pengamalam tasawuf tersingkir bahkan, tasawuf terus menemukan momentum dengan munculnya bentuk-bentuk pengamalan baru. “Sekali lagi tasawuf tetap bertahan. Ia tidak tersingkir dalam gelombang modernisasi dan globalisasi yang demikian kencang menggoncangkan berbagai aspek kehidupan. Bahkan sebaliknya tasawuf terus menemukan momentum. Dalam gejolak perubahan itu, pengamalan tasawuf konvensional secara personal-individual dan kelompok atau melalui tarekat terus bertahan, jika tidak meningkat” tambanya.

Bagi guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta adanya anggapan bahwa sufisme atau tasawuf tidak relevan dengan kemoderenan Bahkan, sebaliknya Sufisme mereka pandang sebagai hambatan bagi kaum Muslimin dalam mencapai modernitas dan kemajuan dalam berbagai lapangan kehidupan. “Pandangan-pandangan seperti itu nampaknya perlu dikaji ulang setelah lebih dari setengah abad negara-negara dan masyarakat-masyarakat Muslim mengalami proses modernisasi.” Paparnya.

Sebaliknya, kata Azyumardi modernisasi yang kemudian diikuti globalisasi yang tidak terbendung memunculkan kesulitan-kesulitan baru dalam kehidupan. Mulai dari meningkatnya gaya hidup materialistik dan hedonistik, sampai kepada disorientasi dan dislokasi sosial, politik dan budaya. ”Modernitas dan modernisasi tidak selalu berhasil memenuhi janji-janjinya bagi peningkatan kesejahteraan kaum Muslimin, baik lahir maupun batin.” Pungkasnya.