Siswa Pesantren sebagai Agent of Change Energi Terbarukan

Januari 28, 2011 oleh : BHP UMY

Siswa pondok pesantren dapat dijadikan agent of change atau agen perubahan untuk mensosialisaiskan mengenai penggunaan energi terbarukan di kalangan masyarakat. Siswa pondok pesantren akan kembali ke masyarakat sehingga mereka akan lebih mudah untuk berkomunikasi dengan masyarakat terkait penggunaan energi terbarukan. Harapannya akan meningkatkan partisipasi dan keterlibatan masyarakat mengenai penggunaan energi terbarukan.

Hal ini yang dipresentasikan oleh tiga dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr. Indira Prabasari, Ir.Tony K. Hariadi, M.Eng, Sri Atmaja P. Rosyidi, Ph.D, pada ‘Innovation and Sustainability Transitions in Asia’ yang diselenggarakan Asia-Pasific Network for Global Change Research (APN) di University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia pertengahan  Januari lalu.

Paper mengenai ‘Modelling a Sustainable Bioenergy Transition in Indonesia’ tersebut merupakan salah satu dari sekitar 70 paper yang dipresentasikan dari berbagai Negara mulai dari Jepang, Nigeria, Perancis, Afrika dan lainnya.

Lebih lanjut Indira menjelaskan bahwa di Indonesia kebutuhan untuk mengimplementasikan bionernergi sudah banyak. Namun belum sepenuhnya diterima atau dipahami oleh masyarakat mengenai adanya bionergi tersebut. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan mengenai efisiensi energy, sumber daya energy terbarukan maupun teknologi yang digunakan.

“Selain itu sebagian besar masyarakat masih tergantung pada penggunaan energy fosil atau energy tak terbarukan. Sehingga diperlukan sosialisasi agar partisipasi masyarakat terkait penggunaan bioenergi meningkat,”urainya ketika ditemui di Kampus Terpadu UMY Kamis (27/1).

Ketika ditanya mengapa siswa pondok pesantren, dijelaskan Indira bahwa siswa pesantren adalah agen perubahan dalam masyarakat. Setelah lulus, alumni dari pesantren akan kembali ke kota asal mereka dan menjadi pemimpin agama. “Dimana kata-kata mereka seringkali yang akan diikuti oleh warga.”jelasnya.

Dalam pemaparan Indira ada sekitar 9000 pesantren yang tersebar di Indonesia. “Pada dasarnya pengetahuan mengenai pemanfaatan energy terbarukan harus memasuki semua lini masyarakat. Dan siswa pesantren memiliki potensi untuk mensosialisasikan penggunaan energy terbarukan ke masyarakat luas. Terlebih banyak pesantren tersebar di berbagai wilayah Indonesia,”ujarnya.

Terkait bagaimana proses pelatihan untuk para siswa, menurut Indira siswa-siswa di pesantren di Indonesia diampbil beberapa sample, tidak seluruh siswa pesantren hanya perwakilan saja di tiap pesantren.

“Kemudian dari perwakilan tersebut akan dilatih dan diberi penjelasan maupun pemanfaatan mengenai bionergi atau energy terbarukan. Harapannya semakin banyak masyarakat yang paham dan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap energy fosil.”tegasnya.