Sistem Pengawas Manusia Dalam Bermasyarakat

Mei 14, 2019 oleh : BHP UMY

Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Akan tetapi, terkadang manusia juga merasa tidak membutuhkan orang lain dan rela melakukan apapun demi mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk itu, agama berperan penting dalam melakukan pengawasan dan hukum agar manusia tidak semakin berbuat semaunya sendiri sehinga merugikan pihak lain.

“Hidup bermasyarakat itu adalah esensi dari manusia, manusia tidak akan bisa hidup sendirian tanpa bantuan dari orang lain,” ujar Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) Universitas Mummadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, Ma. saat menyampaikan ceramah shalat terawih beberapa waktu lalu di Masjid K.H Ahmad Dahlan UMY.

Selain membutuhkan pihak lain untuk dapat bertahan hidup, terdapat ciri lain yang menunjukkan manusia sebagai makhluk sosial, yaitu manusia memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Dalam kehidupan bersosial masyarakat dipenuhi oleh kepentingan-kepentingan kelompok atau individu. Tidak jarang manusia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.

Untuk itu, Syamsul Anwar mengatakan bahwa dalam kehidupan dibutuhkannya sistem yang mengawasi kehidupan setiap manusia. “Dalam kehidupan terdapat tiga sistem pengawasan yag berfungsi agar manusia tetap berada pada jalur yang tepat dan tidak menimbulkan aspek yang dapat merugikan sesama atau dirinya sendiri di kemudian hari,” katanya.

Pertama, Allah SWT akan melihat segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Dalam hal ini, yang dimaksud melihat bukan berarti Allah SWT menonton secara langsung, tetapi mengawasi. Pengawasan Allah SWT tidak dalam bentuk fisik, akan tetapi direpresentasikan melalui hati nurani masing-masing. Jika seorang manusia ingin melakukan hal buruk, maka bertnyalah kepada hati nuraninya.

Kedua, pengawasan oleh Rasul, yang dimaksud dengan pengawasan Rasul merupakan pengawasan melalui institusi yang didasarkan melalui ketentuan-ketentuan hukum syariah.

Ketiga, pengawasan sosial, maka setiap umat Islam atau warga negara merupakan pengawas bagi orang lain. Oleh karena itu seorang muslim harus memiliki perhatian dengan permasalahan yang sedang terjadi dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Pada akhir ceramah, Syamsul mengingatkan kepada seluruh jamaah untuk selalu mencari nilai-nilai yang didapatkan selama menjalankan ibadah puasa dan berharap dapat mensucikan hati. “Semoga puasa ini menjadi titik dimana kita dapat mensucikan hati dan dapat mengamalkan hal-hal yang disampaikan tadi,” pungkasnya.(ak)