Setiap Satu Jam Perempuan Indonesia Meninggal Akibat Kanker Serviks

Mei 2, 2011 oleh : BHP UMY

Di dunia setiap dua menit seorang perempuan meninggal akibat kanker serviks sedangkan di Indonesia setiap satu jam satu perempuan meninggal karena kanker serviks. Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker ginekologi di seluruh dunia.

Demikian disampaikan Ahli Kandungan dan Kedidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Alfaina Wahyuni, M. Kes, Sp. OG dalam Seminar Awam ‘Mengenal dan Mencegah Kanker Leher Rahim’ di Asri Medical Center (AMC-UMY) Sabtu (30/4).

Lebih lanjut Alfaina menjelaskan kanker serviks atau kanker leher rahim adalah tumbuhnya sel abnormal pada leher rahim. Penyebabnya yaitu Human Papiloma Virus (HPV). “Setiap wanita segala usia dapat terkena kanker serviks. Tetapi jarang ditemukan pada usia sebelum 20 tahun.”jelasnya.

Selain itu terkait dengan penggunaan pembalut wanita ketika menstruasi atau datang bulan, disarankan hanya menggunakan pembalut ketika memang sedang menstruasi dan juga harus sering diganti.

“Karena penggunaan pembalut akan menimbulkan kelembapan berlebih di daerah kewanitaan. Kemudian yang perlu diingat juga dalam penggunaan cairan-cairan pembersih vagina, jangan terlalu sering. Ketika rutin atau setiap hari mengunakan cairan tersebut justru akan menghilangkan kuman-kuman baik yang ada di vagina.”urainya.

Terkait dengan pencegahan kanker serviks dalam penuturannya ada beberapa hal yang bisa dilakukan. “Dengan menghindari faktor resiko seperti menunda hubungan seksual atau menikah hingga usia 20 tahun atau lebih, tidak berganti-ganti pasangan, menghindari Penyakit Menular Seksual (PMS), tidak merokok, hidup sehat, cukup gizi mulai dari vitamin A, C, beta carotene maupun asam folat.”tuturnya.

Sementara itu Ahli Obstetri dan Ginekologi FKIK UMY, Dr. Supriyatiningsih, M. Kes, Sp. OG dalam kesempatan tersebut juga menambahkan, untuk pencegahan terhadap kanker leher rahim tersebut dapat dilakukan dengan pencegahan primer dan sekunder.

“Pencegahan primer untuk orang-orang tanpa bukti klinis belum terkena penyakit dapat dilakukan dengan vaksin dan juga edukasi atau sosialisasi terhadap masyarakat mengenai bahaya kanker leher rahim. Kemudian pencegahan sekunder untuk orangorang yang sudah terbukti klinis terkena penyakit. Hal ini dilakukan untuk memperlambat atau menghentikan perjalanan penyakit. Misalnya melakukan skrining atau deteksi dini dengan pap’smearPap’smear dilakukan untuk wanita yang sudah melakukan hubungan seksual atau menikah. Jika belum menikah maka tidak melakukan pap’smear tetapi diberikan vaksin,”tegasnya.

Mengapa vaksinasi, dalam pemaparannya risiko HPV bermula pada usia remaja dan terus berlanjut. Inveksi Papiloma Virus (PV) tidak memberikan respon imun kuat untuk mencegah infeksi berulang. “Kemudian imunitas manusia secara alamiah akan menurun seiring dengan bertambah usia. sehingga semakin bertambah usia semakin bertambah juga risiko terkena HPV. Vaksin sebaiknya diberikan sebelum terpapar infeskis HPV misalnya sejak usia remaja 10 hingga 24 tahun sampai dengan 45 tahun,”paparnya.Di dunia setiap dua menit seorang perempuan meninggal akibat kanker serviks sedangkan di Indonesia setiap satu jam satu perempuan meninggal karena kanker serviks. Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker ginekologi di seluruh dunia.

Demikian disampaikan Ahli Kandungan dan Kedidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Alfaina Wahyuni, M. Kes, Sp. OG dalam Seminar Awam ‘Mengenal dan Mencegah Kanker Leher Rahim’ di Asri Medical Center (AMC-UMY) Sabtu (30/4).

Lebih lanjut Alfaina menjelaskan kanker serviks atau kanker leher rahim adalah tumbuhnya sel abnormal pada leher rahim. Penyebabnya yaitu Human Papiloma Virus (HPV). “Setiap wanita segala usia dapat terkena kanker serviks. Tetapi jarang ditemukan pada usia sebelum 20 tahun.”jelasnya.

Selain itu terkait dengan penggunaan pembalut wanita ketika menstruasi atau datang bulan, disarankan hanya menggunakan pembalut ketika memang sedang menstruasi dan juga harus sering diganti.

“Karena penggunaan pembalut akan menimbulkan kelembapan berlebih di daerah kewanitaan. Kemudian yang perlu diingat juga dalam penggunaan cairan-cairan pembersih vagina, jangan terlalu sering. Ketika rutin atau setiap hari mengunakan cairan tersebut justru akan menghilangkan kuman-kuman baik yang ada di vagina.”urainya.

Terkait dengan pencegahan kanker serviks dalam penuturannya ada beberapa hal yang bisa dilakukan. “Dengan menghindari faktor resiko seperti menunda hubungan seksual atau menikah hingga usia 20 tahun atau lebih, tidak berganti-ganti pasangan, menghindari Penyakit Menular Seksual (PMS), tidak merokok, hidup sehat, cukup gizi mulai dari vitamin A, C, beta carotene maupun asam folat.”tuturnya.

Sementara itu Ahli Obstetri dan Ginekologi FKIK UMY, Dr. Supriyatiningsih, M. Kes, Sp. OG dalam kesempatan tersebut juga menambahkan, untuk pencegahan terhadap kanker leher rahim tersebut dapat dilakukan dengan pencegahan primer dan sekunder.

“Pencegahan primer untuk orang-orang tanpa bukti klinis belum terkena penyakit dapat dilakukan dengan vaksin dan juga edukasi atau sosialisasi terhadap masyarakat mengenai bahaya kanker leher rahim. Kemudian pencegahan sekunder untuk orangorang yang sudah terbukti klinis terkena penyakit. Hal ini dilakukan untuk memperlambat atau menghentikan perjalanan penyakit. Misalnya melakukan skrining atau deteksi dini dengan pap’smearPap’smear dilakukan untuk wanita yang sudah melakukan hubungan seksual atau menikah. Jika belum menikah maka tidak melakukan pap’smear tetapi diberikan vaksin,”tegasnya.

Mengapa vaksinasi, dalam pemaparannya risiko HPV bermula pada usia remaja dan terus berlanjut. Inveksi Papiloma Virus (PV) tidak memberikan respon imun kuat untuk mencegah infeksi berulang. “Kemudian imunitas manusia secara alamiah akan menurun seiring dengan bertambah usia. sehingga semakin bertambah usia semakin bertambah juga risiko terkena HPV. Vaksin sebaiknya diberikan sebelum terpapar infeskis HPV misalnya sejak usia remaja 10 hingga 24 tahun sampai dengan 45 tahun,”paparnya.