Senjata Nuklir Masih Mengancam Dunia

Mei 7, 2013 oleh : BHP UMY

SAM_2156Amerika Serikat (AS) memiliki komitmen yang kuat untuk menciptakan perdamaian dan keamanan dunia tanpa senjata nuklir. Hal itu diwujudkan dengan senjata nuklir AS yang dikurang setiap tahunnya. Namun penting bagi masyarakat luas untuk mengetahui perspektif AS dalam memiliki senjata nuklir.

Hal tersebut disampaikan oleh Geoffrey Wessel selaku political officer Kedutaan Besar Amerika Serikat dalam seminar Internasional bertajuk “Proliferation of Global Nuclear Weapons” di ruang sidang Ar Fachrudin A Kampus Terpadu UMY, Sabtu (4/5).

Dalam paparannya ia menjelaskan kepemilikan senjata nuklir oleh negaranya betujuan untuk melindungi keamanan nasional serta menjamin keamanan Negara-negara sekutunya. “Melindungi keamanan nasional kita maupun keamanan sekutu-sekutu kami” paparnya. Pengurangan senjata nuklir yang tengah digencarkan negara-negara didunia saat ini memiliki permasalahan seperti adanya negara yang tidak tidak mengikuti perjanjian non proliferasi nuklir seperti India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara yang telah menarik diri dari perjanjian itu.Negara-negara tersebut, lanjut Geoffrey, kerap melakukan aksi-aksi provokatif seperti yang dilakukan Korea Utara. “Program nuklir Korea Utara mengancam stabilitas Asia dengan aksi-aksi provokatif yang dilakukan” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut Geoffrey juga menyinggung pengembangan energy nuklir yang dilakukan Iran. Ia menyatakan Iran sebagai anggota NPT (Non-Proliferation Treaty) melanggar kewajiban yang tertuang dalam kesepakatan NPT, IAEA, serta United Nations Security Resolution (UNSCRs) 1696, 1737, 1747, dan 1803. Karena telah melakukan pengayaan uranium melampaui batas yang diperlukan untuk penggunaan sipil. Serta Negara tersebut tidak kunjung menyepakati inspeksi yang akan dilakukan oleh IAEA.

Selain aktor negara, dalam paparannya dihadapan puluhan Mahasiswa HI UMY peserta diplomatic course, aktor non negara seperti jaringan teroris turut menciptakan permasalahan dalam pengurangan senjata nuklir di dunia. Karena, kata Geoffrey, jaringan teroris juga terus berupaya untuk dapat memiliki teknologi nuklir untuk menyerang musuh mereka. “Jaringan teroris berupaya memiliki nuklir, mereka akan menyerang negara yang mereka bisa serang” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Prodi HI UMY, Ali Muhammad, P.hD yang turut menjadi pembicara dalam acara tersebut mengutarakan permasalahan dalam NPT justru muncul akibat dari adanya negara yang dianggap “halal” atau sah memiliki persenjataan nuklir seperti AS dan beberapa negara lainnya.

Kepemililkan senjata nuklir, lanjut Ali, dapat menciptakan kondisi dunia yang berbahaya. Mengingat apabila aturan “no first use” dilanggar maka akan menimbulkan serangan balasan dari negara lain yang diserang. “Apabila suatu negara menembakkan senjata nuklirnya maka akan dibalas oleh negara lainnya, dampak dari senjata itu sangat berbahaya, jenis (bom) yang dilepaskan di Hirosima saja dapat menewaskan 150 ribu orang, saat ini ada 23ribu senjata nuklir tersebar diseluruh dunia” ungkapnya.

Ali menjelaskan, ada beberapa alasan setiap negara untuk memiliki persenjataan nuklir. Diantaranya adalah tidak adanya penguasa tunggal yang melindungi negara-negara dari serangan negara lain dan dapat menjamin suatu negara tidak menyerang satu sama lainnya dalam sistem internasional, “sehingga hal itu menuntut mereka untuk mampu menjamin keamanannya sendiri,” pungkasnya.