Selalu Bertransaksi dengan Rupiah dapat Membantu Peningkatan Nilai Rupiah

September 8, 2015 oleh : BHP UMY

IMG_8844Pergerakan rupiah dari awal tahun 2015 hingga sampai saat ini masih mengalami depresiasi. Tidak ada kepastian yang jelas dari pemerintah terkait kenaikan harga rupiah untuk dolar yang setiap waktunya dapat berubah dengan cepat. Hal tersebut dapat berimbas pada beberapa pihak yang menjadi lebih gemar menjadikan dolar sebagai mata uang saat bertransaksi. Namun pada hakikatnya, bertransaksi dengan menggunakan dolar dapat berimbas pada pemerosotan nilai tukar rupiah yang lebih mendalam.

“Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya selalu bertransaksi dengan mata uang rupiah untuk dapat kembali menguatkan nilai tukar rupiah,” jelas Lilies Setyartiti,S.E.,M.Si, dosen Fakultas Ekonomi UMY dalam Diskusi Publik bertemakan “Pelemahan Nilai Tukar Rupiah dan Ancaman Krisis bagi Perekonomian Indonesia” pada Selasa (8/9) di Ruang Kelas IPIEF A Gedung E lantai 2. Masih banyak masyarakat Indonesia tingkat atas yang gemar bertransaksi menggunakan dolar daripada menggunakan rupiah. Lilis mengatakan hal tersebut dikarenakan masyarakat tingkat atas merasa aman menggunakan dolar karena dolar tidak mudah terombang-ambing seperti yang terjadi pada mata uang lainnya.

Namun aksi demikian yang justru akan semakin memperburuk merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sedangkan merosotnya nilai tukar rupiah sendiri, Lilis menyebutkan, juga akan berimbas pada pemilik usaha yang mengandalkan sistem impor. “Pihak yang akan sangat merugi adalah pengimpor bahan mentah yang kemudian dijadikan barang riil dan dipasarkan di dalam negeri. Contohnya pengusaha tempe yang mengimpor kedelai,” terang Lilis.

Nilai tukar rupiah yang tidak stabil dan tidak dapat diduga juga merupakan akibat dari sistem ekonomi Indonesia yang “Floating” atau mengambang, sehingga menimbulkan ketidakpastian dalam nilai tukar rupiah terhadap dolar. “Sedangkan 70% dari pasar di Indonesia dikuasai oleh pihak asing. Sehingga ketika rupiah melemah, juga dapat berimbas pada perginya para investor-investor asing dari pasar Indonesia yang dapat menyebabkan pasar Indonesia menjadi ambruk,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa sangat penting bagi masyarakat Indonesia untuk mengembangkan Sumber Daya Manusianya dalam sektor Investasi pula.

Hal ini serupa dengan yang disampaikan oleh Hafid Khoir Maulana, seorang ekonom muda UMY, bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia dapat didukung dengan konsumsi produk lokal. “Masyarakat Indonesia itu memiliki sifat konsumtif. Namun apa yang dikonsumsi lebih banyak merupakan produk impor yang dapat melemahkan produk lokal,” ungkapnya. Produsen Indonesia seharusnya lebih dapat mengembangkan kualitas produk dalam negeri sehingga tidak kalah saing dengan produk asing. Sedangkan Konsumen Indonesia seharusnya juga dapat membantu dengan mengkonsumsi produk dalam negeri.

“Masyarakat Indonesia memang sudah memberdayakan ekspor. Namun yang kebanyakan diekspor adalah barang mentah, sedangkan yang diimpor adalah barang jadi. Sedangkan harga ekspor barang mentah tentunya lebih murah dibandingkan dengan harga barang jadi yang diekspor,” jelas Hafid. Hal tersebut yang kemudian menjadikan ekspor Indonesia tidak terlalu memberikan dampak positif pada perkembangan ekonomi Indonesia. (Adam;Deansa)