Selain Kompeten dalam Keilmuan, Mahasiswa Harus Kompeten dalam Bahasa

Mei 10, 2016 oleh : BHP UMY

IMG_5597Era globalisasi dengan adanya pasar global dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia. Khusus bagi mahasiswa sendiri, memiliki kompetensi di bidang keilmuan saja tidak cukup, namun juga harus diimbangi dengan kompetensi berbahasa.

Hal tersebut yang disampaikan oleh Gendroyono, S.Pd. M.Pd., Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa (FPB) UMY dalam pembukaan International Language Festival “Word Literacy” pada Selasa (10/05) di Mini Teather Gedung D UMY. Ia menambahkan bahwa selain harus fokus pada bidang keilmuan masing-masing, mahasiswa juga harus dapat menguasai bahasa asing.

Gendroyono memberikan contoh tentang banyaknya perawat asal Filipina yang bekerja di negara Australia. “Setiap tahunnya, Australia membutuhkan kurang lebih 4.000 perawat, namun negaranya hanya mampu mencukupi setengahnya saja. Sehingga banyak perawat dari Filipina yang masuk dan bekerja di Australia. Alasannya buka karena kompetensi keperawatan saja yang mereka miliki, namun juga bahasa yang mereka kuasai,” ungkap Gendroyono.

Sedangkan di Indonesia sendiri, Gendroyono menyayangkan kebanyakan dari mahasiswa dan para perawat masih kalah dalam berbahasa dengan mahasiswa dan perawat asal Filiphina. “Saya mendapatkan informasi bahwa sesungguhnya kemampuan perawat lulusan Indonesia bahkan UMY, itu lebih baik daripada kemampuan perawat asal Filipina. Perawat asal Indonesia biasanya dikenal penyabar. Namun, kita masih kalah di bidang bahasa dibanding dengan perawat asal Filipina,” jelas Gendroyono.

Sehingga, mahasiswa saat ini tengah dihadapkan pada tantangan yang bukan hanya pada persaingan keilmuan namun juga persaingan kecakapan berbahasa. “Oleh karenanya, mahasiswa harus dapat mempelajari berbagai bahasa asing. Tidak hanya bahasa Inggris saja namun juga bahasa lain seperti bahasa Spanyol, dan lain-lain. Semakin banyak bahasa asing yang dikuasai tentu akan semakin membuka peluang pekerjaan di luar negeri, pertemanan dengan masyarakat asing, dan kesempatan mendapatkan beasiswa juga akan semakin terbuka,” tutup Gendroyono.

International Language Festival (ILF) sendiri merupakan agenda dari Self Access Center (SAC) UMY yang berlangsung selama tiga hari dari Selasa hingga Kamis (10-12/05), dengan mengusung tema “Word Literacy”. Kepala SAC UMY, Lanoke Intan Paradita, menyampaikan bahwa dengan diusungnya tema tersebut diharapkan dapat membawa kembali minat baca para peserta ILF 2016.

Pada praktiknya, masih banyak orang yang menganggap bahwa literacy hanya terkait membaca buku dan berkaitan dengan sesuatu yang serius saja. “Literasi itu sebenarnya juga berkaitan dengan reading for pleasure (membaca untuk kesenangan-red.), tetapi belum banyak yang melakukannya. Sehingga di acara ILF ini kami ingin membawa peserta dan memberi tahu bahwa membaca itu menyenangkan,” ungkap Lanoke saat diwawancarai.

Lanoke juga mengungkapkan bahwa mahasiswa Indonesia saat ini masih kurang dalam berbahasa asing, sehingga untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam berbahasa asing tersebut harus memulainya dengan kebiasaan membaca. “Dan karena itulah, dalam hal ini SAC bertindak sebagai pemantiknya, dengan mengajak mahasiswa untuk mulai senang membaca,” imbuhnya.

Dalam agenda ILF 2016 ini, ada beberapa rangkaian acara yang dapat diikuti oleh peserta. Antara lain terdapat big DIC (Drop In Center) Class yang diisi oleh Angela yang merupakan pemateri asal Amerika, Kelas bahasa asing (10 bahasa), Talkshow “Literacy Beyond Borders”, Movie Screening “Dead poet Society”, Lomba Story Telling dan Poetry Competition untuk SMA, dan Lomba Photo Essay dan Menulis Cerita Pendek yang terbuka untuk umum. (Deansa)