Sekolah-Sekolah di DIY Masih Butuhkan 16 % Guru Bahasa Arab

September 14, 2011 oleh : BHP UMY

Sekolah-sekolah di bawah Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih membutuhkan sekitar 16 % pendidik atau guru bahasa Arab. Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pendidik bahasa Arab tersebut Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) membuka Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (Prodi PBA).

Menurut Kepala Prodi PBA UMY- Arif Widodo, S.Pd, M.S.I saat ini masih banyak tenaga pendidik yang mengajarkan bahasa Arab tetapi bukan berasal dari lulusan PBA. “Sehingga melalui Prodi PBA ini harapannya dapat mencetak pendidik yang berkualitas dan kompetitif berdasarkan nilai-nilai keislaman,”urainya dalam diskusi terbatas ‘Prospek Lulusan Pendidikan Bahasa Arab’ di Kampus Terpadu UMY Selasa (13/9) siang.

Sehingga berdasarkan kebutuhan guru atau tenaga pendidik itulah kemudian UMY melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) UMY membuka Prodi PBA. Dimana nantinya dalam penuturan Arif para mahasiswa akan dididik agar menjadi seorang pengajar yang tidak hanya paham materi dan ilmu yang diberikan. “Tetapi juga bisa menerapkan serta mengajarkan ilmu yang telah dipahami tersebut,”jelasnya.

Prospek lulusan PBA dalam penuturan Arif, lulusan tidak hanya akan bekerja sebagai pendidik seperti guru maupun dosen. “Lulusan bisa juga menjadi praktisi misalnya sebagai penerjemah, editor, pemandu wisata maupun staf kedutaan besar. Selain itu bisa juga berwirausaha misalnya membuka tempat kursus bahasa Arab kemudian menjadi manajer kursus, maupun manajer biro penerjemah,”jelasnya.

Untuk mempersiapkan lulusan agar mampu bersaing Arif mengungkapkan mahasiswa PBA UMY akan diberikan materi-materi yang menunjang pendidikan mereka. “Akan diberikan materi berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) bermuatan soft skill. Mulai dari materi kemampuan kemahiran bahasa Arab, melaksanakan pendidikan dan pengajaran bahasa Arab, kemampuan merancang dan melakukan penelitian ilmiah, dan lainnya.”ungkapnya.

Selain itu para mahasiswa juga akan dibekali kemampuan berinovasi dalam menerapkan Ilmu Pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di bidang bahasa dan pembelajaran bahasa. “Misalnya terkait dengan Information and Communication Technology (ICT) baik off line maupun on line. Mereka juga akan dibekali dalam pembuatan media pembelajaran. Sehingga mereka tidak hanya memanfaatkan teknologi yang ada tetapi juga bisa membuatnya, salah satunya media pembelajaran bahasa Arab dalam bentukgame.”tambahnya.

Dalam materi-materi yang diberikan tersebut menurut Arif mahasiswa juga dibekali muatan soft skill. “Kemampuan seperti berkomunikasi dalam kelompok maupun masyarakat, keberanian memulai maupun mengembangkan inovasi. Kemudian kemampuan sebagai fasilitator, motivator maupun mediator secara sistematik dan efektif. Serta kemampuan dalam mengimplementasikan nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari,”tegasnya.

Arif juga memaparkan untuk menambah kemampuan mahasiswa, mereka tidak hanya diberikan materi di kelas tetapi juga praktik dan magang. “Mereka tidak hanya diberi teori saja di kelas tetapi juga melakukan praktikum di luar kelas misalnya di sekolah-sekolah. Kemudian para mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk magang. Sehingga bisa mengaplikasikan ilmu tidak hanya praktik mengajar, mereka juga bisa menerapkan pembuatan media pembelajaran dan metode pengajaran yang tepat,”tandasnya.

Sharing is caring!