Sambut MEA, Kapabilitas SDM Indonesia Harus Dibangun

Agustus 29, 2015 oleh : BHP UMY

IMG_8580Dalam menghadapi pasar bebas ASEAN atau yang biasa dikenal dengan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang akan berlangsung pada akhir tahun 2015 ini, mengundang sejumlah pandangan di kalangan stakeholdes, baik pengusaha, pemerintah, dan masyarakat, baik dari sisi optimis maupun pesimis. Sebagai bentuk persiapan masyarakat Indonesia dalam menghadapi MEA khususnya bagi kalangan akademisi dan pengusaha, Program Magister Manajemen (MM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar Acara Seminar dan Gathering Alumni dan Mahasiswa pada (29/8) bertempat di Ruang Konvensi lantai 4 Gedung Pascasarjana.

Indonesia memiliki kualitas sumber daya alam (SDA) yang cukup baik dibandingkan dengan negara lain, untuk menghadapi MEA. Selain pemanfaatan SDA yang dapat dilakukan oleh masyarakat Indonesia, masyarakat dapat memanfaatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang cukup tinggi, dengan pendidikan keterampilan yang variatif, dan mental berkerja yang tinggi. Hal tersebut diungkapkan Drs. Untung Sukaryadi, MM, selaku Kepala Dinas Sosial DIY sekaligus alumni MM UMY. “Industri kreatif, dan variatif dapat menjadi akses bagi masyarakat Indonesia untuk menghadapi tantangan dalam pembentukan organisasi bisnis yang dapat bersaing secara global, dan peningkatan produksi dalam negeri harus semakin menunjang, baik dari secara kualitas dan kuantitas,” ungkapnya.

Ditambahkan Untung, perlu adanya rasa nasionalisme yang ditanamkan sejak kecil kepada masyarakat Indonesia dalam hal mencintai dan menggunakan produksi lokal Indonesia, dikarenakan tingkat konsumsi produk asing di Indonesia cukup tinggi, sehingga dapat mematikan produk-produk lokal. “Ketika produk buatan Indonesia dipamerkan dan dijual di Indonesia, masyarakat tidak tertarik untuk membeli, namun ketika produk tersebut dijual ke luar negeri, dan kemudian dikembalikan lagi ke Indonesia, produk tersebut menjadi mahal dan masyarakat lebih tertarik untuk membeli. Saya rasa perlu adanya rasa bangga dan mencintai produksi lokal sejak dini untuk menekan permasalahan tersebut terjadi di Indonesia,”tambahnya.

Selain memanfaatkan dan menggunakan produksi lokal dengan baik, diperlukan pengembangan kapabilitas SDM Indonesia dalam menghadapi MEA, seperti diungkapkan Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono selaku Ketua Program MM UMY dan pembicara. “Hal yang menonjol dalam MEA adalah terbukanya kesempatan kerja seluas-luasnya bagi warga Negara ASEAN. Dalam MEA tidak hanya membuka arus perdagangan dan jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional seperti dokter, dosen, pengacara, akuntan, advokat, dan lainnya, dengan ini persaingan di bursa kerja menjadi semakin meningkat. Namun nampaknya hal ini tidak diimbangi dengan kesiapan dari SDM yang ada di Indonesia sendiri,” ujarnya.

Hal ini menurut Prof. Heru sebagaimana ditunjukkan dari hasil survei yang dilakukan The Boston Consulting Group 2014. Survei tersebut menunjukkan bahwa dalam persepsi negara-negara ASEAN, Indonesia adalah target utama ekspansi. Sementara dalam survei yang sama, Singapura, Malaysia dan Thailand adalah negara-negara yang paling optimis dengan MEA, sedangkan Indonesia termasuk yang tidak terlalu optimis. “Hal ini didukung pula dengan penelitian mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang menunjukkan bahwa pemuda Indonesia usia 18 sampai dengan 25 tahun merasa kurang siap menghadapi MEA dibandingkan Thailand,” paparnya.

Karena itulah, lanjut Prof. Heru lagi, data survei tersebut menjadi sinyal penting bagi Indonesia untuk lebih fokus mempersiapkan SDM. Terlebih digambarkan bahwa kaum muda Indonesia usia 18 hingga 25 tahun relatif tidak terlalu optimis dalam menghadapi MEA. “Jadi, strategi SDM Indonesia harus melibatkan stakeholder, tidak hanya pemerintah, namun juga asosiasi profesi, asosiasi yang berkaitan dengan usaha dan institusi pendidikan, untuk mempersiapkan kapabilitas SDM dalam jangka yang sangat pendek ini maupun jangka yang lebih panjang. Dan ada lima cara untuk mengembangkan kapabilitas SDM Indonesia menghadapai MEA ini. Pertama, SDM Indonesia harus menjadi subjek yang memahami visi untuk menjadi subjek yang optimis dan percaya diri dalam menghadapi pasar tunggal ASEAN. Kedua, membangun kompetensi menjadi prioritas penting. Ketiga, pendidikan yang menekankan pada kemampuan kolaborasi. Keempat, penting bagi dunia pendidikan untuk membangun nilai-nilai tanggung jawab dan amanah bagi SDM Indonesia, karena hal ini berkaitan dengan kredibiltas jangka panjang SDM tersebut. Dan kelima, pendidikan yang bisa membangun kepedulian dan memberi manfaat bagi lingkungan. Karakteristik ini penting dibangun sehingga kehadiran SDM Indonesia bisa menjadi solusi atas masalah-masalah yang dihadapi di tempat kerja, khususnya saat MEA mulai berlangsung nantinya,” tutupnya. (adm)