Sains, Teknologi, dan Pendidikan Jadi Syarat Kemajuan Dunia Islam

Mei 2, 2016 oleh : BHP UMY

IMG_5420Dunia Islam saat ini mengalami kemajuan yang cukup pesat dengan semakin berkembangnya pemeluk Islam yang semakin bertambah. Akan tetapi, perkembangan umat Islam tersebut masih banyak mengalami problematika, seperti masih banyaknya kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Problematika tersebut akan teratasi jika umat Islam mengedepankan kemajuan sains, teknologi dan pendidikan. Ketiga hal tersebut yang menjadi syarat kemajuan dunia Islam.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Din Syamsuddin saat menjadi pembicara dalam ceramah dan diskusi pakar, yang diadakan oleh Program Doktor Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Senin, (2/5) di Gedung Pascasarjana UMY. Dalam penyampaian tersebut, Din mengatakan bahwa Islam akan maju jika mempunyai sains dan teknologi, serta pendidikan. Namun ketiga syarat tersebut belum dimiliki oleh dunia Islam secara keseluruhan. “Saat ini dunia Islam belum mempunyai sains dan teknologi, serta tingkat pendidikan di dunia Islam yang masih memprihatinkan. Ketidakberdayaan umat Islam dalam hal sains dan teknologi, serta minimnya pendidikan inilah yang mengakibatkan dunia Islam masih mengalami kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan,” ungkap pakar pemikiran politik Islam tersebut.

Namun di sisi lain, keterpurukan dunia Islam dalam hal sains, teknologi, serta minimnya pendidikan tersebut tidak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki oleh dunia Islam. Seperti yang disebutkan oleh Din, bahwa ada empat hal yang menjadi kekuatan dunia Islam. Diantaranya yaitu berkembangnya sumber daya manusia yang pesat, adanya kekuatan sumber daya alam di negara-negara Islam, memiliki sumber daya nilai, serta kejayaan umat Islam di masa lalu. “Meskipun dunia Islam memiliki berbagai sumber daya alam dan sumber daya manusia yang mumpuni, tapi dunia Islam masih belum bisa berdiri sendiri. Kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan akan terus ada hingga umat Islam sendiri dapat menjadi produsen, dan dapat terlepas dari paradigma barat,” papar Din.

Keterpurukan ekonomi yang dialami oleh dunia Islam, dibarengi dengan kurangnya intelektual. Sistem yang digunakan oleh umat Islam saat ini masih mengadopsi barat yang penuh dengan sekulerisme, sehingga memberikan keraguan umat Islam terhadap ajaran agamanya. Seperti yang dikatakan oleh Din, kekuatan yang dimiliki oleh dunia Islam dalam hal adanya sumber daya nilai, umat Islam harus menjadikan agama sebagai etik. “Untuk menghidupkan nilai-nilai etik dalam agama Islam, dan mengaitkan pendidikan dan ekonomi merupakan suatu hal yang saling berkaitan, harus ada paradigma pendidikan baru. Hal ini karena umat Islam masih dikuasai dengan paradigma Barat. Dan untuk memajukan dunia Islam, harus direvitalisasi dari pendidikan dan ekonomi,” ujarnya.

“Meskipun umat Islam memiliki kekuatan dalam hal sumber daya manusia dan sumber daya alam yang diperhitungkan dunia, namun kesolidan masih menjadi tantangan. Dalam waktu dekat dunia Islam belum bisa tampil untuk menguasai dunia, dan butuh 5 dekade untuk bisa terlepas dari pengaruh asing,” terangnya. (hv)