RUMPI PENDIAM Jadi Salah Satu Sarana Pengobatan Diabetes Mellitus

Juni 5, 2014 oleh : BHP UMY

Peserta RUMPI PENDIAM di Desa Tlogo Kasihan Bantul saat melakukan terapi senam kaki diabetik

Diabetes Mellitus masih menjadi salah satu penyakit mematikan di dunia, dengan tingkat insidensi yang semakin meningkat hingga 300 juta penderita. Penyakit ini ternyata juga banyak ditemui di tingkat pedesaan, sebagaimana yang terjadi di Desa Tlogo Kasihan Bantul. Penderita diabetes mellitus di desa ini dari waktu ke waktu semakin meningkat, bahkan hampir mencapai 20 penderita. Karena itulah, lima mahasiswa Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Keperawatan (FKIK) UMY, yakni Zulfa Mahdiatur Rasyida, Sri Ayu Rahayu Paneo, Savira Dhania Mukti, Afi Budi Kurniawan, dan Lia Nur Latifah mencoba membantu para penderita tersebut dengan memberikan pendampingan melalui RUMPI PENDIAM (Rumah Peduli Penderita Diabetes Mellitus).

RUMPI PENDIAM ini sendiri sebenarnya merupakan kegiatan yang mengarah pada koping adaktif, peningkatan kualitas hidup penderita, dan penumbuhan kesadaran diri penderita Diabetes Mellitus. Zulfa Mahdiatur Rasyida, ketua pelaksana kegiatan RUMPI PENDIAM mengatakan bahwa kegiatan tersebut dijalankan karena pelayanan kesehatan dan upaya promotif serta preventif (pencegahan) yang diberikan oleh petugas kesehatan di daerah tersebut masih kurang. “Sehingga penderita DM terus menerus meningkat. Selain itu, pengetahuan tentang DM sendiri juga masih minim, dan penderitanya masih jarang yang mau meminum obat,” ungkap Zulfa, saat ditemui pada Kamis (5/6).

Padahal, menurutnya, pengetahuan tentang DM serta pencegahan dan cara pengobatannya itu sangat dibutuhkan bagi mereka. Sebab dari DM itu bisa memunculkan penyakit-penyakit lain, dan menjadikan penderitanya menderita komplikasi. “Masyarakat Desa Tlogo sangat membutuhkan suatu tempat untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang apa yang telah mereka lakukan, dalam upaya pencegahan komplikasi penyakit yang disebabkan oleh DM itu. Karena itulah kami membuat RUMPI PENDIAM ini,” ujarnya.

Dari RUMPI PENDIAM itu, lanjut Zulfa, para penderita diabetes mellitus bisa berkumpul dan saling membantu serta memotivasi untuk mempertahankan pola hidup sehat. Tidak hanya itu saja, melalui kegiatan Rumah Peduli Penderita Diabetes Mellitus tersebut diharapkan mampu membentuk perilaku para penderitanya ke arah yang adaptif. “Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di RUMPI PENDIAM seperti pemeriksaan rutin setiap minggunya, yakni pengukuran kadar gula darah sewaktu, tekanan darah, dan berat badan. Selain itu juga, memberikan pengarahan pada para penderita DM bagaimana melakukan pencegahan dari penyakit komplikasi. Salah satunya dengan berdiskusi bersama pakar yang ahli di bidang DM, dan kami juga memberikan pelatihan senam kaki diabetik pada para peserta,” paparnya.

Sri Ayu menambahkan, bahwa selama proses swabantu tersebut timnya juga memberikan selingan dengan kegiatan mengenal kaki sendiri. Pada kegiatan tersebut fasilitator memberikan kesempatan bagi semua penderita DM untuk melakukan assesment sendiri terkait kaki mereka, apakah beresiko mengalami komplikasi atau tidak. “Kegiatan swabantu ini mendatangkan antusias yang besar dari para peserta, apalagi kegiatan mengenal kaki sendiri. Karena ini menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi mereka. Kegiatan sharing informasi juga menjadi kegiatan yang paling seru, sebab para peserta mendapatkan informasi yang lebih bermanfaat dari para pakar tentang perawatan kaki, dan pencegahan komplikasi,” imbuhnya.

Sri juga berharap, kegiatan koping adaktif yang dilakukan timnya melalui RUMPI PENDIAM bagi penderita penyakit DM itu bisa menjadi salah satu sarana bagi pengobatan penyakit DM. “Karena setelah mereka mengikuti kegiatan di RUMPI PENDIAM, terbukti kesadaran mereka untuk sembuh, pemahaman mengenai DM, dan pola hidup sehat demi mencegah datangnya komplikasi sudah mengalami peningkatan dari sebelumnya. Besar harapan kami, jika para penderita itu bisa terus menerapkan koping adaptif dalam menangani penyakit DM. Dan akan lebih bersyukur lagi jika mereka bisa sembuh dari penyakit DM atau setidaknya bisa mencegah diri mereka sendiri dari penyakit komplikasi yang disebabkan oleh DM,” ungkapnya. (sakinah)