Ridwan Kamil: Masyarakat Butuh Pemimpin Melangit yang Kakinya masih Memijak Bumi

Mei 25, 2016 oleh : BHP UMY

IMG_6775

Selama ini manusia dihadapkan dengan para pemimpin yang memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda. Pemimpin tersebut juga memiliki gaya memimpin sendiri yang terkadang menimbulkan respon positif ataupun negatif dari para rakyatnya. Namun pada era saat ini, pemimpin yang sesungguhnya dibutuhkan masyarakat adalah pemimpin yang memiliki pandangan dan misi melangit, namun masih bersikap atau memijakkan kaki di bumi.

Hal tersebut yang disampaikan oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil, dalam Sesi Pleno II Konferensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) di Ruang Sidang AR. Fachruddin B lantai 5 pada Selasa (24/05). Dalam pemaparannya, Ridwan Kamil menyampaikan pengalaman kerjanya sebagai walikota selama 2,5 tahun.

Kang Emil, begitu ia sering disapa, menyampaikan bahwa manusia sudah melewati beberapa masa kepemimpinan. Pertama adalah masa ideologi, dimana seorang pemimpin diikuti karena sabdanya atau ideologinya, seperti Nabi Muhammad dan khalifah. Kang Emil menyebutkan bahwa masa itu telah berlalu.

Masa kedua adalah masa dimana para pemimpin diikuti karena mereka menaklukkan negeri-negeri. Seperti contohnya Gajah Mada dan Julius Caesar, yang masa tersebut juga sudah lewat. Masa ketiga adalah masa pemimpin yang membebaskan revolusioner seperti Soekarno, Mahatma Ghandi, dan Lee Kwan Yiuw yang juga sudah lewat masanya.

“Sekarang adalah masanya kepemimpinan seperti Pak Jokowi dan sebagian sahabatnya. Mereka memimpin dengan cita-cita melangit, namun masih bersikap membumi. Rakyat sudah tidak lagi mencari pemimpin seperti nabi, seperti raja, ataupun sosok orator yang luar biasa. Mereka mencari seperti kita, bedanya mereka (pemimpin-red.) yang lebih amanah. Saya bilang ke warga Bandung, saya tidak ada bedanya dengan anda semua. Bedanya saya cuma lebih sibuk saja, karena walikota dan bupati semuanya diurus,” jelas Ridwan Kamil.

Sebagai seorang pemimpin, Kang Emil juga tengah mempraktekkan politik jemput bola, karena untuk maju itu dijemput, bukan ditunggu. Pemimpin yang dicari adalah yang membawa perubahan dengan tipikal proaktif bukan yang hanya duduk di meja dan menunggu laporan saja. “Turun ke lapangan, ngobrol dengan warga, berinteraksi. Karena perubahan harus dijemput,” jelas Kang Emil.

Ridwan Kamil juga menyebutkan bahwa ia selalu mengutip perkataan Steve Jobs yang menyebutkan bahwa yang membedakan pemimpin dan pengikut adalah Inovasi. “Pak Jokowi selalu mengatakan jangan sibuk urusan rutin. Berinovasi! Kalau sibuk urusan rutin, nanti tahu-tahu sudah lima tahun, nanti tidak ada jejaknya,” terang Ridwan Kamil.

Sebagai seorang pemimpin, Ridwan Kamil menyebutkan juga harus berkolaborasi bersama warga. “Membangun bersama warga, berkolaborasi dengan polisi, institusi, dan dengan warga bandung. Saya ciptakan komunitas-komunitas, saya rangkul warga sesuai forum-forum keahlian,” sebut Ridwan Kamil.

Pada kesimpulannya, sebagai seorang pemimpin selain harus jujur dan amanah, juga harus bekerja sesuai hati, tanpa mengharapkan pujian. “Hidup itu bukan untuk pujian, hidup bukan untuk penghargaan. Tapi kalau kita bekerja dari hati, itu (pujian dan penghargaan-red.) akan mengikuti kita sendiri,” terang penerima Government Awards 2016 tersebut. (Deansa)