Revolusi Komunikasi Faktor Persaingan Pasar Begitu Ketat

Desember 19, 2017 oleh : BHP UMY

Revolusi komunikasi yang sedang terjadi saat ini menjadi salah satu faktor timbulnya persaingan bisnis yang begitu ketat. Revolusi komunikasi saat ini menyebabkan perubahan pada proses komunikasi. Tidak hanya manusia yang berkomunikasi namun alat juga berkomunikasi. Hal tersebut tentunya juga mempengaruhi proses yang terjadi di dalam suatu perusahaan. Sebab perusahaan harus melakukan inovasi di bidang sumber daya manusia dan teknologinya agar tetap bertahan.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Warsim, selaku Corporation Planning PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dalam kegiatan CEO Sharing dan Seminar Bisnis bertajuk “Strengthening Bussines Inovation”. Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin (18/12) di Gedung Kasman Singodimedjo Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tersebut diselenggarakan oleh Magister Manajemen UMY.

Dalam pemaparannya, Warsim mengatakan bahwa persaingan pasar yang begitu ketat karena adanya revolusi komunikasi tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi para pelaku bisnis. Dan para pelaku bisnis mau tidak mau harus melihat hal tersebut sebagai peluang. “Jika kita melihatnya sebagai peluang, maka ada kemungkinan bisnis yang dijalankan akan dapat dipertahankan. Sebaliknya, jika kita melihatnya sebagai ancaman, maka perusahaan atau bisnis kita akan tertinggal dan secara perlahan akan gulung tikar,” paparnya.

Selain melihat adanya revolusi komunikasi tersebut sebagai peluang, pelaku bisnis juga perlu melakukan perluasan jaringan. “Pelaku bisnis harus melakukan perluasan jaringan. Khususnya dengan perusahaan yang memiliki kekuatan besar, dan hal tersebut harus dilakukan sekalipun perusahaan yang kita ajak kolaborasi adalah lawan bisnis kita,” ujar Warsim lagi.

Hal senada juga disampaikan Ali Fahmi Al Amrozi, SE., S.Sos selaku Senior Vice President Jaringan dan Ritel PT. POS Indonesia. Ia mengatakan bahwa persaingan bisnis begitu ketat, sehingga perlu melakukan inovasi di berbagai bidang. Khususnya yang menyangkut teknologi, sehingga lebih memudahkan aksesibilitas dari target pelaku bisnis,” ungkap Ali.

Ali juga menyampaikan bahwa lebih dari 50 persen penduduk Indonesia merupakan pengguna teknologi massif. Maka hal yang pasti perlu dilakukan untuk mempertahankan bisnis adalah dengan melakukan inovasi di bidang teknologi, untuk segala macam proses bisnis yang dilakukan. “Selain dari peningkatan inovasi di bidang teknologi, pelaku bisnis juga perlu meningkatkan beberapa aspek lainnya agar bisa tetap bertahan. Ada empat (4) hal yang bisa diadopsi untuk mempertahankan bisnis. 4 hal tersebut yakni inovasi di bidang produk, perluasan jaringan, pemanfaatan teknologi, dan memperbaiki proses manajemen bisnis,” imbuh Ali lagi. (zaki)