Rendahnya Dukungan Industri, Animasi di Indonesia Kurang Greget

Mei 18, 2010 oleh : BHP UMY

Animasi di Indonesia dinilai kurang greget. Hal ini disebabkan animator handal maupun keterampilan animator di Indonesia sudah banyak namun tidak dibarengi dengan dukungan industri animasi.

Demikian disampaikan Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuhdan Aziz, SIP., S.Sn. dalam diskusi terbatas “Animasi dan perkembangannya” yang diselenggarakan Departemen Ilmu Komunikasi UMY di Kampus Terpadu Senin (17/4).

Lebih lanjut Zuhdan menjelaskan, selama ini banyak lulusan yang handal mengenai animasi tetapi industri animasi saat ini masih kurang medukung. Sehingga banyak lulusan yang bingung harus kemana ketika sudah selesai kuliah. “Kemudian saat ini yang terjadi adalah kemampuan atau skill animasi yang melimpah tetapi tidak didukung adanya industri animasi”urainya. Dukungan industri sangat dibutuhkan karena pembuatan animasi tidak dapat dibuat sendiri, pembuatan animasi dibutuhkan dukungan alat-alat yang banyak dan beragam.

Dalam pemaparannya, perkembangan animasi saat ini cukup menarik, dibuktikan animasi banyak dipakai pada iklan. Kemudian film-film layar lebar animasi saat ini juga sudah menjadi box office. “Animasi sudah menjadi fenomena dunia bahkan telah menjadi tren. Selain itu animasi sudah mulai dipahami tidak hanya untuk anak-anak. Sehingga ke depan banyak dibutuhkan animator handal. Karena tidak hanya untuk film tetapi juga iklan.” paparnya.

Terkait dengan prospek mahasiswa yang menekuni animasi menurut Zuhdan, mahasiswa perlu diberikan motivasi. “Memberikan motivasi bahwa dunia animasi yang saat ini sedang dipelajari merupakan dunia yang menarik dan prospeknya bagus. Salah satunya melalui diskusi dengan mendatangkan praktisi dari dari industri animasi yang berpengalaman. Hal ini dilakukan paling tidak nantinya antara teori yang diberikan pada saat kuliah dan praktek bisa lebih klop,”tuturnya.

Kemudian dalam penugasan yang diberikan untuk mahasiswa Zuhdan berharap karya-karya mahasiswa tersebut tidak hanya berhenti di meja penilaian dosen. Tetapi juga dipublikasikan. “Akan lebih baik setiap karya penugasan mahasiswa tidak hanya berhenti di meja dosen untuk mendapatkan nilai semata. Sehingga ketika karya mereka dipublikasikan, mereka akan jadi lebih bersemangat untuk berkarya lebih baik lagi,”paparnya. Karya-karya mahasiswa tersebut juga bisa dipublikasikan melalui media internet maupun diikutsertakan dalam festifal-festifal untuk diadu dengan karya-karya animasi lain.

Zuhdan menegaskan agar animasi di Indonesia kelihatan gregetnya khususnya untuk mahasiswa perlu dibekali dengan skill animasi yang banyak. “Teknik animasi beragam jenisnya sehingga dengan semakin banyak bekal yang diberikan diharapkan mahasiswa menjadi lebih percaya diri dalam berkarya.”tegasnya.