Religiusitas Sumbang Kecenderungan Perilaku Remaja

Oktober 1, 2016 oleh : BHP UMY

img_0007Dewasa ini kenakalan remaja di Indonesia masih meresahkan masyarakat. Kebanyakan remaja berstatus sebagai pelajar adalah individu yang mengalami transisi dari anak-anak menjadi dewasa.  Perubahan ini mendorong remaja untuk mencari jati dirinya, dan akan muncul perubahan perilaku sesuai dengan yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Pada faktor internal, salah satu yang mempunyai sumbangan  paling besar terhadap kecenderungan perilaku remaja adalah adanya nilai religiusitas pada remaja.

“Religiusitas pada diri remaja diasumsikan jika remaja memiliki religiusitas rendah, maka dorongan untuk melakukan perilaku nakalnya tinggi. Sebaliknya semakin tinggi religiusitas maka semakin rendah tingkat dorongan untuk melakukan kenakalan pada remaja. Ini membuktikan bahwa ajaran agama yang dianutnya sebagai tujuan utama hidupnya. Sehingga para remaja tersebut berusaha menginternalisasikan ajaran agamanya dalam perilaku sehari-hari,” ujar Sahrudin saat menyampaikan  hasil penelitian disertasi pada Sidang Promosi Doktor, Sabtu (1/10) di Ruang Sidang Gedung Pascasarjana UMY lantai 4.

Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul “Peran Konsep Diri, Religiusitas, dan Pola Asuh Islami Terhadap Kecenderungan Perilaku Nakal Remaja di SMA Kota Cirebon,” Sahrudin menyebutkan bahwa religiusitas memiliki peran aktif dan menyumbangkan lebih besar terhadap kecenderungan perilaku remaja. “Berdasarkan penelitian kepada 221 siswa dan siswi di salah satu SMA di Cirebon, sumbangan religiusitas pada perilaku kenakalan remaja sebesar 42,35 persen. Sementara itu berdasarkan skala dalam data penelitian lainnya yaitu sumbangan konsep diri sebesar 22, 80 persen, dan pola asuh islami sebesar 9,15 persen. Ini menunjukkan bahwa sumbangan religiusitas terhadap kecenderungan perilaku remaja lebih besar untuk kecenderungan perilaku remaja,” sebutnya.

Sahrudin melanjutkan bahwa adanya sisi religiusitas berfungsi untuk mengikat seseorang dalam hubungan dengan Tuhannya, sesama manusia dan alam sekitarnya. “Religiusitas pada umumnya memiliki aturan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh pemeluknya. Hanya saja perasaan keagamaan dan pemikirannya berbeda-beda menurut tingkat kehidupan dan pendidikan yang menyebabkan mereka menyimpang dari ajaran agama itu sendiri,” paparnya.

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon tersebut menjelaskan lebih lanjut bahwa faktor lain dari pentingnya menanamkan religiusitas pada remaja, Sahrudin menyebutkan rendahnya konsep diri remaja dapat mempengaruhi dorongan kenakalan remaja. “Konsep diri terbentuk dan berkembang berdasarkan pengalaman, interpretasi dari lingkungan, maupun penilaian oranglain. Remaja yang memiliki konsep diri yang positif, akan mampu dan mengatasi dirinya memperhatikan dunia luar, dan mempunyai kemampuan untuk berinteraksi sosial,” jelasnya.

Setelah melakukan penelitian kenakalan remaja pada SMA di Cirebon, Sahrudin berharap dengan adanya sisi religiusitas pada diri pribadi remaja dapat mengurangi kenakalan remaja di Indonesia. “Dalam hal ini dengan adanya religiusitas, nilai-nilai ajaran agama diharapkan dapat mengisi kekosongan batin pada diri remaja. Sehingga selanjutnya remaja dapat menentukan pilihan perilaku yang tepat sesuai dengan norma dan ajaran agama, serta dapat menghindari perilaku yang menyimpang,” harapnya. (hv)