Relevansi Konsep Kebahagiaan Hamka Kepada Manusia Modern di Era Revolusi Industri 4.0

Agustus 12, 2019 oleh : BHP UMY

Kebahagiaan menjadi kebutuhan utama manusia dalam menjalani kehidupan. Setiap orang akan melakukan berbagai macam cara untuk mendapat kebahagiaan. Melihat fenomana tersebut, Wahyudi Setiawan mahasiswa Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam (PPI) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menyusun disertasi dengan judul “Kebahagiaan Menurut Hamka Dalam Tafsir Al Azhar Perspektif Psikologi Pendidikan Islam”.

“Pada kajian penelitian ini, kami menyimpulkan terdapat tingkatan kebahagiaan dalam diri seseorang. Mulai dari kebahagiaan lahir, kebahagiaan batin dan kebahagiaan hakiki. Konsep kebahagiaan Hamka memiliki bagian psikologis, sosial, spiritual dan ruhani yang sesui dengan kebutuhan utama umat manusia,” ujar Wahyudi saat melakukan Sidang Terbuka Promosi Doktor Sabtu (10/8) di Gedung Pascasarjana Kampus Terpadu UMY.

Kemudian Wahyudi juga mengatakan bahwa setiap manusia merasakan kebahagiaan lahir di saat fisiknya mendapat kesenangan sesui dengan sifat masing-masing indera atau bagian fisik. Seperti mata dapat melihat, lidah dapat mengecap dan hidung dapat mencium bebauan harum. Lalu, kebahagiaan batin merupakan kebahagiaan yang dirasakan seseorang di dalam batin yang mencakup wilayah hati dan akal. Orang yang dapat merasakan bahagia batin adalah manusia yang sudah bisa memahami siapa dirinya serta hak dan kewajiban dalam elemen kehidupan. Sedangkan kebahagiaan hakiki merupakan puncak akhir perjalanan panjang kehidupan manusia. Kebahagiaan ini merupakan esensi dari setiap kebahagiaan. Manusia sudah tidak lagi terpengaruh oleh setiap kondisi eksternal dan internal dirinya, karena yang ada hanya bahagia dalam dirinya.

“Konsep kebahagiaan menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar terdapat tiga tingkatan dan kebahagian merupakan kehidupan bagi manusia. Setiap orang yang hidup pasti berjalan menuju kebahagiaan,” imbuhnya.

Penelitian ini memiliki relevansi dengan kehidupan manusia modern yang memasuki Revolusi Industri 4.0. Konsep kebahagiaan Hamka fokus kepada aspek psikologi, spiritual dan rohani. Hal ini sangat berbeda dengan konsep kebahagiaan yang digaungkan oleh “Barat”, dimana kebahagiaan selalu berorientasi kepada harta dan materi.

Untuk itu, Wahyudi berharap dengan adanya penelitian ini dapat berkontribusi kepada kehidupan masyarakat pada umumnya dan keilmuan Psikologi Pendidikan Islam khususnya. “Semoga kita semua bisa memahai arti kebahagiaan dan dapat terus melanjutkan hidup dengan penuh kebaikan,” pungkasnya.(ak)