Rangkum Semua Metode Perhitungan Tanah Ekspansif, Dosen UMY Sabet Penghargaan Internasional

Desember 13, 2018 oleh : BHP UMY

Tanah ekspansif merupakan salah satu jenis tanah yang ada di bumi, berdasarkan perubahan strukturnya. Yang dimaksud tanah ekspansif adalah tanah yang dapat mengalami perubahan volume akibat perubahan kadar air di dalam tanah tersebut. Tak hanya itu, tanah ekspansif juga memiliki dampak negatif pada bangunan yang berada di atasnya. Rumah, gedung bahkan jalan yang dibangun di atas tanah ekspansif akan mengalami kerusakan akibat perubahan volume tanah yang terjadi.

Karena itu, diperlukan metode perhitungan yang tepat untuk mengukur tingkat ekspansif tanah. Agar kerusakan bangunan yang ditimbulkan oleh tanah ekspansif tersebut bisa diminimalisir. Untuk menemukan metode perhitungan yang tepat tersebut, 4 dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pun merangkum lebih dari 50 literatur tentang metode mengukur tingkat tanah ekspansif. Rangkuman dari 50 literatur itu dituangkan dalam paper ilmiah yang berjudul Review of Oedometer Method for predicting Heave on The Expansive Soil. Paper ilmiah yang diketuai oleh Willis Diana, ST., MT, bersama 3 rekannya Agus Setyo muntohar, Anita Widianti, dan Edi Hartono ini juga berhasil meraih penghargaan dalam acara 2nd International Symposium on Civil and Environmental Engineering (ISCEE) di The Federal Kuala Lumpur Malaysia pada 3 hingga 4 Desember kemarin. Sebagai best paper dalam kategori International Conference on Sustainable Construction and Structures (ISuCOS).

Saat ditemui pada Kamis (13/12) Willis Diana, ST., MT mengatakan paper yang ditulisnya bersama ketiga rekannya tersebut bertujuan merangkum semua metode tersebut ke dalam satu paper sehingga dapat memudahkan peneliti lainya untuk menemukan metode yang tepat, guna mengukur tanah ekspansif. “Harapanya atas kemenangan yang didapatkan, paper ini dapat memberikan manfaat pagi para peneliti lainya. Dengan memberikan kemudahan bagi mereka dalam menemukan metode pengukuran tanah ekspansif yang tepat dan menambah wawasan baru bagi masyarakat umum,” ungkapnya.

Willis juga menjelaskan bahwa tanah ekspansif akan mengembang ketika kadar airnya meningkat (basah) dan akan mengerut ketika kadar air menurun (kering). Hal inilah yang kemudian menyebabkan kerusakan pada bangunan di atasnya. “Dalam keadaan tanah yang mengembang, bangunan yang berada di atas tanah tersebut juga akan ikut terangkat. Hal ini menyebabkan bangunan akan retak. Sementara itu, ketika tanah dalam keadaan mengerut maka akan menyebabkan tanah keropos karena berongga. Ini juga yang kemudian mengakibatkan bangunan menopang beban lebih berat sehingga bangunan akan mengalami kerusakan seperti bangunan ambles,” jelasnya.

Terlebih lagi jika mengacu pada data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (BALITBANG PUPR) yang dijelaskan bahwa tingkat tanah ekspansif di Pulau Jawa tergolong tinggi, mulai dari Banten hingga Jawa Timur. Walaupun kerugian akibat tanah ekspansif di Indonesia belum setinggi di negara maju seperti Amerika, yang kerugian akibat tanah ekspansif melebihi kerugian akibat tornado. Namun Willis juga menyampaikan untuk tetap memperhatikan permasalahan tanah ekspansif ini. Karena selain bangunan, jalan-jalan tol yang melewati tanah ekspansif di Pulau Jawa juga banyak sekali.

Akan tetapi hal tersebut dapat diminimalisir dengan melakukan pengecekan jenis tanah terlebih dahulu sebelum mendirikan bangunan atau jalan tol. Yaitu dengan menghitung seberapa besar kenaikan permukaan tanah dan tekanan yang ditimbulkan oleh tanah ekspansif. “Setelah mendapatkan data mengenai besarnya kenaikan dan tekanan yang ditimbulkan oleh tanah ekspansif, kita bisa mengelola sistem pembuangan massa air secara alami maupun buatan (drainase) di lingkungan sekitar secara efisien. Dengan cara mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air, serta dengan memberikan jarak antara sistem tersebut dengan pemukiman rumah. Dan metode yang paling tepat untuk mengukur tingkat tanah ekspansif itu adalah dengan menggunakan prosedur constant volume oedometer,” ujar Willis.

Willis juga menyampaikan pada masa penelitiannya ia menemukan bahwa masyarakat di Indonesia pada umumnya kerap mengabaikan hal tersebut terutama ketika membangun rumah. Padahal ini merupakan hal yang penting untuk diperhatikan bagi keamanan keluarga. “Ada masyarakat Indonesia yang kurang waspada, terkadang bangun rumah dulu baru cek jenis tanah. Padahal pemerintah sudah memiliki aturan rumah dua tingkat itu harus menyertakan jenis tanah jika ingin diberikan Izin Mendirikan Bangunan (IBM),” ungkapnya. (pras)