Publikasi Penelitian di Indonesia Mengalami Penurunan Setiap Tahunnya

September 28, 2015 oleh : BHP UMY

IMG_9484

Jumlah penduduk Indonesia dan jumlah Universitas di Indonesia sangat banyak jumlahnya, namun dengan banyaknya jumlah yang ada ini tidak sesuai dengan jumlah research atau penelitian yang dilakukan para akademisi di Indonesia. Tentunya ini menjadi sebuah boomerang bagi Indonesia dalam hal sistem pendidikannya. “Menurut penelitian yang ada, di ASEAN tahun 2013 jumlah paper (hasil penelitian) di Indonesia sebanyak 4.500 paper dengan jumlah penduduk sebanyak 24 juta jiwa, sedangkan Malaysia sebanyak 23.000 paper dengan jumlah penduduk sebanyak 20 juta jiwa. Dengan data yang disebutkan tersebut dapat diartikan bahwa jumlah paper di Indonesia mengalami penurunan. Untuk itu perbandingan yang tak sebanding ini, seharusnya para pendidik di Indonesia diberikan perhatian khusus dalam hal membuat penelitian dan paper agar lebih ditingkatkan lagi, “ papar Muhammad Ali, Ph. D selaku Associate Professor, University of California, Riverside, USA dalam memberikan Public Lecture terkait dengan “How to Develop Research and Publication” pada hari Senin (28/9) di R. Ampitheater Gedung Pasca Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Masalah yang sering muncul, tambah lelaki asal Bandung – Jawa Barat ini, biasanya terkait dengan publikasi, sebenarnya banyak makalah yang dibuat namun yang dipublikasikan sangat sedikit. Padahal jika ditelusuri lebih dalam Indonesia ini memiliki banyak hal yang bisa dibahas atau isu yang bisa dijadikan sebuah penilitian, sehingga akan ada isu-isu baru yang sangat menarik. “Dalam hal ini saya menarik kesimpulan bahwa, jika dari segi kuantitas Indonesia sangat kalah jauh dibanding dengan negara ASEAN lainnya. Namun, jika dalam segi kualitas, paper di Indonesia masih dikatakan baik dan masih bisa diperdebatkan. Bahkan di Malaysia kualitasnya tidak begitu baik, tapi mereka mampu mempublikasikan papernya dalam jumlah yang banyak, “ tambahnya.

Meskipun di Indonesia memiliki kekurangan dalam hal publikasi namun, di sisi lain Indonesia juga memiliki kelebihan. “Misalnya dalam segi linguistic, Indonesia memiliki kemampuan yang baik dibandingkan dengan orang Amerika. Orang Amerika hanya memahami 1 bahasa tapi orang Indonesia memiliki kemampuan 4 bahasa, antara lain Indonesia, Arab, Inggris, dan bahas daerah. Jika dalam level aktif masih baik namun, dalam level pasif khususnya akademik writing masih kurang. Dari segi SDM Indonesia juga sangat kaya, dibandingkan dengan Amerika yang masih sangat kurang jumlah SDM-nya. Dari segi topik, Indonesia memiliki banyak isu yang bisa diangkat untuk bahan penelitian yang menarik. Dan yang paling menarik adalah dari segi manuscript tua yang ada di beberapa daerah. Tapi masih banyak peneliti-peneliti di Indonesia kurang memberikan ketertarikan untuk meneliti yang berkaitan dengan sejarah, “ terang Dosen sekaligus peneliti di University of California, Riverside, USA ini lagi.

Namun meski demikian ada yang perlu disyukuri, jelas Muhammad Ali, bahwa Indonesia masih memiliki banyak kesempatan untuk memperbaiki semuanya. “Saat ini saja sudah banyak Universitas di Indonesia yang mampu memanej penelitiannya sendiri. Selain itu, sudah banyak Universitas di Indonesia yang melakukan program exchange dengan Universitas luar negri. Terakhir, saat ini kemajuan teknologi di Indonesia juga dapat membantu dalam hal melakukan penelitian. Namun, terkadang kemajuan teknologi ini ada sisi positif dan negatifnya. Negatifnya misalnya terjadinya plagiator, bahkan aksi plagiat di Amerika juga banyak terjadi, untuk itu kemajuan teknologi ini harus dimanfaatkan dengan baik, “ jelasnya.

Muhammad Ali pun menambahkan, untuk mempermudah agar para akademisi di Indonesia bisa menerbitkan dan mempublikasikan hasil penelitiannya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan salah satunya, Universitas di Indonesia harus memperbaiki sistem birokrasi yang ada. “Bahkan bukan hanya Univeristasnya saja namun, sistem pendidikan di Indonesia birokrasinya harus diperbaiki. Karena, menurut pengamatan saya sistem birokrasi yang ada di Indonesia ini terlalu berbelit-belit. Seharusnya, jika ingin melakukan penelitian itu dipermudah bukan dipersulit, sehingga tidak ada hambatan, “ imbuhnya.

Selain memperbaiki sistem birokrasi, lanjutnya Muhammad lagi, ada 3 hal yang perlu dilakukan. “Pertama, membangun mentalitas ilmiah, karna sifat masyarakat Indonesia yang komsumtif dan user oriented, maka nantinya akan mengurangi mentalitas ilmiah. Kedua, memperluas dan menambah jaringan research untuk mempermudah melakukan penelitian. Ketiga, memperkuat kolaborasi antar mahasiswa dan dosen untuk saling melakukan pendampingan dalam melakukan research atau pembuatan paper, karena menurut saya ini sangat bisa saling membantu,“ tutupnya.