PTM Perlu Kembangkan Model Pembelajaran Bahasa Inggris Berstandar Internasional

Januari 5, 2015 oleh : BHP UMY
Lilly

Dr. Willy A Renandya saat menyampaikan materi di depan peserta workshop Teaching Learning PTM se-Jawa di Ruang Mini Teater PPB UMY

Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) perlu mengembangkan model pembelajaran bahasa Inggris dengan mengacu pada standar internasional. Pengembangan yang perlu dilakukan tersebut mencakup pembaharuan kurikulum dan metode mengajar. Hal ini sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas mahasiswa serta lulusan pendidikan bahasa Inggris di PTM seluruh Indonesia.

Demikian disampaikan Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa (FPB) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Jati Suryanto, S.Pd., M.A saat menghadiri Workshop Teaching Learning Strategies Dosen FPB yang dihadi​ri oleh 11 Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Jawa. Acara ini bertempat di Ruang Mini Teater Pusat Pelatihan Bahasa (PPB) UMY, Senin (5/01).

Jati mengungkapkan bahwa selama ini prodi pendidikan bahasa Inggris memang belum banyak mengacu pada model pembelajaran berstandar internasional. Dirinya mencontohkan UMY dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), sekalipun model pembelajaran bahasa Inggrisnya sudah cukup bagus, namun masih mengacu pada standar yang ditetapkan oleh dikti. “Sementara itu, untuk meningkatkan kualitas mahasiswa dan lulusannya, prodi bahasa Inggris perlu lebih meningkatkan model pembelajarannya dengan standar internasional. Agar pembelajaran bahasa Inggris yang didapatkan dari perkuliahan bisa digunakan oleh mahasiswa dengan baik, ketika mereka terjun langsung ke ranah internasional,” ungkapnya.

Karena itulah, lanjut Jati, diadakan workshop Teaching Learning Strategis tersebut. Selain untuk merumuskan dan mengembangkan model pembelajaran bahasa Inggris di PTM berstandar internasional, juga untuk menyusun kurikulum bahasa Inggris yang juga mengacu pada standar internasional. “Sehingga pola pendidikan bahasa Inggris yang ada di PTM bisa lebih meningkat. Kualitas mahasiswa dan lulusan pendidikan bahasa Inggris juga akan ikut meningkat. Dan saya harap, dengan pengembangan model pembelajaran dan kurikulum berstandar internasional tersebut nantinya juga dapat bermanfaat bagi mahasiswa yang bukan jurusan PBI tapi ingin belajar bahasa Inggris dengan baik,” lanjutanya.

Selain itu, Jati juga menambahkan bahwa dalam workshop yang akan diselenggarakan hingga Rabu (7/1) ini juga akan diisi oleh dosen-dosen dari Center for English Language Communication (CELC) National University of Singapore (NUS). Mereka nantinya akan memberikan pengarahan dan informasi terkait manajemen Pendidikan Bahasa di NUS. NUS juga dipilih sebagai narasumber dalam kegiatan ini karena dipandang cocok sebagai contoh dari Pendidikan Bahasa tingkat internasional.

“Kegiatan ini sebenarnya telah disiapkan selama 2 tahun oleh Assosiation of English Department. Sebelumnya kegiatan workshop yang dilakukan hanya sebatas menyampaikan informasi mengenai metode pengajaran kepada mahasiswa. Sedangkan untuk workshop kali ini, akan lebih fokus pada bagaimana menyusun kurikulum Pendidikan Bahasa yang sesuai dengan standar kampus-kampus yang sudah berstandar internasional. Dan pematerinya akan disampaikan oleh NUS, karena menurut kami, NUS ini cocok dijadikan rujukan,” ujarnya.

Kegiatan ini, menurut Jati juga didukung atas kerjasama Temasek Foundation (TF) dan PBI UMY sebagai pelaksana kegiatan. Temasek sendiri merupakan lembaga yang melaksanakan pelatihan-pelatihan kepada tenaga pengajar di luar negeri. Akan tetapi dalam kegiatan ini, Temasek tidak hanya sebagai pelaksana tapi juga sebagai penyandang dana dari seluruh rangkaian kegiatan yang akan berlangsung selama 2 tahun sampai tahun 2016 ini.

Sementara itu, Dosen CELC NUS Dr. Willy A Renandya, dalam workshop tersebut menyampaikan tentang cara efektif dosen dalam mengajar. Menurutnya, dosen tidak harus terus menerus memberikan materi di depan kelas, tapi juga harus bisa membangun komunikasi dua arah seperti mengajak mahasiswa berbicara dengan suasana santai. “Dalam menyampaikan materi-materi perkuliahan, baik itu di dalam maupun di luar kelas, tetap harus menghidupkan komunikasi 2 arah antara dosen dan mahasiswa. Misalnya seperti mengajak mahasiswa-mahasiswa berbicara dengan suasana santai,” ungkapnya.

Rencananya workshop selama 5-7 Januari 2014 ini akan disampaikan oleh dosen-dosen dari NUS, diantaranya Assoc Prof. Wu Siew Mei (Director CELC), Ms. Susan Tan (Deputy Director CELC), Dr. Willy A Renandya (Senior Lecturer National Institute of Education-Singapore), Dr. Gene Segarra Navera (Lecturer CELC), Ms. Happy Goh (Senior Lecturer CELC), Dr. Radhika Jaidev (Senior Lecturer CELC). (Shidqi)